PENDIDIKAN DI FINLANDIA & NEGARA -NEGARA SCANDINAVIA.
Membentuk Anak Bahagia ala Pola Asuh Skandinavia
Kompas.com - 25/11/2017, 12:09 WIB
http://lifestyle.kompas.com/read/2017/11/25/120900720/membentuk-anak-bahagia-ala-pola-asuh-skandinavia
Berbeda dengan orangtua di Asia atau di Amerika Serikat, orangtua di Skandinavia memang tidak membebani buah hati mereka dengan prestasi akademik tinggi.
Mereka lebih suka anak-anak mereka memanjat pohon dibanding belajar alfabet melalui flash card. Anak-anak juga didorong untuk bermain di luar rumah ketimbang menghapal pelajaran.
Nah, ketahui pola asuh apa saja yang mereka terapkan sehingga sering disebut sebagai pola asuh terbaik untuk anak?
- Menghirup udara segar
Mayoritas orangtua di negara Skandinavia selalu ingin buah hatinya menghirup udara segar setiap hari sehingga ada kebiasaan membiarkan bayi mereka tidur siang di luar rumah. Bahkan saat musim dingin dan udara membeku, melihat bayi tertidur di stroler di luar rumah atau kafe adalah pemandangan biasa.
Orangtua di Skandinavia percaya bahwa menghirup udara segar menyehatkan tubuh. Dokter di sana juga merekomendasikannya karena bisa menurunkan paparan kuman dan mengurangi risiko infeksi.
- Bermain kotor-kotoran
Rumah berantakan, bermain kotor-kotoran di luar rumah adalah hal yang alami di dunia anak. Itu sebabnya orangtua di sana tak pernah protes jika anak mereka pulang dengan boot yang kotor, baju tergores semak, atau terciprat lumpur.
Setiap anak didorong untuk bermain di luar rumah, menikmati alam, apa pun cuacanya.
Ilustrasi
Kebiasaan bermain di luar rumah dan berkotor-kotor itu terbukti membuat sistem tubuh anak lebih kuat, tidak gampang alergi dan asma. Tentunya anak pun lebih bugar.
- Tak terobsesi gender
Berbeda dengan budaya di belahan dunia lain, orangtua di negara Skandinavia tidak membuat perayaan khusus terkait jenis kelamin bayinya. Bahkan, dokter dan rumah sakit di negara ini tidak akan menyebutkan jenis kelamin bayi, bahkan saat melakukan USG.
Orangtua biasanya baru tahu jenis kelamin bayinya saat persalinan. Budaya mereka juga membuat orangtua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan setara.
- Anak mandiri
Sejak kecil, setiap anak diajak untuk mandiri. Bukan hanya saat bermain ke taman, ke sekolah pun anak-anak diizinkan berangkat sendiri. Di usia sekitar 9 tahun, pemandangan yang lazim melihat anak-anak berangkat sekolah sendiri dengan berjalan kaki, naik sepeda, atau transportasi publik.
Terbongkar... Rahasia Sukses Pendidikan di Finlandia!
http://edukasi.kompas.com/read/2017/08/07/16293131/terbongkar--rahasia-sukses-pendidikan-di-finlandia-
Kompas.com - 07/08/2017, 16:29 WIB
Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau
Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi
sederhana tentang pendidikan di Finlandia.
Begitu banyak ulasan di Facebook atau Youtube mengenai Finlandia. Beberapa dari kita mungkin juga penasaran, apakah benar di sana murid-murid tidak diberi PR, dan tidak ada ujian?
Apa benar murid-murid di Finlandia tidak dibiarkan menghafal? Kalau benar, pasti menyenangkan sekali. Bukan begitu?
Tak heran, banyak yang penasaran tentang pendidikan di negara kecil jumlah total penduduk tak lebih dari 6 juta orang tersebut. Siswa-siswa Finlandia selalu memperoleh peringkat atas pada tes PISA atau Programme for International Student Assessment.
Dipikir-pikir, apa mungkin negara dengan jumlah penduduk separuh Jakarta ini bisa memiliki kualitas pendidikan tingkat dunia? Apalagi, negara ini tidak seagresif negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, atau Singapura misalnya, yang menyetel pendidikan mereka menjadi lebih cepat.
Di Indonesia, rasa penasaran terhadap pendidikan di negara nordik ini mengemuka kembali. Ini terjadi terutama setelah muncul muncul gagasan untuk memberlakukan sistem full day school dalam sistem pendidikan nasional.
Gagasan yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sejak awal 2016 dan sempat mendapat "lampu hijau" dari Presiden Joko Widodo) itu mendapat bermacam respon penolakan.
