BELAJAR DARI Pa GITA WIRAWAN
MENELISIK DAMPAK TEKNOLOGI (MEDSOS) DALAM KEHIDUPAN
Kritikan yang sangat bagus dari Pa Gita Wirawan soal medsos dalam kehidupan manusia
Tadi saya sampaikan bahwa ini adalah generasi yang diasuh oleh Tiktok dan Instagram. Anakanak kita melihat HP itu 10 jam. Saya mendisiplinkan diri melihat HP lebih dari 2 jam sehari. Dan bagaimana kita melihat bagaimana di rumah tangga itu, orang tua hanya bisa mungkin berdiskusi dengan kualitas yang tinggi dengan anaknya selama 15 menit di waktu sarapan. Mungkin setengah hingga satu jam di waktu makan malam, sisanya mereka melihat platform yang dilihat oleh lebih dari 3 milyar orang tanpa editorialisasi dan kalau itu tidak tereditoralisasi kita harus sadar bahwa anak-anak kita atau kalian terekspose dengan konten-konten uang kalau menurut saya kurang bijaksana dan itu sudah berkorelasi dengan tidak sehatnya kemajuan-kemajuan dalam 3 pilar , yakni.
Pertama dari kalangan orang muda yang sudah semakin terpolarisasi dan ini berkorelasi dengan tingkat depresi . tingkat anxiety (kecemasan) dan tingkat bunuh diri yang meningkat secara berarti. Ini empiris ya kan. .Ini kanker di medsos kita adalah ditemukannya tombol like dan retweet , tombol share di tahun 2019. Ini menurut saya kanker utamanya adalah kesehatan moral, kesehatan mental. Itu pilar pertama yang terpengaruh dengan medsos. Saya tidak mengatakan bahwa medsos jelek tetapi kejelekannya ada dalam sesuatu yang dibikin bagus.
Pilar kedua yang terpengaruh oleh medsos adalah pendidikan di mana polarisasi itu sudah nyata di kalangan akademisi. Polarisasi itu anatara sayap kanan dan sayap kiri. yang mana tidak terjadi spektrum , percakapan spektrum ide. Tetapi intelektual-intelektual di seluruh dunia khusus yang di bidang tersier atau univeritas. Itu yang ke kanan. semakin ke kanan ideologinya. Yang ke kiri semakin ke kiri ideologinya., tidak ada sentra atau sentralisasi .
Yang ketiga adalah dampak medsos terhadap demokrasi liberal. di mana amplifikasi terhadap narasi-narasi yang kurang bijaksana berkat algoritma yang diberdayakan oleh pemilik teknologi, itu disamakan sebagai demokrasi atau demokrasi liberal. Sedangkan narasi-narasi yang bijaksana itu tidak teramplifikasi karena kebanyakab narasi-narasi bijaksana itu ada di silent majority yang tidak berani omong. Nah kita ekstrapolasi saja, 10, 20, 30 tahun ke depan ini akan menyongsong era-era di kemudian hari di mana posisi kepemimpinan itu lebih berdasarkan festivalisasi ataupun sensasionalisasi bukan intelektualisasi. Ini bahaya untuk bukan hanya anak-anak saya saja tetapi juga juga untuk anak-anak kalian. Apakah kita memilih pemimpin warga yang hanya bisa joget tapi tidak bisa berdebat. Ini bukan hanya kejadian unik di Indonesia tetapi ini sudah menjadi kejadi di seluruh dunia. Jadi, ujung-ujungnya, game changeingnya itu bagaimana ? Ya dibudayakanlah budaya baca buku dan budayakanlah kapasitas seseorang untuk bisa menunjukkan keterbukaan. agar kita bisa melihat diri kita sendiri dengan introspeksi semestinya eh gue ini kekurangannya di sini. untuk mengisinya bagaimana dan gua itu harus welcome , skill set yang bisa atau perlu datang dari orang lain.
Sumber WAG: https://web.whatsapp.com/ diposting by Robert Wardy di Keluarga Wela Jakarta.
JPS, 20 Oktober 2022.
________
GITA WIRAWAN
Brian drain = pengurasan otak
Brain linkage =
Brain curculation = Jaringan otak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar