Senin, 27 Desember 2021

METAVERSE

METAVERSE

Sumber:

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5873562/ramai-dibicarakan-di-sosmed-ini-sejarah-metaverse-dari-pakar-unair?tag_from=wp_nhl_4


Jakarta - Istilah Metaverse ramai dibicarakan di berbagai media sosial utamanya Twitter. Hal tersebut dikarenakan klaim Mark Zuckerberg yang mengatakan Metaverse adalah dunia masa depan.
Metaverse sendiri adalah gabungan dari aspek virtual reality (VR), augmented reality (AR), media sosial, dan cryptocurrency yang bertujuan agar pengguna dapat berinteraksi dalam realitas digital.

Pakar Kajian Media Universitas Airlangga (Unair) Rachman Ida menjelaskan jika Metaverse adalah perkembangan dari konsep yang telah ada sebelumnya.

"Konsep Metaverse bukan benar-benar baru, sebab pada tahun 2003 sudah ada dunia virtual bernama Second Life yang menawarkan adanya konsep virtual community yang dibuat dengan maksud menghubungkan orang tanpa harus bertemu secara langsung," ujar Ida yang dikutip dari laman Unair.

Keberhasilan Second Life sendiri sudah terlihat saat perusahaan sekelas International Business Machine Corporation (IBM), serta ratusan perusahaan lainnya saling mendirikan kantor virtual di sana.

"Sedangkan di dunia pendidikan, Stanford, MIT, Monash mencoba membuat virtual campus yang dibangun menggunakan Second Life," jelas Guru Besar bidang Kajian Media pertama di Indonesia tersebut.

Walaupun populer di luar negeri, virtual world sendiri belum mendapatkan perhatian khusus di hati masyarakat Indonesia. Untuk mengenalkan virtual world kepada mahasiswa, Ida menyuruh mahasiswa S2 Media dan Komunikasi Unair agar membuat akun dan berkelana di Sim City dan Second Life.

"Kendalanya ya tetap di infrastruktur karena membutuhkan kapasitas komputer yang sangat besar, dan internet yang memadai," ujar Ida.

Ida berpendapat agar teknologi Metaverse juga tetap didukung oleh infratruktur dan jaringan internet yang stabil.

"Harus didukung oleh infrastruktur dan jaringan yang established. Kalau internet sebagai jalurnya saja tidak stabil, akan susah untuk ikut serta dalam Metaverse," kata Ida.

Ida menjelaskan teknologi Second life, SimCity, bahkan Metaverse sebenarnya terinpirasi dari novel-novel science fiction seperti Frankenstein, Snow Crash, dan Ready Player One.

"Disitu media realitas virtual dijadikan medium melarikan diri atau escape dari dunia yang sedang mengalami kondisi mengerikan dan menakutkan," kata Ida.

Walaupun begitu, Second Life dan Sim City memiliki perbedaan yang signifikan dengan platform karya Mark Zuckerberg.

"Metaverse adalah pengembangan dari konsep-konsep virtual world yang pernah ada," ujar Ida.

Ida menjelaskan jika Metaverse dapat diterima dengan target pasar tertentu di Indonesia. Seperti kalangan muda urban yang terbisa dengan kecanggihan teknologi, memiliki pendapatan ekonomi, dan suka mencoba hal baru.

Mereka yang memiliki kriteria tersebut akan menjadi pengadopsi inovasi atau early adopter Metaverse.

"Lalu, untuk kalangan yang tidak melek teknologi, terus mungkin juga tidak ada resources, dan masih menggunakan konsep gemeinschaft dan gesselschaft meskipun teknologi digital sudah maju, nantinya akan sulit untuk ikut serta dalam inovasi media ini," ujar Ida.


Baca artikel detikedu, "Ramai Dibicarakan di Sosmed, Ini Sejarah Metaverse dari Pakar Unair" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5873562/ramai-dibicarakan-di-sosmed-ini-sejarah-metaverse-dari-pakar-unair.




Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Kamis, 04 November 2021

Transformasi Pendidikan Mulai Menggeliat, tapi Belum Optimal

 Transformasi Pendidikan Mulai Menggeliat, tapi Belum Optimal

Hasanuddin Wahid Sekjen PKB Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Anggota Komisi X DPR-RI.

https://www.kompas.com/edu/read/2021/11/05/091452071/transformasi-pendidikan-mulai-menggeliat-tapi-belum-optimal?page=all#page6



Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Transformasi Pendidikan Mulai Menggeliat, tapi Belum Optimal", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2021/11/05/091452071/transformasi-pendidikan-mulai-menggeliat-tapi-belum-optimal?page=all#page6.