Sebagian besar mempertanyakan seberapa jauh durasi sekolah formal mampu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman siswa. Ada yang mengatakan hal ini justru akan membebani siswa, keluarga, bahkan guru.
Tak ayal, banyak juga yang membandingkan dengan sistem pendidikan di negara-negara lain. Dari situlah, orang merujuk pada segala yang terjadi di Finlandia.
Pendidikan ala Finlandia
Apa yang sesungguhnya terjadi di Finlandia barangkali bisa memberi pencerahan. Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia.
Timothy atau akrab disapa Tim menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai mantan guru di AS yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Finlandia. Tim menemukan beberapa kesimpulan.
Pertama, pendidikan di Finlandia sangat memperhatikan kesejahteraan (well-being), baik itu murid maupun guru.
"Di hari-hari pertama mengajar, saya menghabiskan waktu istirahat untuk mengecek materi pengajaran saya atau mengecek email, seperti yang biasa saya lakukan di AS. Sementara itu, guru-guru Finlandia malah bersantai di ruang guru sambil ngopi," tulis Tim.
Tidak berapa lama, seorang guru mendatangi Tim dan mengajaknya bergabung, sambil berkata, "Saya sangat khawatir dengan kesehatan Anda. Apakah Anda tertekan, ingat Anda adalah tuan atas pekerjaan, jangan sampai diperbudak oleh pekerjaan."
Tim melihat itu sebagai salah satu paradigma yang sangat positif. Pendidikan di Finlandia memperhatikan dengan sungguh, kesejahteraan, baik fisik maupun batin setiap individu. Ini tampak pula dalam kebijakan bagi para siswa.
Siswa di Finlandia gemar memanfaatkan waktu rehat untuk bermain dan berkejar-kejaran, bahkan tiap sekolah menyediakan alat bermain. Para siswa juga diminta untuk bergabung di sebuah klub minat dan bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya. Ini sangat memungkinkan sebab total jam sekolah rata-rata hanya 18 jam per minggunya.
Adakah PR di Finlandia?
Sepertinya itu adalah mitos yang telanjur populer, dan sayangnya, menurut Tim, itu tidak benar. Para siswa tetap mendapatkan PR, namun diberikan dengan sangat memperhitungkan tingkat kesulitannya.
Para guru memberikan PR yang tidak berat, bahkan rata-rata dapat dikerjakan dalam waktu 30 menit saja. Intinya, mereka ingin para siswa benar-benar mendapatkan istirahat yang cukup sepulang sekolah, dan dapat melanjutkan aktivitas yang lain.
Selain itu, Tim juga melihat bahwa para siswa rata-rata mandiri. Sekolah dan masyarakat Finlandia bekerja sama untuk mengupayakan siswa-siswa yang mandiri.
Percayalah, Anda akan terkaget-kaget melihat siswa SD yang pergi-pulang sekolah sendirian, naik bus atau kereta. Dari semangat mandiri itulah para siswa terbiasa untuk berpikir dengan cermat, bahkan menembus batasannya.
Selain hal-hal itu, Tim menyebutkan kunci lainnya, seperti upaya untuk memberikan rasa dimiliki atau sense of belonging, ikhtiar untuk mengajarkan hal-hal yang mendasar, kemampuan untuk bersatu dengan alam yang damai, dan masih banyak lagi.
Nasihat Pamungkas
Bab terakhir buku ini berjudul unik: Jangan Lupa Bahagia! Ini merupakan tips pamungkas di penghujung buku.
Tim hendak menggarisbawahi bahwa esensi pendidikan yang sewajarnya berjalan seiring dengan prinsip universal hidup bagi masing-masing orang. Kebahagiaan diberi tempat yang utama dalam kurikulum di Finlandia.
Orang Indonesia tentu sering mendengar banyak orang tua atau guru yang tergoda untuk "mencambuk" anak sendiri untuk bisa menguasai banyak hal di luar kemampuannya. Anak-anak pun bekerja dengan tanpa henti, belajar dengan tergesa-gesa.
Akibatnya apa? Pendidikan berjalan dengan terpaksa sebab lebih seperti sebuah siksaan. Pendidikan menjadi tidak menyenangkan.
Ya, di Finlandia sistem pendidikan yang membahagiakan menjadi fokusnya. Anak yang gembira mempelajari banyak hal dengan enteng.
Tentu saja, masih banyak hal-hal menarik tentang seluk belum pendidikan di Finlandia di buku ini. Anda tertarik untuk membaca lebih lanjut Teach Like Finland?
ADINTO FAJAR/GRASINDO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar