PENDIDIKAN DAN REVOLUSI 4.0
Revolusi4.0 ditandai dengan 3 hal, yaitu big data (maha data), cloud computing (komputasi awan) dan internet of things ( segala sesuatu serba internet)
Jumat, 27 September 2019
Rabu, 27 Maret 2019
10 Negara Terbaik Dalam Pendidikan
negara-terbaik-dalam-pendidikan-masa-depan-bagaimana-indonesia
https://edukasi.kompas.com/read/2019/03/28/11024111/10-negara-terbaik-dalam-pendidikan-masa-depan-bagaimana-indonesia
Top 10 Negara Pendidikan Terbaik di Dunia! Belajar Dari Mereka
Soal pendidikan, semua orang tentu ingin berkiblat pada negara dengan pendidikan terbaik di dunia.
Kali ini Finansialku akan membahas tentang top 10 negara pendidikan terbaik di dunia. Apa saja negara-negara tersebut?
Rubrik Finansialku

Pentingnya Pendidikan dan Proses Belajar yang Berkualitas
Pendidikan adalah suatu proses berubahnya perilaku sebagai bentuk pembelajaran secara formal maupun non formal.
Pendidikan dan proses belajar dimulai sejak dalam kandungan hingga meninggal. Istilah ini dikenal sebagai Pendidikan Sepanjang Hayat atau PSH.
Karena pendidikan adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi perkembangan seorang anak, maka kualitas proses ini juga signifikan.
Jika kualitas pendidikan baik maka hasilnya bisa berhasil. Sebaliknya, jika kualitas pendidikan buruk maka hasilnya pun akan gagal baik dari segi nilai maupun pencapaian.
Ada berbagai ranah yang dikembangkan dalam pendidikan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga ranah ini akan menjadi lebih maksimal apabila pendidikan formal di sekolah bekerja sama dengan lingkungan serta keluarga.
Namun, seperti apa input dan output dari suatu pendidikan terbaik? Mari kita ulas jawabannya dengan mengintip 10 negara berikut ini!
Pendidikan menjadi salah satu kebutuhan pokok yang tidak boleh sampai dilewatkan. Namun, biaya pendidikan yang kian naik dari tahun ke tahun banyak dikeluhkan oleh para orangtua.
Tapi tenang saja, dapatkan tips dan trik lengkap soal biaya pendidikan dan strategi menyiapkan dana pendidikan dengan men-download ebook Finansialku secara gratis!
Bagaimana Caranya Menyekolahkan Anak dari TK sampai Sarjana, Tanpa Utang!
Donwload dan bantu sang buah hati menggapai cita-citanya!
Top 10 Negara Pendidikan Terbaik di Dunia
Beberapa negara memiliki sistem pendidikan yang maju bahkan berhasil mengantarkan masyarakatnya menuju peradaban lebih baik.
Indonesia harus banyak belajar dari negara-negara dengan kualitas pendidikan yang baik tersebut.
Berikut ini adalah 10 daftar negara dengan kualitas pendidikan tertinggi baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik:
#1 Finlandia
Beberapa tahun terakhir, Finlandia menduduki urutan pertama dalam kancah pendidikan.
Namun karena sistem perkuliahan yang sudah tidak digratiskan, maka bukan tidak mungkin ada kemunduran dari negara ini.
Ada beberapa hal yang perlu dicontoh dari Finlandia yaitu tidak ada ujian dan PR yang memberatkan anak-anak sehingga mereka bisa belajar dengan lebih semangat.

[Baca Juga: Bingung! Pilih Sekolah Swasta atau Sekolah Negeri?]
#2 Inggris
Pemerintah Inggris mengharuskan adanya kebijakan umur anak untuk memulai pendidikan dasar mulai dari 5 sampai 10 tahun. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki kebijakan di usia 6 tahun.
Namun, bisa jadi materi pembelajarannya tidak sulit dan cenderung menyenangkan sehingga anak-anak lebih banyak dilatih sosialisasinya dengan teman sebaya.
#3 Belanda
Negara yang pernah menjajah Indonesia ini menjadi salah satu negara maju di bidang pendidikan karena sistem subsidi tinggi untuk bayi hingga anak-anak usia sekolah.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan atau yang lebih sering disebut Menteri Marja van Bijsterveldt memberikan banyak program untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan dana cukup besar.

[Baca Juga: Gila! Utang Uang Sekolah atau Student Loan di Amerika Mencapai US$1,3 Triliun. Kenapa Sekolah Aja Ngutang?]
#4 Polandia
Pendidikan di Polandia menjadi salah satu ranah bisnis yang menguntungkan bagi para pengusaha.
Namun, layanan yang diberikan juga sangat tinggi sehingga hasilnya pun berkualitas. Tidak heran jika negara tersebut mendapat peringkat ke-4 dari seluruh negara Eropa.
#5 Irlandia
Irlandia mempunyai sistem pendidikan yang lebih mirip dengan Indonesia. Pasalnya, anak-anak tidak wajib bersekolah mulai dari usia 6 tahun.
Sebagai gantinya, sekitar 65% dari para balita mulai usia 4 tahun latihan di kelas dasar seperti TK.
Pendidikan di Irlandia juga dibekali dengan sistem terarah yang memaksimalkan kerja sama orangtua serta guru. Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK pun bisa diakomodasi pendidikannya secara inklusif.

#6 Kanada
Tidak hanya kinerja pemerintah yang bersemangat dalam pengambilan keputusan penting tentang pendidikan di Kanada.
Negara yang terletak di bagian Utara Benua Amerika ini juga menyesuaikan kalender pendidikan antara 180 sampai 190 hari. Jadi, kualitas siswa maupun mahasiswa di Kanada lebih produktif dan siap berkompetisi.
#7 Jepang
Sejak zaman kerajaan di masa lalu, Jepang memang selalu menjunjung tinggi etika terutama pada seorang guru.
Tidak heran jika saat ini banyak mahasiswa Indonesia atau guru asal negara kita yang diberi beasiswa untuk riset di Jepang.
Bahkan Pendapatan Domestik Bruto atau PDB jepang mencapai US$5,96 triliun atau setara dengan Rp89,2 kuadriliun sebagai hasil pendidikan berkualitas terbaik.

#8 Korea Selatan
Tidak hanya di bidang hiburan, Korea Selatan saat ini menempati urutan pertama pada beberapa survei dan penelitian terkait pendidikan.
Hal ini bisa jadi disebabkan oleh etos kerja tinggi dan perubahannya yang memang signifikan selama 3 abad terakhir sejak tidak berperang lagi melawan Korea Utara.
Hal yang unik dari etos kerja negeri ginseng ini adalah pemberlakuan 7 hari kerja sehingga cukup memforsir seseorang dengan semangat rendah.
#9 Hong Kong
Pemerintah di Hong Kong menerapkan sistem pendidikan mirip dengan Inggris. Jadi, tidak heran jika angka buta huruf sangat rendah di sana dan ketercapaian sadar membaca mencapai 94,6%.
Perkembangan teknologi pun kian menunjang pendidikan di Hong Kong pada sekolah-sekolah percontohan.

[Baca Juga: Kenali Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Sebelum Merencanakan Dana Pendidikan]
#10 Singapura
Negara tetangga kita ini memang cukup kecil jika dilihat dari segi ukuran. Namun sistem pendidikannya patut diacungi jempol dengan pemberlakuan kurikulumOxford dan Cambridge.
Sehingga tidak heran bila ada beberapa sekolah yang lulusannya bisa mengantongi 2 jenis ijazah, yaitu lokal dan internasional.
Ingin Bersekolah di Negara-Negara di Atas? Cari Beasiswanya!
Jika ingin merasakan pendidikan di top 10 negara terbaik dunia tersebut, maka jangan lupa cari info tentang beasiswanya.
Tidak hanya untuk pemuda, tetapi para guru dan tenaga profesional pun dapat melakukan riset dengan biaya dari pemerintah.
Jadi pastikan untuk selalu update berita pendidikan terbaru dari negara yang diinginkan.
Minggu, 27 Januari 2019
Guru Menulis Buku
Senin 28 Januari 2019, 08:40 WIB
Kolom Kang Hasan
Guru Menulis Buku
Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Banyak materi pelajaran yang terasa melompat, ada proses berpikir yang dilewatkan, sehingga anak-anak sulit memahaminya. Itu masih ditambah lagi dengan tata cara penulisan yang juga masih rendah mutunya, sehingga banyak saya temukan kesalahan tata bahasa maupun pemakaian kosa kata serta ejaan.
Salah satu buku yang saya periksa profil penulisnya adalah buku pelajaran matematika untuk siswa kelas 4. Penulisnya masih sangat muda. Ia lulus dari jurusan pendidikan sains, pernah bekerja sebagai staf administrasi dan sedikit pengalaman menjadi guru bimbingan belajar. Hanya itu pengalamannya. Ia tidak punya banyak pengalaman sebagai guru.
Bagaimana seseorang yang tidak pernah jadi guru bisa menulis buku teks pelajaran? Entahlah. Waktu masih bekerja sebagai dosen saya pernah menulis diktat panduan praktikum fisika dasar. Sebenarnya sebagian besar dari materi diktat itu adalah terjemahan dari panduan praktikum yang dibuat oleh produsen alat-alat laboratorium. Jadi saya tidak menyusun substansinya. Untuk menyusun diktat itu saya harus melakukan sendiri praktikum, berulang-ulang, sambil memikirkan bagaimana saya mendeskripsikan langkah-langkah kerja yang akan dilakukan mahasiswa.
Dengan cara itu pun saya masih harus melakukan banyak revisi setelah diktat tadi dipakai oleh para mahasiswa, karena ternyata ada banyak hal yang sulit mereka pahami. Penulis yang tidak berpengalaman mengajar saya kira akan lebih sulit lagi memahami apa yang sulit dipahami para siswa.
Pada kesempatan lain saya temukan buku pelajaran fisika milik anak saya yang sekolah di SMA. Saya perhatikan isinya, kemudian saya periksa buku referensi yang dipakai. Kuat dugaan saya, buku itu berisi bahan dari buku-buku pelajaran di luar negeri yang telah mengalami ubah sesuai oleh penulisnya.
Menulis buku pelajaran sangat berbeda dengan menulis buku jenis lain. Idealnya buku-buku pelajaran itu ditulis oleh pakar pendidikan. Di negara-negara maju, buku pelajaran sekolah ditulis oleh profesor dalam ilmu yang diajarkan, atau dalam ilmu pendidikan. Misalnya, buku pelajaran fisika ditulis oleh profesor dalam bidang fisika atau pendidikan fisika. Dengan standar itu, buku pelajaran yang ditulis oleh orang tanpa pengalaman mengajar terasa seperti terhempas di dasar jurang.
Dua tahun yang lalu saya pernah diminta melakukan survei kecil soal pengadaan buku pelajaran. Fakta yang saya temukan, buku-buku pelajaran kita tidak standar. Pemerintah hanya menetapkan standar untuk kisi-kisi materi, sedangkan isi buku diserahkan pada penerbit dan penulis buku untuk meramunya. Saya tadinya berharap bahwa pemerintah punya tim yang bertugas menulis buku pelajaran yang distandarkan. Dengan begitu buku pelajaran bisa dikendalikan mutunya. Sepertinya hal itu tidak ada. Atau, kalau pun ada, bukunya tidak menjadi buku wajib. Sekolah-sekolah boleh memakai buku lain.
Kenapa seseorang yang tidak punya pengalaman mengajar bisa menulis buku pelajaran? Maksudnya, kenapa bukan guru yang berpengalaman yang menulis? Di antara berbagai sebab-sebab yang rumit, sebab utamanya adalah karena guru-guru kita sudah terlampau sibuk. Beban mereka terlampau berat. Waktu mereka habis untuk berpindah dari satu kelas ke kelas lain, kemudian mengisi berbagai formulir administrasi pendidikan.
Sebab lain, secara keseluruhan penguasaan terhadap materi pelajaran juga masih rendah. Boro-boro mencari jalan yang mudah bagi siswa untuk memahami materi, mereka sendiri masih kesulitan untuk memahami. Itu masih ditambah lagi dengan fakta lain, bahwa sangat sedikit dari para guru itu yang punya kemampuan menulis. Dalam hal ini saya masih sering mengoreksi kesalahan tata bahasa atau ejaan pada soal-soal PR yang dibuat para guru untuk anak-anak saya.
Melihat buku-buku pelajaran sekarang saya rasa sangat sulit berharap ada peningkatan mutu pendidikan kita. Segala macam persoalan substansial pendidikan kita tercermin pada buku itu. Saya berharap pemerintah memberi perhatian yang sangat serius soal ini. Buku-buku pelajaran kita sebaiknya diserahkan kepada para guru besar, serta guru-guru senior untuk menulisnya.
Sandungan utamanya adalah soal kemampuan dan tradisi menulis. Bahkan para guru besar di universitas pun jarang menulis. Banyak dari mereka yang tidak punya kemampuan menulis. Kemampuan menulis tidak dikembangkan, mereka tidak menjadikan menulis sebagai bagian dari kebiasaan akademis. Hal yang sama terjadi pada guru-guru.
Kita mungkin bisa menemukan guru-guru yang piawai dalam mengajar, meski jumlahnya tak banyak. Tapi, kalau diminta menulis, belum tentu mereka bisa. Mencari guru yang piawai mengajar sekaligus pandai menulis sungguh sulit.
