Rabu, 13 Desember 2017

Mendikbud dan Cara Melihat Pendidikan di NTT

Mendikbud dan Cara Melihat Pendidikan di NTT

Benny K. Harman
Kompas.com - 13/12/2017, 08:47 WIB
Ilustrasi: Kepala SMP Negeri 4 Muara Teweh, Subakir menunjukkan salah satu ruang sekolahnya yang rusak berat, Rabu (24/4/2013). Sekolah di Desa Lemo II, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah itu memiliki sembilan ruang untuk kegiatan belajar dan lebih dari separuhnya atau lima ruang mengalami kerusakan yang telah dibiarkan lebih dari 10 tahun. Pihak sekolah sudah berkali-kali meminta perbaikan kepada pemerintah daerah setempat namun belum juga direalisasikan.
Ilustrasi: Kepala SMP Negeri 4 Muara Teweh, Subakir menunjukkan salah satu ruang sekolahnya yang rusak berat, Rabu (24/4/2013). Sekolah di Desa Lemo II, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah itu memiliki sembilan ruang untuk kegiatan belajar dan lebih dari separuhnya atau lima ruang mengalami kerusakan yang telah dibiarkan lebih dari 10 tahun. Pihak sekolah sudah berkali-kali meminta perbaikan kepada pemerintah daerah setempat namun belum juga direalisasikan. (KOMPAS/DWI BAYU RADIUS)

LAPORAN Program for International Students Assesement (PISA) menempatkan kualitas pendidikan di Indonesia pada ranking yang rendah.
Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy berkomentar, jangan-jangan sampel dari survei ini adalah siswa-siswi asal Nusa Tenggara Timur ( NTT).
Pernyataan Mendikbud itu menyinggung perasan sejumlah orang yang berasal dari NTT. Seolah-olah kualitas pendidikan di provinsi ini rendah hingga dianggap sebagai “biang kerok” rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Pernyataan ini juga mengesankan Mendikbud melepaskan tanggungjawabnya sebagai pejabat tinggi pemerintah yang berwenang, bertugas, dan berfungsi mengurusi bidang pendidikan dan kebudayaan secara nasional.
Di balik itu, kita juga harus menyadari kondisi pendidikan formal di NTT yang buruk. Banyak anak usia sekolah yang terpaksa putus melanjutkan pendidikannya karena kesulitan biaya. Tercatat, ada 11 persen sekolah tidak layak atau rusak, serta kekurangan tenaga guru.
Kondisi inilah yang harus dipulihkan oleh segenap pemangku kepentingan (stakeholder) untuk bahu-membahu agar setiap anak mendapatkan hak atas pendidikan dan keluarga-keluarga di NTT bisa keluar dari impitan kesulitan mereka.
Peringkat rendah
Tidak sepantasnya Mendikbud mengesankan pendidikan di NTT sebagai “kambing hitam” dari rendahnya peringkat mutu pendidikan di Indonesia yang ironisnya justru menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Mendikbud seharusnya mengevaluasi, mengapa mutu pendididikan di Indonesia rendah? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya? Bagaimana menemukan solusi dalam meningkatkan mutu pendidikan?
Berdasarkan laporan PISA tahun 2015, ada 540.000 siswa sekolah berusia 15 tahun yang mengikuti survei di 72 negeri.
Tidak ada negeri-negeri seperti Kuba, Malaysia, Thailand, Filipina, Myanmar, Kamboja, Laos, Brunei Darussalam, dan Timor Leste dalam survei tersebut. Negeri-negeri yang tergabung dalam ASEAN, hanya Indonesia, Singapura, dan Vietnam.
Banyak kategori yang menjadi obyek survei, tetapi ada tiga kategori yang dijadikan patokan penting, yaitu matematika (maths), ilmu pengetahuan (science), dan bacaan (reading). Dari ketiga kategori ini Singapura menyapu bersih semua peringkat dari 72 negeri yang disurvei.
Untuk matematika, Vietnam ada di peringkat ke-22, dan Indonesia peringkat ke-65. Dalam ilmu pengetahuan, Vietnam berada di ranking ke-8, Indonesia di posisi ke-64.
Sementara untuk kategori membaca, Vietnam menduduki peringkat ke-32 dan Indonesia ke-66. Indonesia masih lebih baik dibandingkan Brazil untuk matematika (ke-67) dan ilmu pengetahuan (ke-65), tetapi disalip dalam kategori bacaan (ke-61).
Cara melihat
Mungkin cara pandang Mendikbud dalam melihat pendidikan dan kebudayaan tidak mendasarkan atas sejumlah faktor yang melilit masyarakat Indonesia dan secara khusus NTT.
Pertama, salah satu faktor yang menyulitkan Indonesia adalah demografis, yaitu jumlah penduduk yang besar dan negeri kepulauan yang paling luas.
Seorang pelajar yang pasrah melihat kondisi sekolah SDN 234 Palembang yang rusak berat berlokasi di Lorong Swakarsa RT 42 RW 08 Kelurahaan Kemang Agung Kecamatan Kertapati Palembang, Rabu (2/12/2015).
Seorang pelajar yang pasrah melihat kondisi sekolah SDN 234 Palembang yang rusak berat berlokasi di Lorong Swakarsa RT 42 RW 08 Kelurahaan Kemang Agung Kecamatan Kertapati Palembang, Rabu (2/12/2015).(Sriwijaya Post/Welly Hadinata)
Advertisment
NTT juga provinsi kepulauan dengan infrastruktur dan konektivitas yang jauh dari memadai. Malah, sebanyak 11 persen sekolah atau ruang kelas rusak dan tidak layak.
Kedua, meski alokasi APBN minimal 20 persen untuk pendidikan, tetapi alokasinya berbeda-beda setiap provinsi, selain kemampuan pemerintah daerah masing-masing.
Dari Rp 416,1 triliun dalam APBN 2017, sebagian besar dialokasi ke daerah melalui transfer daerah. Sudah jadi pengetahuan umum, alokasi anggaran masih didominasi dan terkonsentrasi di Jawa.
Tahun lalu, Kemendikbud mengalokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp1,3 triliun ke NTT. Tahun ini ada bantuan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan lebih dari Rp 156 miliar, serta Dana Alokasi Umum (DAU) untuk pengalihan sekolah Rp 122 miliar kepada NTT. Sementara, dari APBD NTT hanya 2,7 persen untuk pendidikan.
Ketiga, selain banyak sekolah dan ruang kelas yang rusak, masalah yang juga tidak kalah memprihatinkan kita adalah gaji guru, terlebih lagi yang masih berstatus honorer yang hanya diimbali Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan. Ini memang sangat tidak layak dan menyedihkan.
Keempat, masalah-masalah yang juga tidak kalah pentingnya yang ikut mempengaruhi warga NTT atas pendidikan adalah kemiskinan dan ketertinggalan.
Sebagian warga yang tidak beruntung ini malah harus menderita rawan pangan atau kurang gizi, didera kasus perdagangan orang (human trafficking), dan kesulitan lainnya.
Meski banyak faktor yang mempengaruhi kondisi pendidikan di NTT, tetapi tidak berarti tidak ada lembaga pendidikan yang berkualitas.
Dalam kasus khusus, bisa dilihat dari pencapaian Grandprix Thomryes Marth Kadja yang lulus SMA di usia 16 tahun. Ia menyelesaikan kuliah di jurusan Kimia Universitas Indonesia (UI) dalam tempo tiga tahun. Dan puncaknya, ia menggondol gelar doktor termuda di Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam usia 24 tahun.
Ilustrasi sekolah rusak
Ilustrasi sekolah rusak(Shutterstock)
Pendidikan dan ekonomi
Arah program dan kebijakan pendidikan di NTT sebaiknya dikaitkan dengan potensi sumber daya dan perkembangan ekonomi. Dengan potensi dan perkembangan ekonomi ini pula program dan kebijakan pendidikan akan lebih spesifik dan efektif.
Banyak lembaga pendidikan di NTT sudah memiliki fondasi yang kuat, seperti filosofi dan pemikiran, pengembangan kurikulum, serta metode belajar-mengajar yang terus berkembang. Dari pendidikan ini pula lahir sejumlah orang yang berprestasi dalam bidang masing-masing.
Namun, dengan impitan ekonomi dan politik yang kurang mendukung, adanya angka putus sekolah dan keengganan melanjutkan pendidikan, bahkan banyak pula sarjana yang menganggur, menambah masalah NTT.
Sehingga muncul pertanyaan, bagaimana ekonomi dan politik mendukung pendidikan?
Potensi besar NTT di bidang pangan, mulai dari kelautan dan perikanan, pertanian dan peternakan, haruslah dibangun pondasi ekonomi yang kuat dan saling terkait.
Seandainya NTT bangkit dan bergerak menuju revolusi pangan – transformasi ke industrialisasi pengolahan pangan – niscaya program pendidikan yang mendukung proses ekonomi ini bakal mengurangi angka putus sekolah, keengganan melanjutkan sekolah, dan para sarjana pun ikut dalam transformasi tersebut.
Dengan solusi ini NTT tidak perlu khawatir lagi mengenai masalah mutu pendidikan dan masalah lainnya yang melilit kita, seiring perubahan penting yang digerakkan menuju industrialisasi pengolahan pangan.

Rabu, 13 September 2017

Pendidikan, Membangun Metode Berpikir

Pendidikan, Membangun Metode Berpikir

Hasanudin Abdurakhman
Kompas.com - 14/09/2017, 09:48 WIB
 http://edukasi.kompas.com/read/2017/09/14/09481451/pendidikan-membangun-metode-berpikir
Kebijakan 8 jam belajar di sekolah dipertanyakan sejumlah pengamat pendidikan.
Kebijakan 8 jam belajar di sekolah dipertanyakan sejumlah pengamat pendidikan.(M LATIEF/KOMPAS.com)
Anak saya yang baru masuk kelas 1 SMA mengeluh soal pelajaran dan guru di sekolahnya. “Guru tidak menjelaskan, cuma menyuruh kami belajar sendiri, lalu dia memberi kami soal-soal untuk diselesaikan,” keluhnya. Apa yang terjadi dengan sekolah? Konon, ini pola belajar berdasarkan kurikulum 2013.
Entahlah, apa benar demikian atau tidak. Saya tidak melakukan kajian sistematis soal kurikulum. Namun selama mendampingi anak-anak saya belajar, saya perhatikan ada beberapa masalah pada buku-buku pelajaran mereka. Masalahnya adalah, sering adanya lompatan dalam materi pelajaran.
Prinsip belajar adalah bertahap. Setelah paham sesuatu, pelajar dibawa ke tahap selanjutnya. Tanpa memahami sesuatu yang merupakan pendahuluan, sulit untuk memahami materi di tahap berikutnya. Untuk memahami perkalian, misalnya, pelajar harus paham dulu soal penjumlahan. Tanpa pemahaman itu, mustahil dia paham soal perkalian.
Keluhan anak saya, dia belajar soal vektor dalam pelajaran fisika. Tapi gurunya tidak memberi penjelasan soal definisi sinus dan cosinus yang dipakai untuk menjelaskan vektor. Kata gurunya, itu materi yang harus didapat dalam pelajaran matematika. Sementara pelajaran matematika belum sampai ke materi itu.
Akibatnya anak-anak bingung. Bukan hanya anak-anak saya. Teman-temannya bingung semua. Saya jelaskan materinya pada anak saya. Lalu teman-temannya tertarik untuk ikut belajar pada saya.
Keluhan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Saya sendiri pernah mengalami masalah serupa, yaitu tidak paham materi pelajaran karena penjelasan guru kurang memadai. Apakah ini masalah kurikulum? Tidak selalu. Bahkan sama sekali bukan.
Guru adalah raja di kelasnya. Ia bukan hamba kurikulum. Maka ia tak boleh gagal menjelaskan hanya karena dibatasi oleh kurikulum. Kurikulum itu bukan kitab suci yang harus diikuti kata per kata. Ia hanya panduan besar. Guru boleh keluar dari situ, untuk membangun pemahaman bagi pelajarnya.
Masalahnya, banyak guru yang tidak paham. Banyak yang tidak paham materi yang harus ia ajarkan. Atau, tak paham bagaimana menjelaskannya. Ada banyak guru yang bertahun-tahun bertahan dalam ketidakpahaman. Ia tak berusaha membangun pemahaman bagi dirinya sendiri. Itulah salah satu sebab gagalnya pendidikan kita.
Pendidikan pada dasarnya bukan sekadar soal mengajarkan pengetahuan. Dalam hal fisika, misalnya, bukan soal bagaimana agar para pelajar paham hukum-hukum fisika. Para pelaku pendidikan sering gagal memahami itu. Fokus mereka pada materi pelajaran. Bagaimana menyampaikan materi pelajaran. Bagaimana membuat anak-anak mampu menyelesaikan soal tes.
Jadi, kalau tidak paham, hafalkan saja. Termasuk hafalkan saja cara menyelesaikan soal. Kalau soalnya begini, cara menyelesaikannya begini. Ganti rumus ini dengan angka ini, nanti hasilnya ini.
Situasi itu jauh dari maksud pendidikan. Kita tak mengajari anak-anak kita tentang fisika dengan harapan agar mereka semua jadi ahli fisika. Demikian pula dengan matematika, dan pelajaran lain. Bagian terpenting dari semua pelajaran itu adalah membangun metode berpikir, dengan menjalani prosesnya.
Dalam setiap pelajaran ilmu alam sebenarnya diperkenalkan topik tentang metode ilmiah. Tentang bagaimana pengetahuan tentang sesuatu diperoleh, bagaimana sesuatu diselidiki lalu disimpulkan. Sayangnya, bagian ini pun sering kali hanya menjadi bagian hafalan dalam pelajaran. Ia tidak menjadi fondasi dalam proses belajar selanjutnya.
Tahapan dalam materi pelajaran pada dasarnya disusun untuk membangun metode berpikir. Sepanjang masa belajar para pelajar digembleng untuk menjalani proses berpikir, dilatih untuk berpikir, membangun metode berpikir. Karena itu materi pelajaran tidak sekadar soal isi teori, tapi juga membahas bagaimana teori itu dibangun. Pada teori atom, misalnya, tidak langsung meloncat pada isi teorinya, tapi juga membahas bagaimana sejarah perumusan teori itu.
Sebagian besar anak-anak kita kelak tidak akan bekerja dengan memakai teori atom atau Hukum Newton. Kalau materi pelajaran yang menjadi prioritas, yakinlah bahwa itu akan sia-sia, karena akhirnya tidak akan dipakai dalam hidup. Tapi kalau proses berpikir yang dilatihkan, maka proses itu akan menjadi pola yang melekat sampai kapan pun. Itu akan berguna dalam banyak kesempatan sepanjang hidup.
Para orang tua dan guru harus selalu menyegarkan kembali kesadaran mereka soal ini. Agar mereka tidak tenggelam dalam kesesatan, mengejar target materi, lupa membangun proses berpikir. Ketika harus menjelaskan sesuatu yang pendahuluannya belum dipahami anak-anak, mutlak bagi guru untuk membangun pemahaman soal pendahuluan itu. Kalau tidak, ia tidak sedang membangun metode berpikir.

Jumat, 01 September 2017

PENDIDIKAN TAK KENAL BATAS USIA

PENDIDIKAN TAK KENAL BATAS  USIA


Nenek 91 Tahun Raih Gelar Sarjana di Thailand

Kompas.com - 10/08/2017, 16:41 WIB
Kimlan Jinakul mengaku otaknya selalu siap untuk belajar pada usia 91 tahun.
Kimlan Jinakul mengaku otaknya selalu siap untuk belajar pada usia 91 tahun.(BBC)
BANGKOK, KOMPAS.com - Mimpi seorang nenek berusia 91 tahun dari Phayao, Thailand utara, menjadi kenyataan setelah ia menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1.
Pada Rabu (9/8/2017), sang nenek, Kimlan Jinakul, mengikuti acara wisuda bersama ribuan mahasiswa lain, yang semuanya jauh lebih muda dibandingkan dirinya.
Kimlan Jinakul diwisuda dan mendapat gelar sarjana dari Universitas Terbuka Sukhothai Thammathirat setelah menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun untuk belajar.
Ia mengambil studi pembangunan manusia dan keluarga.
"Tidak pernah terlambat untuk belajar... pikiran saya selalu bangun untuk belajar," tuturnya tentang motto yang ia pegang teguh selama ini.
Baca: Satu Jam Usai Melahirkan, Perempuan Ini Ikut Ujian Sarjana
Pertambahan usia dan kematian putrinya tidak menghambat Kimlan Jinakul mewujudkan mimpi, tekad dan komitmennya.
Kimlan tertarik mengambil kuliah di Universitas Terbuka Sukhothai Thammathirat University ketika usianya sudah 72 tahun ketika salah seorang putrinya kuliah di universitas yang sama.
Namun sang putri kemudian meninggal dunia dan Kimlan berhenti kuliah selama beberapa tahun.
Untuk mengatasi kepedihan hatinya, Kimlan akhirnya meneruskan kuliah pada usia 85 tahun dengan mengambil bidang yang sama, studi pembangunan manusia dan keluarga, yang diyakininya akan membantunya menjalani hidup berkualitas dan penuh kebahagiaan.
"Setelah pulih dari kesedihan dan kehilangan putri saya, saya mendorong diri sendiri untuk menyelesaikan program studi ini dengan harapan roh putri saya senang," ungkapnya kepada BBC Bahasa Thailand.



Satu Jam Usai Melahirkan, Perempuan Ini Ikut Ujian Sarjana

 http://internasional.kompas.com/read/2016/08/15/19074121/satu.jam.usai.melahirkan.perempuan.ini.ikut.ujian.sarjana
Kompas.com - 15/08/2016, 19:07 WIB
Ilustrasi kehamilan(SHUTTERSTOCK)
PATNA, KOMPAS.com - Kisah yang terjadi di India ini menggambarkan kegigihan seseorang menyelesaikan jenjang pendidikannya di saat yang sangat sulit.
Seorang perempuan, yang baru saja melahirkan bayinya bersikukuh untuk tetap menjalani ujian akhir untuk meraih gelar sarjana pendidikan.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (13/8/2016), ketika Ranju Kumari merasakan tanda-tanda akan melahirkan beberapa jam sebelum ujian akhirnya digelar di Muzaffarpur, negara bagian Bihar
Alhasil, Ranjun terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk melahirkan anak keduanya.
Hanya sekitar satu jam setelah melahirkan, Ranjun bersikukuh untuk tetap hadir di ruang ujian.
Awalnya dokter tak mengizinkan perempuan itu pergi dalam kondisi masih lemah usai melahirkan, tetapi Ranjun memaksa dan akhirnya para dokter tak bisa menahannya.
Dia lalu dibawa dengan menggunakan ambulans ke gedung tempat ujian digelar. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Ranjun tiba beberapa saat setelah ujian dimulai.
Melihat tekad Ranjun yang sangat besar, pengawas ujian, Mamta Rani mengizinkan Ranjun mengikuti ujian meski datang terlambat.
Ranjun akhirnya mengerjakan soal ujian di dalam ambulans sambil ditemani seorang pengawas.
"Kami sangat mengagumi niatnya untuk menuntut ilmu. Dia adalah bukti bahwa kesadaran perempuan akan pentingnya pendidikan sudah bertambah," ujar Mamta Rani.



Pria 86 Tahun Ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi di China

 

 http://internasional.kompas.com/read/2015/06/09/19450581/Pria.86.Tahun.Ikut.Ujian.Masuk.Perguruan.Tinggi.di.China
Kompas.com - 09/06/2015, 19:45 WIB
Akibat usianya yang lanjut, Wang Xia (86) harus dipapah seorang polisi dan sopirnya saat akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.(Daily Mail)
BEIJING, KOMPAS.com — Seorang pria tua berusia 86 tahun yang selalu bermimpi menimba ilmu di perguruan tinggi kembali mengikuti ujian masuk universitas untuk kali ke-15, sejak pertama mengikuti ujian pada 1949.Wang Xia, asal kota Nanjing, di wilayah timur China, terus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sejak 2001, sejak pemerintah menghapus batasan usia untuk masuk universitas. Antara 1950-an dan 1960-an, Wang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sebanyak empat kali, dan sayangnya dia gagal pada empat kesempatan itu.
Meski selalu gagal dalam ujian masuk universitas yang dijalaninya, Wang mengatakan bahwa dia selalu melakukan persiapan matang dan berharap mendapat hasil baik serta keberuntungan pada setiap ujian yang diikutinya.
Foto Kakek Wang yang tiba di ruang ujian pada Minggu (7/6/2015) diunggah ke dunia maya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang di daratan China. Wang diyakini menjadi peserta tertua ujian masuk universitas atau gaokao tahun ini, yang diikuti lebih dari sembilan juta remaja setiap tahun.
Akibat usianya yang sudah sangat senja, Wang harus dipapah sopirnya dan seorang polisi untuk memasuki ruang ujian. Meski demikian, dia mengaku sangat siap mengikuti ujian tahun ini.
"Saya sudah mempersiapkan diri dengan matang kali ini. Saya tidak gugup dan akan melakukan yang terbaik," ujar Wang.
Wang enggan menjawab jurusan apa yang akan diambilnya di universitas. Dia hanya berkata, keputusan diambil setelah mengetahui hasil ujian masuk kali ini.
Apa alasan Wang bersikukuh ingin kuliah? Wang mengatakan, meski selama empat dekade mempelajari ilmu medis, pasiennya tak percaya dengan kemampuannya karena dia tak memiliki gelar kedokteran.
Pada 2007, Universitas Kedokteran Nanjing menganugerahkan gelar honoris causa kepada Wang. Namun, kakek renta ini bersikukuh, dia tak akan beristirahat hingga mendapatkan gelar sarjana sesungguhnya.
Sang sopir yang menjemput Wang untuk berangkat ke lokasi ujian mengatakan, kesehatan pria tua itu menurun selama beberapa tahun terakhir hingga Wang akhirnya harus berjalan dengan bantuan tongkat.
"Dia mengatakan kepada saya bahwa, secara mental, dia tak setajam tahun lalu, dan kini dia menjalani pantangan untuk sejumlah makanan. Namun, dia terus belajar dan terus ikut ujian masuk universitas," ujar sopir itu.

EditorErvan Hardoko
SumberDaily Mail


Jumat, 22/12/2017 19:10 WIB
 
https://wolipop.detik.com/read/2017/12/22/190900/3782276/1133/inspiratif-nenek-dan-cucu-lulus-kuliah-bersama-dengan-nilai-ipk-tinggi?_ga=2.137838256.1492049487.1520208423-828947653.1518244677

Inspiratif, Nenek dan Cucu Lulus Kuliah Bersama dengan Nilai IPK Tinggi

Rahmi Anjani - wolipop
Inspiratif, Nenek dan Cucu Lulus Kuliah Bersama dengan Nilai IPK Tinggi Foto: ist
Jakarta - Seiring bertambahnya usia biasanya orang jadi lebih malas untuk kembali ke bangku kuliah. Namun tidak untuk nenek ini. Di usianya yang ke-62, Belinda Berry berhasil mendapatkan gelar S1. Menariknya, Belinda lulus kuliah di hari yang sama dengan sang cucu. Hal tersebut pun menjadi momen unik, membanggakan, dan inspiratif.

Belinda dan cucunya, Karae Berry sama-sama kuliah di Chicago State University. Namun mereka memilih jurusan yang berbeda. Belinda belajar bisnis sedangkan Karae mengambil jurusan peradilan pidana. Keduanya sama-sama mulai masuk universitas pada 2010 namun tidak menyangka akan lulus berbarengan.

Belinda dan Karae tentu bangga dan senang bisa wisuda bersama. Apalagi Belinda merupakan orang yang penting bagi Karae karena turut membesarkan wanita 25 tahun itu sejak kecil. Momen nenek dan cucu yang lulus kuliah berbarengan ini juga menjadi spesial pertama kalinya terjadi dalam sejarah universitas.

"Membuat dia bangga sementara dia membuatku bangga adalah hal yang sangat keren," kata Karena kepada People.

Punya nenek yang masih semangat kuliah tentu membanggakan. Namun hal tersebut kadang juga bisa menyebalkan di saat bersamaan. Itu dikarenakan Karae jadi tidak bisa bolos kuliah. "Aku seperti, 'Oh Tuhan, tidak. Nenekku ada di kampus meneriakkan namaku? Dia akan bilang 'Bukannya seharusnya kamu ada di kelas?'" ungkap Karea.

Kesamaan di antaranya mereka pun tidak berakhir sampai di sini. Kedua wanita tersebut mengaku akan melanjutkan pendidikan S2 di universitas yang sama. Untuk Karea, ia berencana mengambil jurusan konseling kesehatan dan berharap menjadi polisi. Sedangkan Belinda yang lulus SMA di tahun 1970 berencana ingin membuka butik.

"Aku juga ingin menjadi inspirasi bagi orang muda dan tua. Kamu bisa meraih apapun yang kamu mau berapapun umurmu," tutur Belinda.

Belinda dan Karea pun sama-sama mahasiswa berprestasi. Sang nenek lulus dengan nilai IPK 3,8 dan si cucu menerima IPK 3,4.

(ami/kik)

Senin, 07 Agustus 2017

PENDIDIKAN DI FINLANDIA & NEGARA -NEGARA S.

 PENDIDIKAN DI FINLANDIA & NEGARA -NEGARA SCANDINAVIA.

 

Membentuk Anak Bahagia ala Pola Asuh Skandinavia

Lusia Kus Anna
Kompas.com - 25/11/2017, 12:09 WIB
http://lifestyle.kompas.com/read/2017/11/25/120900720/membentuk-anak-bahagia-ala-pola-asuh-skandinavia 

Ilustrasi
KOMPAS.com - Negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Denmark atau Swedia terkenal dengan pendidikannya yang disebut ideal untuk membentuk anak-anak cerdas tapi tetap punya kesempatan bermain dan tumbuh bahagia.
Berbeda dengan orangtua di Asia atau di Amerika Serikat, orangtua di Skandinavia memang tidak membebani buah hati mereka dengan prestasi akademik tinggi.
Mereka lebih suka anak-anak mereka memanjat pohon dibanding belajar alfabet melalui flash card. Anak-anak juga didorong untuk bermain di luar rumah ketimbang menghapal pelajaran.
Nah, ketahui pola asuh apa saja yang mereka terapkan sehingga sering disebut sebagai pola asuh terbaik untuk anak?
- Menghirup udara segar
Mayoritas orangtua di negara Skandinavia selalu ingin buah hatinya menghirup udara segar setiap hari sehingga ada kebiasaan membiarkan bayi mereka tidur siang di luar rumah. Bahkan saat musim dingin dan udara membeku, melihat bayi tertidur di stroler di luar rumah atau kafe adalah pemandangan biasa.
Orangtua di Skandinavia percaya bahwa menghirup udara segar menyehatkan tubuh. Dokter di sana juga merekomendasikannya karena bisa menurunkan paparan kuman dan mengurangi risiko infeksi.
- Bermain kotor-kotoran
Rumah berantakan, bermain kotor-kotoran di luar rumah adalah hal yang alami di dunia anak. Itu sebabnya orangtua di sana tak pernah protes jika anak mereka pulang dengan boot yang kotor, baju tergores semak, atau terciprat lumpur.
Setiap anak didorong untuk bermain di luar rumah, menikmati alam, apa pun cuacanya.
Ilustrasi
Ilustrasi(Pexels.com)
"Semua "kekotoran" itu menandakan anak mereka memiliki hari yang menyenangkan dan penuh petualangan," kata Linda Akeson McGurk, penulis berdarah Swedia dan Amerika seperti dikutip dari situs Time.com.Menurut Linda, para ibu di Skandinavia juga tidak terlalu panik jika anak mereka tak sengaja memasukkan benda ke mulut dan tak terlalu repot mensterilkan mainan anak-anaknya.
Kebiasaan bermain di luar rumah dan berkotor-kotor itu terbukti membuat sistem tubuh anak lebih kuat, tidak gampang alergi dan asma. Tentunya anak pun lebih bugar.
- Tak terobsesi gender
Berbeda dengan budaya di belahan dunia lain, orangtua di negara Skandinavia tidak membuat perayaan khusus terkait jenis kelamin bayinya. Bahkan, dokter dan rumah sakit di negara ini tidak akan menyebutkan jenis kelamin bayi, bahkan saat melakukan USG.
Orangtua biasanya baru tahu jenis kelamin bayinya saat persalinan. Budaya mereka juga membuat orangtua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan setara.
- Anak mandiri
Sejak kecil, setiap anak diajak untuk mandiri. Bukan hanya saat bermain ke taman, ke sekolah pun anak-anak diizinkan berangkat sendiri. Di usia sekitar 9 tahun, pemandangan yang lazim melihat anak-anak berangkat sekolah sendiri dengan berjalan kaki, naik sepeda, atau transportasi publik.

Terbongkar... Rahasia Sukses Pendidikan di Finlandia!

 http://edukasi.kompas.com/read/2017/08/07/16293131/terbongkar--rahasia-sukses-pendidikan-di-finlandia-
Kompas.com - 07/08/2017, 16:29 WIB
Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia.
Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia. (Dok Grasindo)
KOMPAS.com - Selama ini masyarakat Indonesia cukup banyak membaca dan melihat berita mengenai nyamannya bersekolah di Finlandia. Apa bedanya sekolah di Indonesia dengan di negara kecil tersebut?
Begitu banyak ulasan di Facebook atau Youtube mengenai Finlandia. Beberapa dari kita mungkin juga penasaran, apakah benar di sana murid-murid tidak diberi PR, dan tidak ada ujian?
Apa benar murid-murid di Finlandia tidak dibiarkan menghafal? Kalau benar, pasti menyenangkan sekali. Bukan begitu?
Tak heran, banyak yang penasaran tentang pendidikan di negara kecil jumlah total penduduk tak lebih dari 6 juta orang tersebut. Siswa-siswa Finlandia selalu memperoleh peringkat atas pada tes PISA atau Programme for International Student Assessment.
Dipikir-pikir, apa mungkin negara dengan jumlah penduduk separuh Jakarta ini bisa memiliki kualitas pendidikan tingkat dunia? Apalagi, negara ini tidak seagresif negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, atau Singapura misalnya, yang menyetel pendidikan mereka menjadi lebih cepat.
Di Indonesia, rasa penasaran terhadap pendidikan di negara nordik ini mengemuka kembali. Ini terjadi terutama setelah muncul muncul gagasan untuk memberlakukan sistem full day school dalam sistem pendidikan nasional.
Gagasan yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sejak awal 2016 dan sempat mendapat "lampu hijau" dari Presiden Joko Widodo) itu mendapat bermacam respon penolakan.
Sebagian besar mempertanyakan seberapa jauh durasi sekolah formal mampu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman siswa. Ada yang mengatakan hal ini justru akan membebani siswa, keluarga, bahkan guru.
Tak ayal, banyak juga yang membandingkan dengan sistem pendidikan di negara-negara lain. Dari situlah, orang merujuk pada segala yang terjadi di Finlandia.
Pendidikan ala Finlandia
Apa yang sesungguhnya terjadi di Finlandia barangkali bisa memberi pencerahan. Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia.
Timothy atau akrab disapa Tim menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai mantan guru di AS yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Finlandia. Tim menemukan beberapa kesimpulan.
Pertama, pendidikan di Finlandia sangat memperhatikan kesejahteraan (well-being), baik itu murid maupun guru.
"Di hari-hari pertama mengajar, saya menghabiskan waktu istirahat untuk mengecek materi pengajaran saya atau mengecek email, seperti yang biasa saya lakukan di AS. Sementara itu, guru-guru Finlandia malah bersantai di ruang guru sambil ngopi," tulis Tim.
Tidak berapa lama, seorang guru mendatangi Tim dan mengajaknya bergabung, sambil berkata, "Saya sangat khawatir dengan kesehatan Anda. Apakah Anda tertekan, ingat Anda adalah tuan atas pekerjaan, jangan sampai diperbudak oleh pekerjaan."
Tim melihat itu sebagai salah satu paradigma yang sangat positif. Pendidikan di Finlandia memperhatikan dengan sungguh, kesejahteraan, baik fisik maupun batin setiap individu. Ini tampak pula dalam kebijakan bagi para siswa.
Siswa di Finlandia gemar memanfaatkan waktu rehat untuk bermain dan berkejar-kejaran, bahkan tiap sekolah menyediakan alat bermain. Para siswa juga diminta untuk bergabung di sebuah klub minat dan bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya. Ini sangat memungkinkan sebab total jam sekolah rata-rata hanya 18 jam per minggunya.
Adakah PR di Finlandia?
Sepertinya itu adalah mitos yang telanjur populer, dan sayangnya, menurut Tim, itu tidak benar. Para siswa tetap mendapatkan PR, namun diberikan dengan sangat memperhitungkan tingkat kesulitannya.
Para guru memberikan PR yang tidak berat, bahkan rata-rata dapat dikerjakan dalam waktu 30 menit saja. Intinya, mereka ingin para siswa benar-benar mendapatkan istirahat yang cukup sepulang sekolah, dan dapat melanjutkan aktivitas yang lain.
Selain itu, Tim juga melihat bahwa para siswa rata-rata mandiri. Sekolah dan masyarakat Finlandia bekerja sama untuk mengupayakan siswa-siswa yang mandiri.
Percayalah, Anda akan terkaget-kaget melihat siswa SD yang pergi-pulang sekolah sendirian, naik bus atau kereta. Dari semangat mandiri itulah para siswa terbiasa untuk berpikir dengan cermat, bahkan menembus batasannya.
Selain hal-hal itu, Tim menyebutkan kunci lainnya, seperti upaya untuk memberikan rasa dimiliki atau sense of belonging, ikhtiar untuk mengajarkan hal-hal yang mendasar, kemampuan untuk bersatu dengan alam yang damai, dan masih banyak lagi.
Nasihat Pamungkas
Bab terakhir buku ini berjudul unik: Jangan Lupa Bahagia! Ini merupakan tips pamungkas di penghujung buku.
Tim hendak menggarisbawahi bahwa esensi pendidikan yang sewajarnya berjalan seiring dengan prinsip universal hidup bagi masing-masing orang. Kebahagiaan diberi tempat yang utama dalam kurikulum di Finlandia.
Orang Indonesia tentu sering mendengar banyak orang tua atau guru yang tergoda untuk "mencambuk" anak sendiri untuk bisa menguasai banyak hal di luar kemampuannya. Anak-anak pun bekerja dengan tanpa henti, belajar dengan tergesa-gesa.
Akibatnya apa? Pendidikan berjalan dengan terpaksa sebab lebih seperti sebuah siksaan. Pendidikan menjadi tidak menyenangkan.
Ya, di Finlandia sistem pendidikan yang membahagiakan menjadi fokusnya. Anak yang gembira mempelajari banyak hal dengan enteng.
Tentu saja, masih banyak hal-hal menarik tentang seluk belum pendidikan di Finlandia di buku ini. Anda tertarik untuk membaca lebih lanjut Teach Like Finland?
ADINTO FAJAR/GRASINDO


Rabu, 19 Juli 2017

“Tidak Ada Siswa Bodoh, Tidak Ada Siswa Nakal”

“Tidak Ada Siswa Bodoh, Tidak Ada Siswa Nakal”

http://regional.kompas.com/read/2017/07/19/11545071/-tidak-ada-siswa-bodoh-tidak-ada-siswa-nakal-
Reni Susanti
Kompas.com - 19/07/2017, 11:54 WIB
Sebanyak 200 guru SD, SMP, SMA, dan SMK se-Kota Bandung mengikuti pelatihan pentingnya mengetahui gaya belajar siswa.
Sebanyak 200 guru SD, SMP, SMA, dan SMK se-Kota Bandung mengikuti pelatihan pentingnya mengetahui gaya belajar siswa. (KOMPAS.com/Reni Susanti)
BANDUNG, KOMPAS.com – Memasuki tahun ajaran baru, orangtua terutama ibu banyak yang deg-degan ketika mengantarkan anaknya sekolah. Ada perasaan cemas. Mulai dari khawatir anaknya tidak bisa mengikuti pelajaran hingga ketakutan anak tak bisa beradaptasi.
Kekhawatiran tersebut hal yang wajar. Walaupun pada dasarnya, setiap anak tidak ada yang bodoh maupun nakal. Orang dewasalah yang memberi label bodoh dan nakal tersebut terhadap anak.
“Dalam quantum teaching, tidak ada siswa yang yang bodoh dan tidak ada siswa yang nakal. Yang ada adalah siswa yang belum berkembang karena cara pembelajarannya yang belum cocok antara guru dengan anak,” ujar Asep Mahfudin salah satu mentor acara Amitra Berbagi Berkah di Bandung, belum lama ini.
Asep menjelaskan, ada metode dasar dalam mengenal gaya belajar siswa, yakni visual, auditori, dan kinestetik. Dengan mengetahui gaya belajar siswa, guru akan lebih mudah menyampaikan pembelajaran.
(Baca juga: Hari Pertama Sekolah, Medikbud Ingatkan soal Pendidikan Karakter)

“Kalau siswa visual, dengan melihat mereka akan memahami yang diajarkan guru. Auditori melalui pendengaran, dan kinestetik lebih ke gerakan. Jadi kalau kinestetik harus ngalamin dulu,” ucap Asep.
Materi tersebut disampaikan di hadapan 200 orang guru se-Kota Bandung. Ratusan guru yang berasal dari SD, SMP, SMA, dan SMK ini selain mendapatkan materi soal gaya belajar, otak kiri dan kanan, secara keseluruhan dibekali dengan metode pendidikan PAKEM.
PAKEM merupakan singkatan dari Partisipasi, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Metode ini digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar.
Metode pendidikan ini mengedepankan konsep student centered serta learning is fun yang membuat siswa tidak akan merasa terbebani dengan proses belajar mengajar.
Salah satu peserta pelatihan, Tatat mengaku, pelatihan semacam ini penting untuk penyegaran. Apalagi bagi guru yang sudah mengabdi puluhan tahun seperti dirinya, pelatihan merupakan pembaruan pengetahuan dan semangat baru.
Walaupun di lapangan, hal tersebut sulit dilakukan. Salah satu persoalannya, jumlah siswa yang terlalu banyak, sehingga guru kesulitan untuk memperhatikan siswa satu per satu.
“Dan itu cukup melelahkan. Apalagi saya memegang banyak kelas. Namun tentunya kami tetap melakukan yang terbaik,” tutupnya.

Selasa, 02 Mei 2017

KIHAJAR DEWANTARA

Siapa dan Apa Ajaran Ki Hadjar Dewantara?

Palupi Annisa Auliani
Kompas.com - 02/05/2017, 13:43 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/2017/05/02/13433871/siapa.dan.apa.ajaran.ki.hadjar.dewantara.?page=all

Palupi Annisa Auliani
Kompas.com - 02/05/2017, 13:43 WIB
Ilustrasi Ki Hadjar Dewantara(KOMPAS/JITET)

KOMPAS.com
– Coba diingat-ingat benar, siapa itu Ki Hadjar Dewantara? Nama aslikah itu? Apa pula ajarannya sampai tanggal lahirnya ditetapkan menjadi hari besar nasional?
Tebakan paling baik, yang teringat dari nama ini mungkin kurang lebih hanya, “Umm... tokoh pendidikan nasional?”
Tak usah malu atau merasa dipermalukan kalau tak juga mendapatkan informasi tambahan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Banyak orang sekarang bisa jadi punya ingatan sama pendeknya soal nama ini.
Kalaupun ada tambahan informasi yang teringat, paling banter ya Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap 2 Mei ini punya kaitan dengan Ki Hadjar Dewantara.
Soal ajarannya, barangkali hanya anak-anak generasi Orde Baru yang tumbuh besar dalam deretan slogan dan jargon yang masih ingat beberapa hapalan tentangnya.
Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” tiga frasa yang dulu rutin jadi soal ulangan atau pertanyaan di ujian kecakapan Pramuka tentang ajarannya.
Terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia kurang lebih, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan dorongan.”
Sederet slogan tersebut sampai kini resminya masih menjadi acuan bagi guru dalam mendidik para siswanya. Setidaknya, frasa “tut wuri handayani” masih setia terpajang sebagai bagian dari logo Kementerian Pendidikan Nasional.
Ki Hadjar Dewantara adalah nama alias untuk Raden Mas Soewardi Soerjaningrat sejak 1922. Lahir pada 1889, tanggal kelahirannya ditetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional, yaitu setiap 2 Mei.

Penelusuran Kompas.com mendapati penetapan Hari Pendidikan Nasional ini muncul di Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 dan aturan lain sesudah itu yang merujuk kepada aturan tersebut.
Itu pun, “tentang”-nya adalah “Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur” bersama sejumlah hari peringatan lain.
Merujuk harian Kompas edisi 2 Mei 1968, penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan Pemerintah atas jasa Ki Hadjar Dewantara yang telah memelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional.
Penggunaan nama alias pada 1922 bertepatan dengan langkah Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta. Sejak itu, kiprahnya di dunia pendidikan terus berlanjut, sejalan dengan semangatnya melawan penjajahan.
Halaman selanjutnya: Fatwa ajaran
Fatwa ajaran
Soewardi adalah Menteri Pendidikan pertama setelah Indonesia merdeka. Dia ditetapkan Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional pada 1959, yaitu melalui Keputusan Presiden Nomor 305 Tahun 1959.
Pelajar sekolah dasar di Desa Pasir Putih, Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, melintasi jalan semak blukar dengan berjalan kaki menuju ke sekolah, Kamis (13/4/2017)(KOMPAS.COM/RAJA UMAR)

Dalam sistem yang dia kembangkan, Ki Hadjar Dewantara mengeluarkan “10 Fatwa akan Sendi Hidup Merdeka”. Di belakang hari, ajaran ini dikenal dan dikaji lagi antara lain dengan penyebutan beken “pendidikan karakter”.Seperti dikutip dari salah satu situs web lembaga pendidikan Taman Siswa, kesepuluh fatwa Ki Hajar Dewantara tersebut berikut penjelasannya adalah:
1. Lawan sastra ngesti mulya
Terjemahan bebasnya, "dengan pengetahuan kita menuju kemuliaan". Penjelasan poin ini mencakup pula frasa lain, yaitu sastra herjendrayuningrat pangruwating dyu, yang terjemahannya, "ilmu yang luhur dan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban".
2. Suci tata ngesti tunggal
Penjelasan bebasnya, "dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan".

3. Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia

Merujuk situs web tersebut, fatwa ini menjelaskan bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama, sama haknya dan sama kewajibannya, sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjaIankan kewajiban kemanusiaan untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia daIam hidup batinnya. Intinya, jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin.
4. Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat
Penjelasan fatwa ini, ”Sebagai peringatan, bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita iaIah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakkan di atas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan bahagia, apabila masyarakat kita terganggu, tidak tertib dan damai. Janganlah mengucapkan 'hak diri' kalau tidak bersama-sama dengan ucapan 'tertib damainya masyarakat', agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing.
5. Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna
Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam, yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa, yang berjalan tertib dan sempuma di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai orang seorang atau individu, sebagai bangsa, maupun sebagai anggota dari alam kemanusiaan.
6. Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan
Penjelasannya, bahwa hidup kita masing-masing itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus tersebut adalah alam diri, alam kebangsaan, dan alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa, dan rasa kemanusiaan, ketiga-tiganya hidup dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia, yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya.
7. Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada sang anak
Dalam mendidik, penghambaan kepada sang anak tidak lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguh pun pengorbanan kita itu kita tujukan kepada sang anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, melainkan diri kita masing-masing. Di samping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara, pada rakyat, dan agama, atau terhadap lainnya. Semua itu tak lain penghambaan pada diri sendiri, untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita sendiri.
8. Tetep–mantep–antep
Dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus memiliki ketetapan hati (tetep), termasuk tekun bekerja, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu mantep, setia dan taat pada asas itu, teguh iman hingga tak ada yang akan dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita. Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita, lalu mantep dan tabah batin kita, segala perbuatan kita akan antep, yaitu berat berisi dan berharga, tak mudah dihambat, ditahan-tahan, dan dilawan oleh orang lain.
9. Ngandel–kendel–bandel
Kita harus ngandel, percaya, kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. Kendel, berani, tidak ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Bandel, yang berarti tahan dan tawakal. Dengan demikian maka kita menjadi kendel, tebal, kuat lahir batin kita, berjuang untuk cita-cita kita.
10. Neng-ning–nung–nang
Dengan meneng (neng), tenteram lahir batin, tidak nervous, kita menjadi wening (ning), bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah, lalu kita menjadi hanung (nung), kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita, hingga akhirnya menang (nang) dan mendapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.

Selasa, 14 Februari 2017

TUKANG GORENGAN JADI SARJANA

https://news.detik.com/berita/d-3422663/kisah-asnawi-mahasiswa-umy-jadi-sarjana-dari-jualan-gorengan

Selasa 14 Feb 2017, 19:15 WIB

Kisah Asnawi, Mahasiswa UMY Jadi Sarjana dari Jualan Gorengan

Bagus Kurniawan - detikNews
Kisah Asnawi, Mahasiswa UMY Jadi Sarjana dari Jualan Gorengan Asnawi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Foto: Dokumen Biro Humas dan Protokol UMY)
Bantul - Asnawi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta asal Bangka, lulus sarjana dengan berjualan gorengan. Asnawi berhasil meraih gelar sarjana ekonomi dengan meraih IPK 3,39.

"Saya pernah bernazar dulu, kalau saya lulus, saya akan pakai toga dengan membawa dagangan ke kampus. Saya ingin menunjukkan, penjual gorengan juga bisa menyelesaikan kuliah. Saya membayar kuliah dan membiayai hidup saya juga pakai ini," kata Awi, panggilan akrabnya, kepada wartawan di Kampus Terpadu UMY di Tamantirto, Bantul, Selasa (14/2/2017).

Awi kemudian bercerita, saat wisuda periode II pada hari Sabtu (11/2) lalu, dia mengenakan toga sambil membawa pikulan dan dagangan gorengan berupa tahu, tempe, dan bakwan di Sportorium UMY.


 Asnawi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Asnawi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Foto: Dokumen Biro Humas dan Protokol UMY)


Dagangan itu bukan lagi dijual seperti hari-hari biasa, namun dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya, baik mahasiswa, orang tua/wali mahasiswa, petugas satpam, hingga tukang parkir.

Dia menjajakan gorengan di sekitar tempat kos, tidak jauh dari kampus tempat berkuliah. Dia berjualan gorengan tidak mengganggu perkuliahan. Tugas-tugas kuliah tetap dikerjakan di tengah kesibukannya berdagang.

"Tugas tetap saya kerjakan, namun kalau harus meninggalkan berjualan ya saya tinggalkan," katanya.

 Asnawi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Asnawi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Foto: Dokumen Biro Humas dan Protokol UMY)


Awi mulai berjualan gorengan pada tahun 2006. Waktu itu, dia harus menanggalkan keinginannya melanjutkan sekolah ke SMA. Setelah lulus SMP, dia harus ikut kedua orang tuanya merantau berjualan gorengan. Selama empat tahun itu pula Awi berjualan gorengan, berpindah-pindah, dan jauh dari kampung.

"Sekolah terhenti dan saya tidak bisa melanjutkan sekolah," katanya.

Baru pada tahun 2009, Awi bisa melanjutkan SMA, meski dari sisi usia sudah agak telat. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dia tetap bersyukur dan menjalaninya hingga lulus SMA.

Menurutnya, pada tahun 2010, saat kenaikan kelas XI SMA, ia dipercaya sekolah untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Yogyakarta. Dia mengikuti program pertukaran pelajar dan ditempatkan di SMKN 7 Yogyakarta.

"Dari situ saya mulai berkeinginan melanjutkan kuliah di Yogyakarta," katanya.

Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Kedua saudara perempuannya juga berjualan untuk menghidupi dirinya masing-masing. Kakak perempuannya mempunyai usaha menjahit, sedangkan adik perempuannya berjualan baju dan kaus.

Untuk menjalani kuliah dan berjualan, Awi mengatur waktunya dengan detail. Setiap hari ia harus bangun pukul 04.00 WIB, kemudian melanjutkan salat subuh.

Setelah salat subuh, ia mulai menyiapkan bahan untuk berjualan. Awi menuju pasar membeli bahan-bahan untuk jualan dan meracik bumbunya. Pada pukul 06.45 WIB, ia sudah harus menyelesaikan pekerjaannya dan menyiapkan dagangannya sebelum berangkat kuliah.

Sepulang kuliah pada pukul 12.30 WIB, dia mulai membuat adonan, lalu menjajakannya dengan berkeliling kampung. Awi menghabiskan waktu berjualan di sekitar kampus hingga pukul 18.00 WIB. Malam hari dilanjutkan untuk kuliah malam jika ada perkuliahan.

"Hari Minggu libur untuk refreshing dan istirahat," katanya.

Pada awal berdagang, Awi mengaku tidak kuat atau putus asa karena dagangan tidak laku. Sebelum berjualan gorengan, Awi sempat berjualan pempek dan mi ayam.

Setelah beralih menjual gorengan, keuntungan yang didapatkan setiap harinya bisa dikatakan cukup besar. Setiap hari rata-rata ia mendapatkan keuntungan dari berjualan gorengan sebesar Rp 300 ribu.

"Setelah itu pelan-pelan usahanya naik. Saya bisa membiayai hidup dan pendidikan sendiri, tanpa meminta uang dari orang tua," katanya.

Awi mengaku, ketika ingin melanjutkan sekolah yang lebih tingi, ada beberapa tetangga yang meremehkan, menghina, bahkan mencacinya.

"Saya pernah dihina. Saya ingat sekali perkataan salah satu tetangga, 'Kamu keahliannya hanya buat gorengan saja, nggak mungkin kamu bisa menyelesaikan pendidikan tinggi,'" katanya.

Saat ini dia ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang S-2, bahkan ingin melanjutkan S-2 di luar negeri.

"Saat ini saya mau pulang kampung dulu sambil mencari pekerjaan di samping berjualan gorengan lagi dengan orang tua. Saya juga ingin mencari beasiswa S-2 ke luar negeri. Saya lebih berminat jadi wirausaha, walau dulu waktu kecil ya cita-citanya jadi presiden," kata Awi tertawa.
(bgs/fdn)