KOMPAS.com – Baru saja
generasi milenial atau generasi Y mengguncang dunia, kini generasi baru
di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Genarasi Z ditandai dengan ciri digital. Pola interaksi mereka lebih banyak melihat gambar daripada membaca. Karana itu cara mendidiknya harus disesuaikan yakni dengan lebih nayak menyajikan tontonan agar bisa menjadi tuntutnan bagi mereka.Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Lahir di Era Digital,
Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...
Haris Prahara
Kompas.com - 27/03/2018, 12:49 WIB
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(SHUTTERSTOCK)
KOMPAS.com – Baru saja generasi milenial atau generasi Y mengguncang
dunia, kini generasi baru di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Lahir di Era Digital,
Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...
Haris Prahara
Kompas.com - 27/03/2018, 12:49 WIB
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(SHUTTERSTOCK)
KOMPAS.com – Baru saja generasi milenial atau generasi Y mengguncang
dunia, kini generasi baru di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-zArtikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
KOMPAS.com – Baru saja
generasi milenial atau generasi Y mengguncang dunia, kini generasi baru
di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
KOMPAS.com – Baru saja
generasi milenial atau generasi Y mengguncang dunia, kini generasi baru
di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Lahir di Era Digital,
Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...
Haris Prahara
Kompas.com - 27/03/2018, 12:49 WIB
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(SHUTTERSTOCK)
KOMPAS.com – Baru saja generasi milenial atau generasi Y mengguncang
dunia, kini generasi baru di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
KOMPAS.com – Baru saja
generasi milenial atau generasi Y mengguncang dunia, kini generasi baru
di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
KOMPAS.com – Baru saja
generasi milenial atau generasi Y mengguncang dunia, kini generasi baru
di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
KOMPAS.com – Baru saja
generasi milenial atau generasi Y mengguncang dunia, kini generasi baru
di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Lahir di Era Digital,
Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...
Haris Prahara
Kompas.com - 27/03/2018, 12:49 WIB
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(SHUTTERSTOCK)
KOMPAS.com – Baru saja generasi milenial atau generasi Y mengguncang
dunia, kini generasi baru di bawahnya mulai muncul ke permukaan.
Generasi baru tersebut dikenal sebagai generasi Z. Mereka adalah anak
muda yang lahir pada era 2000-an. Itu artinya, saat ini mereka tengah
berproses sebagai seorang remaja.
Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki
karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X
(baby boomers).
Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat.
Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya.
Sebanyak 74 persen generasi Z mengakses gawai sedikitnya satu jam per
hari. Persentase itu lebih besar dibandingkan generasi Y (66 persen) dan
generasi X (55 persen).
Ekses dari kondisi di atas adalah remaja kekinian itu kurang gemar
membaca. Mereka lebih suka menyerap informasi dalam bentuk visual,
misalnya konten video pendek.
Survei Millward Brown mendapati generasi Z menyukai video pendek
berdurasi 10 detik, lebih singkat 50 persen dibandingkan generasi X yang
masih mampu menyerap video berdurasi hingga 20 detik.
Nah, untuk bisa mengimbangi penetrasi digital generasi “gadget”
tersebut, selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara
didiknya. Tak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih
kekinian!
Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola
pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap
pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, Senin
(6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z
senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang
dimilikinya.
Ilustrasi generasi Z
Ilustrasi generasi Z(THINKSTOCK/bowie15)
Karena itulah, ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan hanya
mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat
terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.
Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar
cenderung dilaksanakan satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka
ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru.
Di titik tersebut, perangkat teknologi memegang peran krusial sebagai
sumber pengajaran interaktif. Terlebih lagi, saat ini mulai hadir sarana
pengajaran berbasis teknologi. Misalnya, Samsung Smart Learning Class.
Dalam program itu, setiap siswa dan guru dilengkapi dengan perangkat
teknologi untuk memudahkan proses pengajaran. Kelas pun dirancang
terkoneksi dengan jaringan internet.
Adapun siswa menjadi fokus utama dalam aktivitas belajar-mengajar di
kelas sedangkan guru lebih berperan sebagai pendamping agar penggunaan
teknologi tepat guna.
Melalui metode tersebut, niscaya generasi Z bakal semakin mudah dalam
menyerap materi pelajaran, baik matematika, sains, maupun mata pelajaran
lainnya. Dengan begitu, generasi Z pun semakin dekat dalam menggapai
impian masa depannya!
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lahir di Era Digital, Begini Jurus Jitu Mendidik Generasi Z...", https://edukasi.kompas.com/read/2018/03/27/12493221/lahir-di-era-digital-begini-jurus-jitu-mendidik-generasi-z.
Penulis : Haris Prahara
Editor : Sri Noviyanti