Lalu, bagaimana solusinya? Porsi terbesar dari solusi masalah ini harus tergantung pada pemerintah. Kalau pemerintah memang punya kepedulian, seharusnya ada upaya untuk memperbaikinya. Sementara itu, kita hanya bisa memberi dorongan kepada guru-guru untuk membekali diri dengan kemampuan menulis. Pada prinsipnya guru adalah orang yang harus terus belajar meningkatkan kemampuan. Meningkatkan kemampuan menulis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tugas besar seorang guru.
Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
Jumat, 18 Januari 2019
5 INOVASI PENDIDIKAN TINGGI UNTUK HASILKAN LULUSAN DI INDUSTRI 4.0
5 INOVASI PENDIDIKAN TINGGI UNTUK HASILKAN LULUSAN DI INDUSTRI 4.0
https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/19/07000091/5-inovasi-pendidikan-tinggi-untuk-hasilkan-lulusan-di-industri-4.0
https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/19/07000091/5-inovasi-pendidikan-tinggi-untuk-hasilkan-lulusan-di-industri-4.0
- Fokuskan aktu kuliah
- Pangkas sistem kredit
- Kerja sama industri
- Pembelajaran berbasis proyek
5 Inovasi Pendidikan Tinggi untuk Hasilkan Lulusan di Industri 4.0
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Inovasi Pendidikan Tinggi untuk Hasilkan Lulusan di Industri 4.0", https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/19/07000091/5-inovasi-pendidikan-tinggi-untuk-hasilkan-lulusan-di-industri-4.0.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Inovasi Pendidikan Tinggi untuk Hasilkan Lulusan di Industri 4.0", https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/19/07000091/5-inovasi-pendidikan-tinggi-untuk-hasilkan-lulusan-di-industri-4.0.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Jumat, 02 November 2018
KOMPETENSI GURU
KOMPETENSI GURU
Kompetensi untuk menjadi guru:
Kompetensi untuk menjadi guru:
- Paedagogi
- Sosial
- Kepribadian
- Profesionalisme
Selasa, 02 Oktober 2018
SOSOK
Meneladani Jakob Oetama
Selasa 02 Oktober 2018, 13:28 WIB
"Common Sense" Ishadi SK
https://news.detik.com/kolom/d-4238403/meneladani-jakob-oetama#main
Ishadi SK - detikNews
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Suasana meriah sekaligus mengharukan, melihat betapa karyawan Kompas Gramedia sangat menghormati, mencintai, dan menyayangi JO. Memang luar biasa, menyelesaikan sekolah SMA Seminari pada 1951, JO melanjutkan sekolahnya di Seminari Tinggi Kota Baru Yogyakarta, namun hanya 3 bulan ia mengundurkan diri. Keputusan mundur dari pendidikan seminari itu mengecewakan khususnya orangtuanya, maupun para pengasuh seminari. JO kemudian sekolah Publisistik di UGM, sekolah yang mengubah sejarah kehidupannya dari calon pastor menjadi calon jurnalis.
April 1961, begitu selesai kuliah Publisistik di UGM, dia diajak PK Ojong, pendiri majalah mingguan Star Weekly, mendirikan majalah bulanan Intisari. Terbit pertama kali Agustus 1963, Intisari segera berkembang diminati khalayak. Masyarakat menginginkan sebuah bacaan yang syarat dengan ilmu pengetahuan seperti Reader's Digest. JO merekrut Swantoro, J. Adisubrata, Indra Gunawan, Kurnia Munaba, dan Irawati SH --lulusan FH UNDIP Semarang yang menyatakan rela tidak dibayar berbulan-bulan asal diperbolehkan bergabung di Intisari. Kelompok ini kemudian menjadi cikal bakal kekuatan Harian Kompas yang didirikan 28 Juni 1965, sebuah harian yang didukung oleh umat Katolik.
JO mengakui belajar jurnalistik dari PK Ojong yang dianggap kuat di bidang humaniora serta prinsip nilai-nilai kemajuan, juga dari Mochtar Lubis, sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, dan Rosihan Anwar yang pakar dalam menorehkan tulisan jurnalistik yang juga kuat dalam persoalan humaniora.
Kompas perlahan namun pasti berkembang menjadi koran independen yang disukai pembaca dari kelompok agama maupun aliran politik mana pun. Meskipun amat sangat menjaga independensi, Kompas tidak luput dari turbulensi. Pada 21 Januari 1978, Kompas menjadi salah satu dari koran dan majalah yang dilarang terbit oleh Presiden Soeharto. Tiga minggu kemudian pemerintah mengizinkan Kompas terbit kembali asal bersedia menandatangani pertanyaan tertulis yang isinya permintaan maaf sekaligus berjanji tidak akan memuat tulisan yang menyinggung penguasa. JO dan PK Ojong saling beda pendapat. PK Ojong menolak keras, dan lebih baik menutup Kompas selama-lamanya sementara JO kemudian tampil ke depan dan menandatangani permintaan maaf serta janji kesetiaan kepada pemerintah.