Editor : Heru Margianto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Transformasi Pendidikan Mulai Menggeliat, tapi Belum Optimal", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2021/11/05/091452071/transformasi-pendidikan-mulai-menggeliat-tapi-belum-optimal?page=all#page6.

Editor : Heru Margianto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L


SELAMA masa pandemi Covid-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ristek dan Teknologi (Kemendikbud) bekerja ekstra keras melalui sejumlah terobosan agar roda kegiatan Pendidikan terus begulir secara baik dan berkualitas. Ketika pandemi merebak Kemendikbud merespons dengan mengucurkan Dana BOS Afirmasi dan BOS Kinerja, serta memberikan bantuan subsidi upah kepada 1.634.832 PTK PAUD, Pendidikan Dasar dan Penidikan Menengah, 374,836 PTK Pendidikan Tinggi, dan 48.000 pelaku budaya dan seni. Selanjutnya, berdasarkan basis data portal Rumah Belajar, total pengguna baru Rumah Belajar pada tahun 2020 sebanyak 7,79 juta dengan pengunjung portal Rumah Belajar sebanyak 105,532 juta. Upaya transformatif Memasuki tahun 2021, Kemendibud menghadirkan transformasi pendidikan melalui empat strategi. Pertama, pembangunan infrastruktur dan teknologi. Kedua, penguatan kebijakan, prosedur, dan pendanaan. Ketiga, penguatan kepemimpinan, masyarakat, dan kebudayaan. Keempat, penguatan kurikulum, pedagogi, dan asesmen. Keempat strategi tersebut dijalankan melalui delapan program prioritas yang dikaitkan dengan konsep Merdeka Belajar. Pada bidang, pembiayaan pendidikan, Kemendikbud menerbitkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dengan target 1,095 juta mahasiswa, KIP Sekolah dengan target 17,9 juta siswa, layanan khusus pendidikan masyarakat dan kebencanaan dengan target 42.896 sekolah, tunjangan profesi guru dengan target 363 ribu guru, dan pembinaan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), dan bantuan pemerintah kepada 13 SILN dan 2.236 lembaga. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Untuk program digitalisasi sekolah dan medium pembelajaran, Kemendikbud megembangkan empat sistem penguatan platform digital, delapan layanan terpadu Kemendikbud, kehumasan dan media, 345 model bahan ajar dan model media pendidikan digital, serta penyediaan sarana pendidikan bagi 16.844 sekolah. Di bidang pembinaan peserta didik, prestasi, talenta, dan penguatan karakter, Kemendikbud menciptakan tiga layanan pendampingan advokasi dan sosialisasi penguatan karakter, pembinaan peserta didik oleh 345 pemerintah daerah, serta peningkatan prestasi dan manajemen talenta kepada 13.505 pelajar. Di bidang SDM, Kemendikbud meloloskan 173.329 guru honorer menjadi ASN, mendidik 19.624 guru penggerak, menyertifikasi 10.000 guru dan tenaga kependidikan, merekrut guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di 548 pemerintah daerah, mengembangkan sistem penjaminan mutu, dan memperkenalkan manajemen Sekolah Penggerak kepada 20.438 orang guru. Kemendikbud juga melakukan peningkatan kurikulum dan asesmen nasional serta melakukan pelatihan kurikulum baru kepada 62.948 guru dan tenaga kependidikan, pendampingan dan sosialisasi implementasi kurikulum dan asesmen di 428.957 sekolah, mengembangkan 4.515 model kurikulum dan perbukuan, dan akreditasi dan standar nasional pendidikan di 94.912 lembaga. Dalam revitalisasi pendidikan vokasi, Kemendikbud akan merevitalisasi 900 SMK yang berbasis industri 4.0, mengembangkan percepatan link and match dan kemitraan dengan 5.690 orang dan 250 dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Berkenaan dengan Kampus Merdeka, Kemendikbud mendukung pencapaian indeks kinerja utama (IKU) bagi 75 PTN (BOPTN), competitive fund dan matching fun bagi PTN dan PTS, pengembangan kualitas SDM, peningkatan kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan sehingga tercipta 50 ribu mahasiswa berwirausaha 400 ribu mahasiswa Kampus Merdeka, 660 program studi terkait inovasi pembelajaran digital, serta pengembangan kelembagaan perguruan tinggi. Kemendikbud juga mengelola setidaknya 11 sumber belajar yaitu portal bersama hadapi korona, rumah belajar, tv edukasi, pembelajaran digital oleh Pusdatin dan SEAMOLEC, guru berbagi, LMS Siajar, aplikasi daring untuk paket A, B, C, membaca digital, suara edukasi, tatap muka daring melalui program SAPA DRB, dan program belajar dari rumah. Kemendikbud juga meluncurkan ICE Institute agar kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui e-learning dapat diakses mahasiswa dari Sabang sampai Merauke. Pencapaian yang belum optimal Sudah penjadi pengetahuan umum, bahwa pendidikan Indonesia berkutat dengan beberapa masalah pokok klasik seperti jumlah guru berkualitas yang sedikit, sarana dan prasarana yang kurang memadai, bahan pembelajaran yang minim, mutu pendidikan yang rendah, kurangnya keberpihakan kepada kaum minoritas difabel, dan tingginya biaya sekolah/kuliah. Terkait enam persoalan pokok tersebut tampak bahwa pencapaian Kemendikbud sebagaimana dikemukakan di atas belum cukup optimal. Contoh, di bidang SDM masih ada 1, 5 juta guru honorer yang memperoleh gaji jauh di bawah UMR. Pada level pendidikan dasar dan menengah Kemendikbud mengklaim telah meningkatkan kualitas sekitar 50 ribu orang (19.624 guru penggerak, menyertifikasi 10.000 guru dan tenaga kependidikan, merekrut guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di 548 pemerintah daerah, memperkenalkan sistem penjaminan mutu sekolah penggerak kepada 20.438 orang guru). Jika Kemendikbud hanya mampu meningkatkan kualitas SDM sekolah sebanyak 50 ribu per tahun maka perlu waktu 60 puluh tahun untuk membuat tiga jutaan guru yang dibutuhkan di sekolah menjadi berkualitas. Sementara di tingkat perguruan tinggi, Kemendikbud hanya mampu meningkatkan SDM atas 5.225 orang di 994 satuan pendidikan. Padahal, menurut data Dikti 2018, Indonesia memiliki 242.440 dosen, 34.933 di antaranya masih berkualifikasi S-1. Artinya, perlu waktu 7 tahun untuk meningkatkan kualitfikasi dosen S1. Langkah digitalisasi memang mutlak perlu di era digital ini. Namun, yang juga mutlak dilakukan adalah perbaikan sarana dan prasarana pendidikan yang rusak. Data Kemendikbud terakhir menyebutkan, ruang kelas yang rusak di sekolah negeri seluruh Indonesia bertambah 26 persen atau 250.000 unit dalam satu tahun terakhir. Bahan pembelajaran berbasis teknologi digital juga sangat dibutuhkan saat ini. Namun, bahan pembelajaran berupa buku tetap wajib disediakan karena sebagian besar peserta didik belum memiliki perangkat teknologi digital dan belum punya akses ke jaringan internet. Hingga akhir 2020, siswa SD yang mengakses internet baru 35,97 persen, SMP/sederajat menjadi 73,4 persen, SMA/sederajat 91,01 persen, dan perguruan tinggi 95,3 persen. Soal biaya sekolah dan kuliah, Kemendikbud memang telah menyediakan Dana Bos, dan KIP. Namun masalahnya tidak hanya pada minimnya kemampuan membayar para siswa dari keluarga miskin, tapi pada penetapan biaya kuliah yang sangat tinggi oleh pihak sekolah dan kampus perguruan tinggi. Belajar dari negara yang sukses menata pendidikan Transformasi pendidikan Indonesia memang merupakan suatu yang sangat penting dan mendesak untuk meningkatkan daya saing SDM Indonesia di tingkat global. Upaya tersebut harus bertitik tolak dari masalah-masalah pokok yang dihadapi Indonesia. Selain itu perlu ada landasan hukum. Jadi, upaya transformasi pendidikan melalui revisi UU Sidiknas No 20 Tahun 2003 dan peta jalan pendidikan yang jelas dan terarah perlu menjadi prioritas. Transformasi pendidikan juga mengandaikan kolaborasi yang massif dengan Lembaga/kementerian terkait supaya bisa berjalan simultan dan selaras. Sejatinya, kebutuhan akan UU Sidiknas yang baru dan peta jalan pendidikan harus selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar. Gagasan pokoknya adalah memberikan kemerdekaan bagi sekolah/ kampus untuk mencari jalan terbaik agar peserta didik bisa mengembangkan potensinya melalui pembelajaran yang fleksibel sehingga mampu mengembangkan kepribadian berkarakter unggul dengan hard skills, soft skills, life skills,dan network yang mumpuni. Artinya pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tapi juga pengembangkan nilai-nilai kemanusian universal kejujuran, keadilan, inklusif dan nilai-nilai agama dan kearifan budaya lokal. Untuk menyusun peta jalan pendidikan yang baik, Indonesia perlu belajar dari beberapa negara yang dikenal sukses menata pendidikannya seperti Finlandia, Estonia, Jerman, Singapura dan Taiwan. Pada tahap awal kita perlu, misalnya, menetapkan secara tegas apakah kita mau menerapkan sistem pendidikan secara terpusat (sentralisasi) seperti Singapura dan Taiwan, atau sebaliknya sistem terdesentralisasi dengan tanggung jawab utama pada pemerintah daerah seperti Estonia, Finlandia, dan Jerman? Meskipun berbeda sistem, negara-negara bekinerja tinggi dalam sistem pendidikan tersebut memiliki beberapa faktor umum yang sama. Contoh, mereka juga sangat fokus pada investasi untuk peningkatan kualitas guru secara massif. Pengambil kebijakanan negara itu percaya, ketika guru sangat terampil maka sekolah dapat diberikan otonomi yang lebih besar untuk memodifikasi kurikulum dan mengembangkan model pembelajaran yang inovatif (David Greatbatch - Sue Tate, 2019; Linda Darling-Hammond, 2010). Mereka juga membebaskan para guru dari kegiatan adminstratif dan memberi para guru upah yang layak dengan kenaikan berbasis kinerja. Otoritas pendidikan di negara-negara tersebu juga fokus pada penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang baik sambil melengkapinya dengan teknololgi digital yang terus dibarui, Lalu, dalam hal pendanaan, mereka tak hanya mengandalkan APBN, tetapi melakukan kombinasi pendanaan yang berasal dari anggaran pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota serta dukungan perusahaan atau organisasi amal. Strategi serupa ternyata telah diterapkan di tingkat negara bagian atau provinsi di Australia, Selandia Baru, dan Kanada dengan skor tinggi. Provinsi seperti Hong Kong dan Makau di Cina juga melakukan hal yang sama dengan hasil positif. Fokus dan komprehensif Perlu di catat, survei Programme for International Student Assessment (PSA) 2018 menyebutkan bahwa sektor pendidikan masih rapuh karena rendahnya jumlah siswa berprestasi, persentase siswa mengulang kelas yang masih tinggi (16 persen), dan masih tingginya ketidakhadiran siswa di kelas. Kemendikbud tampaknya belum menaruh perhatian khusus atas tiga masalah tersebut. Padahal, mengacu pada survei PISA, Presiden Jokowi sendiri menargetkan jumlah siswa berprestasi rendah dapat ditekan hingga kisaran 15-20 persen pada 2030. Ia pun mendorong Kemendikbud untuk melakukan perbaikan menyeluruh baik pada aspek regulasi, anggaran infrastruktur, manajemen sekolah, kualitas guru, hingga beban administratif guru. Nah, apabila Kemendikbud fokus dan berada pada frekuensi yang sama dengan Presiden Jokowi, maka niscaya transformasi pendidikan akan berbuah lebih optimal lagi. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Transformasi Pendidikan Mulai Menggeliat, tapi Belum Optimal", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2021/11/05/091452071/transformasi-pendidikan-mulai-menggeliat-tapi-belum-optimal?page=all#page6.

Editor : Heru Margianto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Selasa, 26 Oktober 2021

20 Quotes Hari Sumpah Pemuda yang Cocok Dijadikan Caption Media Sosial

20 Quotes Hari Sumpah Pemuda yang Cocok Dijadikan Caption Media Sosial

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5783446/20-quotes-hari-sumpah-pemuda-yang-cocok-dijadikan-caption-media-sosial


Baca artikel detikedu, "20 Quotes Hari Sumpah Pemuda yang Cocok Dijadikan Caption Media Sosial" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5783446/20-quotes-hari-sumpah-pemuda-yang-cocok-dijadikan-caption-media-sosial.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Jakarta - Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Momen ini menjadi pengingat bagi anak muda untuk berjuang dan berkontribusi untuk bangsa.


Hari Sumpah Pemuda bukan hanya sejarah penting yang harus diingat bagi generasi muda, tapi harus diambil nilainya untuk diteruskan di masa mendatang. Seperti nilai perjuangan, semangat berkarya, pantang menyerah dalam hidup dan sebagainya.


Untuk mengingat nilai-nilai itu, beberapa tokoh dunia juga pernah memiliki kata-kata atau quotes berharga bagi anak muda. Quotes ini bisa dijadikan penyemangat untuk Hari Sumpah Pemuda dan dibagikan di media sosial, lho.

Baca juga:
Sumpah Pemuda: Sejarah, Isi Teks, dan Quotes Inspiratif Kobarkan Semangat

Quotes siapa saja yang dimaksud? Berikut ini 20 quotes hari sumpah pemuda yang cocok dijadikan caption media sosial.


1. Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan, terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga - Gus Dur, Tokoh Muslim Bangsa Indonesia


2. Generasi Milenial harus memiliki penguasaan ilmu yang lebih lengkap dibanding Bapak dan Kakaknya. Terutama atas perkembangan teknologi, sistem keuangan dunia, akuntansi global di segala bidang, serta menanamkan militerisme patriotik terhadap dirinya sendiri - Cak Nun, Tokoh Intelektual Bangsa Indonesia


3. Jangan belajar untuk menjadi kaya saja. Tapi belajarlah menjadi ahli - Film 3 Idiots


4. Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri - Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan


5. Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi - Soe Hok Gie, Aktivis.


6. Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa - Seno Gumira Ajidarma, Penulis dan Ilmuwan Sastra


7. Dimanapun engkau berada jadilah yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kau berikan - BJ Habibie, Ilmuwan dan Presiden RI ke-3


8. Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali - Tan Malaka, Pahlawan Nasional.


9. Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki - Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat.


10. Pemuda masa silam menggelorakan kehendak bersatu, hari ini rayakanlah Indonesia tanpa ragu - Najwa Shihab, Jurnalis.


11. Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk? - Najwa Shihab, Jurnalis


12. Tidak selalu perlu menjadi kuat, tapi merasa kuat. Kamu dapat melakukan apa pun. Kamu bisa pergi ke mana saja. Uang, kekuasaan adalah ilusi - Christopher McCandless, Film Into The Wild


13.Indonesia dapat menjadi negara maju yang dibanggakan rakyatnya dan disegani bangsa lain karena Indonesia memiliki generasi muda yang selalu ingin belajar dan ingin maju, yang haus akan prestasi dan memiliki daya juang yang tidak pernah luntur - Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI


14. Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa diperbaiki dengan pengalaman, namun tidak jujur itu sulit diperbaiki - Bung Hatta, Wakil Presiden RI Pertama dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia


15. Kamu tidak pernah gagal sampai kamu berhenti mencoba - Albert Einstein


16. Dalam berbicara seseorang harus tetap berpikiran jernih, hingga dapat mencetuskan ide-ide unggul dan berakhir dengan kemenangan - Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pendidikan Bangsa Indonesia


17. Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya. Kamulah yang membiarkannya datang. - R.A Kartini, Tokoh Bangsa


18. Ikrarkanlah ikrar sumpah pemuda dengan hati dan anggota badan yang akan menjadi bukti dan raihlah kemerdekaan Indonesia yang sejati.- Soekarno, Presiden Pertama RI dan Pemikir Bangsa

Baca juga:
Makna Tema dan Logo Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021

19. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka. - Soekarno, Presiden Pertama RI dan Pemikir Bangsa


20. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. - Soekarno, Presiden Pertama RI dan Pemikir Bangsa



Baca artikel detikedu, "20 Quotes Hari Sumpah Pemuda yang Cocok Dijadikan Caption Media Sosial" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5783446/20-quotes-hari-sumpah-pemuda-yang-cocok-dijadikan-caption-media-sosial.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/ 

 Mengenal 6 Jenis Kecerdasan Manusia, Kamu Termasuk yang Mana?

