Rabu, 13 September 2017

Pendidikan, Membangun Metode Berpikir

Pendidikan, Membangun Metode Berpikir

Hasanudin Abdurakhman
Kompas.com - 14/09/2017, 09:48 WIB
 http://edukasi.kompas.com/read/2017/09/14/09481451/pendidikan-membangun-metode-berpikir
Kebijakan 8 jam belajar di sekolah dipertanyakan sejumlah pengamat pendidikan.
Kebijakan 8 jam belajar di sekolah dipertanyakan sejumlah pengamat pendidikan.(M LATIEF/KOMPAS.com)
Anak saya yang baru masuk kelas 1 SMA mengeluh soal pelajaran dan guru di sekolahnya. “Guru tidak menjelaskan, cuma menyuruh kami belajar sendiri, lalu dia memberi kami soal-soal untuk diselesaikan,” keluhnya. Apa yang terjadi dengan sekolah? Konon, ini pola belajar berdasarkan kurikulum 2013.
Entahlah, apa benar demikian atau tidak. Saya tidak melakukan kajian sistematis soal kurikulum. Namun selama mendampingi anak-anak saya belajar, saya perhatikan ada beberapa masalah pada buku-buku pelajaran mereka. Masalahnya adalah, sering adanya lompatan dalam materi pelajaran.
Prinsip belajar adalah bertahap. Setelah paham sesuatu, pelajar dibawa ke tahap selanjutnya. Tanpa memahami sesuatu yang merupakan pendahuluan, sulit untuk memahami materi di tahap berikutnya. Untuk memahami perkalian, misalnya, pelajar harus paham dulu soal penjumlahan. Tanpa pemahaman itu, mustahil dia paham soal perkalian.
Keluhan anak saya, dia belajar soal vektor dalam pelajaran fisika. Tapi gurunya tidak memberi penjelasan soal definisi sinus dan cosinus yang dipakai untuk menjelaskan vektor. Kata gurunya, itu materi yang harus didapat dalam pelajaran matematika. Sementara pelajaran matematika belum sampai ke materi itu.
Akibatnya anak-anak bingung. Bukan hanya anak-anak saya. Teman-temannya bingung semua. Saya jelaskan materinya pada anak saya. Lalu teman-temannya tertarik untuk ikut belajar pada saya.
Keluhan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Saya sendiri pernah mengalami masalah serupa, yaitu tidak paham materi pelajaran karena penjelasan guru kurang memadai. Apakah ini masalah kurikulum? Tidak selalu. Bahkan sama sekali bukan.
Guru adalah raja di kelasnya. Ia bukan hamba kurikulum. Maka ia tak boleh gagal menjelaskan hanya karena dibatasi oleh kurikulum. Kurikulum itu bukan kitab suci yang harus diikuti kata per kata. Ia hanya panduan besar. Guru boleh keluar dari situ, untuk membangun pemahaman bagi pelajarnya.
Masalahnya, banyak guru yang tidak paham. Banyak yang tidak paham materi yang harus ia ajarkan. Atau, tak paham bagaimana menjelaskannya. Ada banyak guru yang bertahun-tahun bertahan dalam ketidakpahaman. Ia tak berusaha membangun pemahaman bagi dirinya sendiri. Itulah salah satu sebab gagalnya pendidikan kita.
Pendidikan pada dasarnya bukan sekadar soal mengajarkan pengetahuan. Dalam hal fisika, misalnya, bukan soal bagaimana agar para pelajar paham hukum-hukum fisika. Para pelaku pendidikan sering gagal memahami itu. Fokus mereka pada materi pelajaran. Bagaimana menyampaikan materi pelajaran. Bagaimana membuat anak-anak mampu menyelesaikan soal tes.
Jadi, kalau tidak paham, hafalkan saja. Termasuk hafalkan saja cara menyelesaikan soal. Kalau soalnya begini, cara menyelesaikannya begini. Ganti rumus ini dengan angka ini, nanti hasilnya ini.
Situasi itu jauh dari maksud pendidikan. Kita tak mengajari anak-anak kita tentang fisika dengan harapan agar mereka semua jadi ahli fisika. Demikian pula dengan matematika, dan pelajaran lain. Bagian terpenting dari semua pelajaran itu adalah membangun metode berpikir, dengan menjalani prosesnya.
Dalam setiap pelajaran ilmu alam sebenarnya diperkenalkan topik tentang metode ilmiah. Tentang bagaimana pengetahuan tentang sesuatu diperoleh, bagaimana sesuatu diselidiki lalu disimpulkan. Sayangnya, bagian ini pun sering kali hanya menjadi bagian hafalan dalam pelajaran. Ia tidak menjadi fondasi dalam proses belajar selanjutnya.
Tahapan dalam materi pelajaran pada dasarnya disusun untuk membangun metode berpikir. Sepanjang masa belajar para pelajar digembleng untuk menjalani proses berpikir, dilatih untuk berpikir, membangun metode berpikir. Karena itu materi pelajaran tidak sekadar soal isi teori, tapi juga membahas bagaimana teori itu dibangun. Pada teori atom, misalnya, tidak langsung meloncat pada isi teorinya, tapi juga membahas bagaimana sejarah perumusan teori itu.
Sebagian besar anak-anak kita kelak tidak akan bekerja dengan memakai teori atom atau Hukum Newton. Kalau materi pelajaran yang menjadi prioritas, yakinlah bahwa itu akan sia-sia, karena akhirnya tidak akan dipakai dalam hidup. Tapi kalau proses berpikir yang dilatihkan, maka proses itu akan menjadi pola yang melekat sampai kapan pun. Itu akan berguna dalam banyak kesempatan sepanjang hidup.
Para orang tua dan guru harus selalu menyegarkan kembali kesadaran mereka soal ini. Agar mereka tidak tenggelam dalam kesesatan, mengejar target materi, lupa membangun proses berpikir. Ketika harus menjelaskan sesuatu yang pendahuluannya belum dipahami anak-anak, mutlak bagi guru untuk membangun pemahaman soal pendahuluan itu. Kalau tidak, ia tidak sedang membangun metode berpikir.

Jumat, 01 September 2017

PENDIDIKAN TAK KENAL BATAS USIA

PENDIDIKAN TAK KENAL BATAS  USIA


Nenek 91 Tahun Raih Gelar Sarjana di Thailand

Kompas.com - 10/08/2017, 16:41 WIB
Kimlan Jinakul mengaku otaknya selalu siap untuk belajar pada usia 91 tahun.
Kimlan Jinakul mengaku otaknya selalu siap untuk belajar pada usia 91 tahun.(BBC)
BANGKOK, KOMPAS.com - Mimpi seorang nenek berusia 91 tahun dari Phayao, Thailand utara, menjadi kenyataan setelah ia menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1.
Pada Rabu (9/8/2017), sang nenek, Kimlan Jinakul, mengikuti acara wisuda bersama ribuan mahasiswa lain, yang semuanya jauh lebih muda dibandingkan dirinya.
Kimlan Jinakul diwisuda dan mendapat gelar sarjana dari Universitas Terbuka Sukhothai Thammathirat setelah menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun untuk belajar.
Ia mengambil studi pembangunan manusia dan keluarga.
"Tidak pernah terlambat untuk belajar... pikiran saya selalu bangun untuk belajar," tuturnya tentang motto yang ia pegang teguh selama ini.
Baca: Satu Jam Usai Melahirkan, Perempuan Ini Ikut Ujian Sarjana
Pertambahan usia dan kematian putrinya tidak menghambat Kimlan Jinakul mewujudkan mimpi, tekad dan komitmennya.
Kimlan tertarik mengambil kuliah di Universitas Terbuka Sukhothai Thammathirat University ketika usianya sudah 72 tahun ketika salah seorang putrinya kuliah di universitas yang sama.
Namun sang putri kemudian meninggal dunia dan Kimlan berhenti kuliah selama beberapa tahun.
Untuk mengatasi kepedihan hatinya, Kimlan akhirnya meneruskan kuliah pada usia 85 tahun dengan mengambil bidang yang sama, studi pembangunan manusia dan keluarga, yang diyakininya akan membantunya menjalani hidup berkualitas dan penuh kebahagiaan.
"Setelah pulih dari kesedihan dan kehilangan putri saya, saya mendorong diri sendiri untuk menyelesaikan program studi ini dengan harapan roh putri saya senang," ungkapnya kepada BBC Bahasa Thailand.



Satu Jam Usai Melahirkan, Perempuan Ini Ikut Ujian Sarjana

 http://internasional.kompas.com/read/2016/08/15/19074121/satu.jam.usai.melahirkan.perempuan.ini.ikut.ujian.sarjana
Kompas.com - 15/08/2016, 19:07 WIB
Ilustrasi kehamilan(SHUTTERSTOCK)
PATNA, KOMPAS.com - Kisah yang terjadi di India ini menggambarkan kegigihan seseorang menyelesaikan jenjang pendidikannya di saat yang sangat sulit.
Seorang perempuan, yang baru saja melahirkan bayinya bersikukuh untuk tetap menjalani ujian akhir untuk meraih gelar sarjana pendidikan.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (13/8/2016), ketika Ranju Kumari merasakan tanda-tanda akan melahirkan beberapa jam sebelum ujian akhirnya digelar di Muzaffarpur, negara bagian Bihar
Alhasil, Ranjun terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk melahirkan anak keduanya.
Hanya sekitar satu jam setelah melahirkan, Ranjun bersikukuh untuk tetap hadir di ruang ujian.
Awalnya dokter tak mengizinkan perempuan itu pergi dalam kondisi masih lemah usai melahirkan, tetapi Ranjun memaksa dan akhirnya para dokter tak bisa menahannya.
Dia lalu dibawa dengan menggunakan ambulans ke gedung tempat ujian digelar. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Ranjun tiba beberapa saat setelah ujian dimulai.
Melihat tekad Ranjun yang sangat besar, pengawas ujian, Mamta Rani mengizinkan Ranjun mengikuti ujian meski datang terlambat.
Ranjun akhirnya mengerjakan soal ujian di dalam ambulans sambil ditemani seorang pengawas.
"Kami sangat mengagumi niatnya untuk menuntut ilmu. Dia adalah bukti bahwa kesadaran perempuan akan pentingnya pendidikan sudah bertambah," ujar Mamta Rani.



Pria 86 Tahun Ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi di China

 

 http://internasional.kompas.com/read/2015/06/09/19450581/Pria.86.Tahun.Ikut.Ujian.Masuk.Perguruan.Tinggi.di.China
Kompas.com - 09/06/2015, 19:45 WIB
Akibat usianya yang lanjut, Wang Xia (86) harus dipapah seorang polisi dan sopirnya saat akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.(Daily Mail)
BEIJING, KOMPAS.com — Seorang pria tua berusia 86 tahun yang selalu bermimpi menimba ilmu di perguruan tinggi kembali mengikuti ujian masuk universitas untuk kali ke-15, sejak pertama mengikuti ujian pada 1949.Wang Xia, asal kota Nanjing, di wilayah timur China, terus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sejak 2001, sejak pemerintah menghapus batasan usia untuk masuk universitas. Antara 1950-an dan 1960-an, Wang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sebanyak empat kali, dan sayangnya dia gagal pada empat kesempatan itu.
Meski selalu gagal dalam ujian masuk universitas yang dijalaninya, Wang mengatakan bahwa dia selalu melakukan persiapan matang dan berharap mendapat hasil baik serta keberuntungan pada setiap ujian yang diikutinya.
Foto Kakek Wang yang tiba di ruang ujian pada Minggu (7/6/2015) diunggah ke dunia maya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang di daratan China. Wang diyakini menjadi peserta tertua ujian masuk universitas atau gaokao tahun ini, yang diikuti lebih dari sembilan juta remaja setiap tahun.
Akibat usianya yang sudah sangat senja, Wang harus dipapah sopirnya dan seorang polisi untuk memasuki ruang ujian. Meski demikian, dia mengaku sangat siap mengikuti ujian tahun ini.
"Saya sudah mempersiapkan diri dengan matang kali ini. Saya tidak gugup dan akan melakukan yang terbaik," ujar Wang.
Wang enggan menjawab jurusan apa yang akan diambilnya di universitas. Dia hanya berkata, keputusan diambil setelah mengetahui hasil ujian masuk kali ini.
Apa alasan Wang bersikukuh ingin kuliah? Wang mengatakan, meski selama empat dekade mempelajari ilmu medis, pasiennya tak percaya dengan kemampuannya karena dia tak memiliki gelar kedokteran.
Pada 2007, Universitas Kedokteran Nanjing menganugerahkan gelar honoris causa kepada Wang. Namun, kakek renta ini bersikukuh, dia tak akan beristirahat hingga mendapatkan gelar sarjana sesungguhnya.
Sang sopir yang menjemput Wang untuk berangkat ke lokasi ujian mengatakan, kesehatan pria tua itu menurun selama beberapa tahun terakhir hingga Wang akhirnya harus berjalan dengan bantuan tongkat.
"Dia mengatakan kepada saya bahwa, secara mental, dia tak setajam tahun lalu, dan kini dia menjalani pantangan untuk sejumlah makanan. Namun, dia terus belajar dan terus ikut ujian masuk universitas," ujar sopir itu.

EditorErvan Hardoko
SumberDaily Mail


Jumat, 22/12/2017 19:10 WIB
 
https://wolipop.detik.com/read/2017/12/22/190900/3782276/1133/inspiratif-nenek-dan-cucu-lulus-kuliah-bersama-dengan-nilai-ipk-tinggi?_ga=2.137838256.1492049487.1520208423-828947653.1518244677

Inspiratif, Nenek dan Cucu Lulus Kuliah Bersama dengan Nilai IPK Tinggi

Rahmi Anjani - wolipop
Inspiratif, Nenek dan Cucu Lulus Kuliah Bersama dengan Nilai IPK Tinggi Foto: ist
Jakarta - Seiring bertambahnya usia biasanya orang jadi lebih malas untuk kembali ke bangku kuliah. Namun tidak untuk nenek ini. Di usianya yang ke-62, Belinda Berry berhasil mendapatkan gelar S1. Menariknya, Belinda lulus kuliah di hari yang sama dengan sang cucu. Hal tersebut pun menjadi momen unik, membanggakan, dan inspiratif.

Belinda dan cucunya, Karae Berry sama-sama kuliah di Chicago State University. Namun mereka memilih jurusan yang berbeda. Belinda belajar bisnis sedangkan Karae mengambil jurusan peradilan pidana. Keduanya sama-sama mulai masuk universitas pada 2010 namun tidak menyangka akan lulus berbarengan.

Belinda dan Karae tentu bangga dan senang bisa wisuda bersama. Apalagi Belinda merupakan orang yang penting bagi Karae karena turut membesarkan wanita 25 tahun itu sejak kecil. Momen nenek dan cucu yang lulus kuliah berbarengan ini juga menjadi spesial pertama kalinya terjadi dalam sejarah universitas.

"Membuat dia bangga sementara dia membuatku bangga adalah hal yang sangat keren," kata Karena kepada People.

Punya nenek yang masih semangat kuliah tentu membanggakan. Namun hal tersebut kadang juga bisa menyebalkan di saat bersamaan. Itu dikarenakan Karae jadi tidak bisa bolos kuliah. "Aku seperti, 'Oh Tuhan, tidak. Nenekku ada di kampus meneriakkan namaku? Dia akan bilang 'Bukannya seharusnya kamu ada di kelas?'" ungkap Karea.

Kesamaan di antaranya mereka pun tidak berakhir sampai di sini. Kedua wanita tersebut mengaku akan melanjutkan pendidikan S2 di universitas yang sama. Untuk Karea, ia berencana mengambil jurusan konseling kesehatan dan berharap menjadi polisi. Sedangkan Belinda yang lulus SMA di tahun 1970 berencana ingin membuka butik.

"Aku juga ingin menjadi inspirasi bagi orang muda dan tua. Kamu bisa meraih apapun yang kamu mau berapapun umurmu," tutur Belinda.

Belinda dan Karea pun sama-sama mahasiswa berprestasi. Sang nenek lulus dengan nilai IPK 3,8 dan si cucu menerima IPK 3,4.

(ami/kik)