Hingga 20 tahun kemudian JO memegang teguh janjinya untuk tidak melakukan kritik terbuka dan vulgar. Sikapnya yang hati-hati sering menjadi bahan cemooh pembaca. Rosihan Anwar, pemimpin harian Pedoman, menyebut Kompas sebagai jurnalistik kepiting. Artinya, selalu menata kata dalam menulis kritikan terhadap pemerintah. Kalau dirasa membahayakan, layaknya "kaki kepiting" bisa mundur beberapa langkah.
JO sadar melihat kelemahan ini dan mengimbanginya dengan jurnalisme berkualitas. Lewat kemampuan profesional para jurnalisnya, secara terus-menerus Kompas juga dikenal memberi ruang bagi para pengambil keputusan, khususnya para tim ekonomi pemerintah untuk menjelaskan secara jujur dan lengkap apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan.
Akhirnya, Kompas tidak lagi menjadi koran biasa tapi menjadi forum diskusi intelektual yang bernas. Ini yang membuatnya beda dan tidak bisa ditiru koran lain. Selama berpuluh tahun JO kemudian menjadi tempat untuk menguji kebenaran hakiki. Kualitas wartawan ditingkatkan, antara lain dengan peningkatan gaji dan pendapatan bersaing dengan surat kabar lain yang ada. Ini yang menyebabkan wartawan "betah" dan berdedikasi penuh menjaga kualitas jurnalistiknya dengan cara lebih akurat, lebih lengkap, dan lebih cepat.
Sejak awal JO menyadari bahwa usaha media rawan terhadap guncangan politik. Pada Februari 1970, dirilis usaha Toko Buku Gramedia. JO juga menyetujui ketika diusulkan untuk memulai usaha baru di sektor perhotelan. Diawali dengan mendirikan hotel kecil di Jalan Sumatera, Bandung, Santika Group berkembang pesat hingga mencapai lebih dari 100 hotel di Indonesia. Grup ini juga berhasil membangun Convention Center terbesar di Indonesia, yakni di Nusa Dua Bali dan BSD Jakarta. Hotel Santika di Nusa Dua menjadi lokasi utama Pertemuan Tingkat Tinggi Dunia, dan akan menjadi lokasi IMF dan World Bank Annual Meeting bulan ini.
Di usia yang ke-78, Jakob Oetama telah membangun sebuah kelompok usaha media yang komprehensif dan menjadi Kompas Indonesia yang sesungguhnya. Tidak hanya di media cetak, namun juga media online, termasuk televisi; Trans 7 (berasal dari TV 7 yang pada 2006 diakuisisi 55% sahamnya oleh CT Corp) dan Kompas TV.
Jakob Oetama tidak pernah memberhentikan karyawan. Mereka yang memasuki usia pensiun ditawari kerja di berbagai usaha non media Kompas Gramedia yang ada.
Melihat perkembangan yang demikian pesat usahanya, pada 2012 ketika Kompas Gramedia berusia 50 tahun, JO menulis: "Pohon yang kita tanam berbuah mekar, berkembang sehingga jadi berkat yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang".
Ishadi SK Komisaris Transmedia
(mmu/mmu)
Minggu, 23 September 2018
REFLEKSI
REFLEKSI TENTANG DIRI
Aku lelah. Terlunglai diseret stress. Pekkerjaan DAPODIK ku suda sering kukerjakan. Namun, tampak ta ada hasil. Sudah setahun aku menggaarapnya. Saya ingat, saya sudah mengerjakan hingga 14 halaman. Bila dipersentasikan sudah 88 %. Namun, tak kunjung tuntas. Apa tanda ketuntasannya? Barometernya adalah anak anak dapat NISN. Namun hingga Juli 2018 belum dapat NISN, malah ada info baru harus instal edisi baru NISN.
Saya ikuti. Namun, banyak data yang hilang setelah diinstal. Saya stress. Apa yang salah? Rupanya saya kkerja tidak tuntas. Ada komponen yang tidak digarap baik. Karena tidak dikerjakan dengan baik maka tidak bisa sinkrinisasi. Ini persoalan pokoknya. Saya kerja banyak selama ini namun tak sampai sinkkronisasi.
Saya kerja keras tapi tidak kerja cerdas. Maka, kerjalah secara cerdas agar kerja kerasmu berbekas.
]
JPS, 24 September 2018.
]
JPS, 24 September 2018.
Langganan:
Postingan (Atom)