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5784086/mengenal-6-jenis-kecerdasan-manusia-kamu-termasuk-yang-mana?tag_from=wp_nhl_6




Baca artikel detikedu, 

Mengenal 6 Jenis Kecerdasan Manusia, Kamu Termasuk yang Mana?" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5784086/mengenal-6-jenis-kecerdasan-manusia-kamu-termasuk-yang-mana.



Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Jakarta - Setiap manusia dilahirkan dengan kecerdasan berbeda-beda. Kecerdasan itu bisa dikenali dari kemampuan-kemampuan diri yang menonjol, seperti kemampuan verbal, visual, musikal, dan lain-lainnya.

Menurut peneliti dan dosen Kognisi dan Pendidikan Sekolah Pascasarjana Pendidikan Harvard University, Howard dan Elisabeth, tidak ada orang yang tidak cerdas, karena setiap individu adalah unik.


Artinya setiap orang bisa diidentifikasi memiliki kecerdasan tersendiri. Hal itu tidak bisa disamaratakan atau dibandingkan dengan yang lainnya.

Baca juga:
Ada 13 Kebiasaan Unik Orang Cerdas, Pemalas Termasuk?

Merangkum laman instagram resmi Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar), berikut ini 6 jenis kecerdasan manusia.


6 Jenis Kecerdasan Manusia:

1. Kecerdasan Linguistik

Jenis kecerdasan yang pertama ada kecerdasan linguistik. Kecerdasan ini berkaitan erat dengan kata-kata, baik lisan maupun tertulis. Orang yang memiliki kecerdasan linguistik cenderung pintar mengolah kata.


Selain itu, mereka juga punya sensitivitas yang baik terhadap suara, makna, dan ritme kata-kata.


2. Kecerdasan Visual-Spasial

Seperti namanya, orang yang memiliki kecerdasan ini memiliki kecakapan dalam urusan visual. Seperti kemampuan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, dan patung.


Orang dengan kecerdasan spasial-visual juga punya kemampuan untuk berpikir dalam rupa gambar dan foto, untuk memvisualisasikan pikirannya secara abstrak dan akurat.


3. Kecerdasan Musikal

Orang yang pintar dalam bermusik cenderung memiliki kecerdasan spesifik seperti musikal ini. Mereka memiliki kemampuan menangkap bunyi-bunyian, membedakan, menggubah, dan mengekspresikan diri melalui bunyi-bunyi atau suara-suara yang bernada dan berirama.


4. Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik terkait dengan kemampuan dalam menggunakan gerak seluruh tubuh. Kecerdasan ini sanggup mengekspresikan ide dan perasaan, serta keterampilan mempergunakan tangan untuk mencipta atau mengubah sesuatu.


Orang dengan kecerdasan kinestetik juga mampu mengontrol gerak tubuh untuk mengatasi sebuah objek dengan baik, misalnya pemain bola mengendalikan bolanya.


5. Kecerdasan Logis-Matematis

Selanjutnya ada orang dengan kecerdasan logis matematis. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika.


Orang dengan kecerdasan logis-matematis memiliki kemampuan untuk berpikir secara konseptual, dan punya kapasitas untuk membedah pola numerik dan logika.

Baca juga:
17 Tanda Anak Jenius Menurut Mensa, Salah Satunya Humoris

6. Kecerdasan Naturalis

Jenis kecerdasan naturalis mengacu pada kemampuannya mengenali dan mengklasifikasikan hal-hal di alam, serta peka terhadap alam dan lingkungan.


Orang dengan kecerdasan ini juga memiliki kecenderungan suka merawat alam atau menyukai segala hal yang alami.


Nah, itulah 6 jenis kecerdasan manusia yang bisa dikenali untuk memaksimalkan potensi diri. Kalau detikers termasuk yang mana?


Baca artikel detikedu, "Mengenal 6 Jenis Kecerdasan Manusia, Kamu Termasuk yang Mana?" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5784086/mengenal-6-jenis-kecerdasan-manusia-kamu-termasuk-yang-mana.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Senin, 21 Juni 2021

KAMPUS MERDEKA

 KAMPUS  MERDEKA


Opini kompas




Oleh Budi Widianarko

Guru Besar Unika Soegijapranata; Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi Aptik; Trustee United Board for Christian Higher Education in Asia


"  Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Roh ”Universitas”

https://web.whatsapp.com/




Tergerusnya otonomi dosen muncul sebagai salah satu isu yang mengemuka dalam Diskusi Asosiasi Pendidikan Tinggi Katolik (Aptik) yang bertajuk ”Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM):

Dari Filosofis hingga Praktis” di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (7/5/2021).

Para dosen sudah bukan lagi satu-satunya penentu muatan, mutu, dan pelaksanaan kurikulum di

perguruan tinggi (PT). Mereka harus merelakan sebagian kekuasaannya diambil alih oleh para pihak yang berkepentingan terhadap pendidikan tinggi, terutama mereka yang menguasai dunia kerja, yaitu pemerintah, kalangan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), dan kelompok masyarakat lain.

MBKM seolah muncul sebagai terapi kejut untuk mengembalikan otonomi PT untuk lepas dari rezim pendidikan tinggi yang kaku akibat saratnya aturan. Pemberianhak kepada mahasiswa untuk belajar di luar program studinya selama tiga semester, misalnya, dapat dipandang sebagai prakarsa menjebol sekat dan dinding PT. Asumsi yang dipakai adalah jika sebelumnya rezim pendidikan tinggi begitu kaku dan tidak lentur, kini segenap pelaku utama ditantang untuk menjadi lentur atau adaptif jika tidak mau terlempar dari sistem. Dengan kata lain, PT sudah harus siap kehilangan hegemoni akademiknya.

Meskipun punya watak pragmatis dan simplistis, seperti menafikan keberagaman akses atas sumber daya antar-PT yang tersebar di Nusantara dan DUDI yang lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sangat jelas kebijakan MBKM mengadopsi model PT kolaboratif (collaborative university). Menurut konsep ini, PT hanya akan dapat bertahan dan terus relevan jika membuka pintu bagi keterlibatan pemangku kepentingan eksternal dalam proses akademik.

Terlepas model mana pun yang dipilih, harus dipastikan bahwa roh ”universitas” (Latin) tidak terkoyak karena ia adalah sari pati (essence) sebuah PT. Dua model Charles Heckscher dan Carlos Martin-Rios (2013) menyindir bahwa modus operandi PT yang sudah dipraktikkan selama lebih dari seribu tahun harus diubah. Sudah terlalu lama para aktor utama PT (baca: dosen) mengandalkan asumsi bahwa mereka adalah profesional yang bekerja dalam suatu dunia yang kompleks dan sarat misteri—yang tidak dipahami oleh pihak luar—sehingga mereka hanya dapat dinilai oleh para sejawatnya saja.

Dalam ungkapan yang lebih keras, Piotr Zamojski (2020) menyebut bahwa hanya ada dua kondisi PT saat ini, mati atau kritis. Disebut kritis karena PTsaat ini berada di bawah tekanan dan kehilangan nilai serta relevansinya. PT hanya bertahan hidup dengan segala kerapuhannya.Krisis yang dialami oleh PT saat ini merupakan imbas dari transformasi dunia yang lebih luas. Hampir semua ranah di dunia saatini semakin dipaksa tunduk pada logika ekonomi. PT akhirnya dikerdilkan menjadi sekadar lembaga pe-

nyedia jasa (service). Mengikuti logika ini, pendidikan tinggi dalam bidang ilmu apa pun adalah sebuah produk yang khas (distinctive) dan menjadi komoditas dengan nilai pasar yang diharapkan lebih tinggi daripada biaya produksinya. Nilai tambah adalah kata kuncinya. Mengutip Slaughter dan Leslie (1997),

Zamojski lebih lanjut menyebut bahwa yang terjadi adalah penjajahan pendidikan oleh logika ekonomi yang berkelindan dengan kapitalisasi pengetahuan

serta komersialisasi riset. Kondisi ini

memaksa PT untuk memastikan akun-

tabilitas dalam proses ”produksi”-nya.

Untuk itu, rezim pendidikan tinggi ke-

mudian menghadirkan birokratisasi,

proseduralisasi, dan yuridifikasi (bure-

aucratisation, proceduralisation, and ju-

ridification) atas kegiatan akademik da-

lam PT.

Penerapan standardisasi yang berla-

pis-lapis pada ber-

bagai kegiatan

akademik para

dosen dan ma-

hasiswa bertu-

juan untuk

memastikan

keefektifan

proses akade-

mik yang ada.

Pendekatan ini di-

kenal sebagai model

birokratis-administratif untuk ”usaha”

(enterprise) akademik yang menjanjikan

perbaikan efisiensi dan daya tanggap

(responsiveness) PT. Model yang ber-

fokus pada efisiensi, konsistensi, dan

pengendalian ini terbukti mencekik

”leher” PT karena memunculkan be-

ban administrasi yang menggu-

nung.

Alternatif untuk model

birokratis-administratif

adalah model PT ko-

laboratif. Esensi dari

model kolaboratif

ini adalah kerelaan

PT membuka pintu

dan merendahkan

dinding untuk

mengundang se-

genap pemangku

kepentingan, baik

internal maupun eksternal, terlibat da-

lam penentuan tujuan dan proses aka-

demik. Meskipun begitu, model ini cu-

kup berhasil diterapkan di dunia bisnis.

Mungkin atas dasar itu pulalah gagasan

Menteri Nadiem Makarim tentang MB-

KM bermula.

Dalam model kolaboratif, yang men-

jadi prinsip utama bukanlah otonomi,

melainkan saling ketergantungan. Di sa-

tu sisi, pendekatan kolaboratif tampak-

nya lebih sesuai untuk proses produksi

dan pertukaran ilmu pengetahuan da-

ripada model birokratis-administratif.

Di sisi lain, model kolaboratif ber-

lawanan dengan dua prinsip tradisional

PT, yaitu otonomi profesional dan peng-

aturan mandiri (self-governance). Peng-

ambilan keputusan dalam model kola-

boratif melibatkan lebih banyak orang,

mewakili berbagai pemangku kepen-

tingan. Untuk tercapainya konsensus

tentu diperlukan lebih banyak waktu.

Sudah bisa dibayangkan transisi dari

model birokratis-administratif ke model

kolaboratif tidak akan berlangsung be-

gitu saja. Tentu ada dinamika yang se-

dang berlangsung di ”dapur pacu” Di-

rektorat JenderalPendidikanTinggi saat

ini, antara penyokong model birokra-

tis-administratif dan model kolaboratif.

Jika dinamika tarik-menarik di antara

kedua model ini berlangsung berla-

rut-larut, dunia pendidikan tinggi akan

tersandera.

Roh ”universitas”

Munculnya dua model, kolaboratif

dan birokratis-administratif, bertumpu

pada asumsi bahwa PT telah di ambang

kematian atau setidaknya sulit bera-

daptasi dengan lingkungannya.

Kedua model itu oleh penganjurnya

masing-masing diyakini mampu meng-

hindarkan pendidikan tinggi dari ke-

terpurukan. Yang harus dipastikan ada-

lah model mana pun yang dipilih hen-

daknya tidak mengoyak roh pendidikan

tinggi. Roh pendidikan tinggi atau yang

dikenal sebagai ”universitas” (Latin)

adalah sari pati sebuah PT.

Jangan sampai hanya demi memas-

tikan kesesuaian PT dengan tuntutan

pragmatis DUDI, kita harus melupakan

roh ”universitas”. Sari pati sebuah PT

adalah universitas magistrorum et scho-

larium—komunitas dosen dan mahasis-

wa. Sebagai sebuah komunitas pem-

belajar (community of learners), sejatinya

PT terbentuk oleh praksis, bukan oleh

struktur kelembagaan.

”Universitas” menggambarkan kegi-

atan tertentu yang dibuat sekelompok

orang dan dijalankan dengan cara ter-

tentu pula. Komunitas kampus meng-

hidupkan roh ”universitas” setiap kali

mereka belajar, mengajar, menyeleng-

garakan seminar dan konferensi, praksis

yang membentuk sari pati sebuah PT.

Dalam rumusan lain, roh ”univer-

sitas” muncul saat orang berkumpul

karena benar-benar tertarik untuk

mempelajari sesuatu yang memikat per-

hatian mereka, hingga mereka melu-

pakan status, posisi, peran, kekayaan

(Piotr Zamojski, 2020). Roh ”univer-

sitas” membawa warga kampus seolah

menghilang dari dunia ramai dan men-

curahkan perhatian sepenuhnya pada

apa yang menarik untuk dipelajari.

Saat roh ”universitas” hadir penuh

dalam komunitas kampus, terwujudlah

kesukacitaan belajar (the joy of learning).

Jika semua kampus mampu mencip-

takan ruang dan suasana yang memung-

kinkan segenap dosen dan mahasiswa

larut dalam kesukacitaan belajar, ke-

bijakan pendidikan tinggi mana pun

yang dipilih tak terlalu menjadi soal.