BELAJAR DARI NOMADEN IRAN (IRAN's NOMAD)
Nomadic
life: moving from a difficult path to congratulate parents on the new year
Kehidupan nomaden: beralih dari jalan yang
sulit untuk memberi selamat kepada orang tua di Tahun Baru
https://www.youtube.com/watch?v=eDOa2sW5YCo
Suatu keluarga terdri dari ayah dan ibu serta tiga orng anak. Anak-anak masih kecil. Dua orang , laki dan wanita berumur sekitar 4 - 6 tahun dan seorang lagi sekitar 1- 2 tahun. Mereka melakukan perjalan ke rumah orang tua. Mereka menyiapkan segala yang perlu, termasuk keranjang bayi untuk menggendong anak-yang masih kecil. Di awal perjalnan suami menggendong tas, isti menggendong keranjing bayi yang berisi bayi. Dua anak yang lain berjalan sendiri. Mereka meninggalkan pemukiman yang terletak di tempat yang agak datar. Di situ ada rumah / tenda untuk berteduh. Mereka meninggalkan ternak berupa kambing dan ayam di tempat itu. Istri menggendong kranjang bayi yang berisi bayi. Suami menggendong barang. Mereka tinggal di pinggir sungai yang tampak berwarna kuning karena bdercampur lumpur. Mereka melintasi jalan bebatuan di pinggir sungai. Mereka melewati jalan yang rata lalu mulai mendaki yang berisi tanah dan bebatuan serta disertai rerunputan hijau. Mereka mulai melintasi medan berat dengan jalan smpit bebatuabn. Mereka mulai melawati celah tebing bebatuab. Dua anak itu dibantu orang tua berjalan dengan penuh kepercayaan diri, tak ada rasa takut. Mereka menikmati jalan bebatyuan itu. Di jalan yang sempit di celah batu sempit, suami menolong istrinya yang menggendong keranjang bayi dan bayi supaya tidak terbentukr batu besar di pingir jalan sempit it. Kedua nak - anak mereka bisa jalan sendiri. Mereka berdua berjalan di depan meninggalkan kedua orang tuaa mereka. Lalu suami istri bergantian menggendong keranjang bayi dan bayinya. Istri menggendong tas, suami menggendong leranjang bayi dan bayinya. Bayi tidur anteng dalam keranjangnya. Istri merapihkan kerjanjing bayi dan tali pengikat, pastikan aman karena melewati jalan yang sulit. Mereka menuruni cadas bebatuan. Lalu mendaki bebatuan di pinggir kali. Air kali tampak coklat. Mereka melintasi tebing batu dengan ,emgamdalkan tali sebagai pegangan dan tumpuan di cadas batu di teping itu. Sungguh perjalanan memacu adrenalin. Orang tua membimbing anak-anak melintasi jalanan berbahaya ini. Sungai dengan air keruh terus menderu. Suami istri bahu membahu menolong anak-anak melintasi kawasan beresiko itu. mereka melintasi tebing batu dan titian kayu sambil memenang tali. Orang tua membimbing anak-anak di cadas bebatutuan itu. Tibalah mereka di tebing batu terjal lalu ada kayu bercabang untuk membantu menurunai bagian bebatuan lain. Ayah tutun duluan dengan posisi mebelakangi kayu titian agar bisa mengarahkan. Ketika kakinya menyentuh landasan kuat, dia mengangkat kedua anaknya dengan kedua tangannya. Air kerus terus menderu di sisi utara mereka. Ketika anal lekainya capai, sang ibu menggendongnya melewati cadas bebatuan. Mereka harus tiba di pinggir suangai yang kerush itu. Kedua anak itu tampak haus. Ibu mengantarkannya ke pinggir suangi. Mereka cuci tangan dan terlihat meminum air yang kerush itu. Kasihan juga. Mereka melewati jalan setapak cadas bebatuan itu. Mereka tiba di daerah yang landai dengan rumput segar di sekeliling itu. Sang Ibu menggendong anak lelakinya. Anak perempuan berjalan sendiri. Lalu anak laki-laki itu turun sendiri. Kali ini mereka melintasi jalan terjal lagi. Sang ayah menggendong putranya di atas pundaknya sambil melewati jalan terjal itu. Sang Ibu membimbing anak putrinya. Mereka mendaki bebatuan terjal. Sang ayah menunggu sambil memberikan arahan. Tiba saatnya dia harus menolong istrinya yang menuntuk anak puti mereka. Sang ayah menggendong ketiga anaknya di ajalan terjal. Wow...... . Di jalan yang agak landai mereka membiarkan puta putri mereka berjalan dan berjuang sendiri. Ada kayu meranggas di jalan yang mereka lewati. Suami dan istri dengan tekun membimbing putra - putri mereka. Tampaknya ini salah satu tempat tinggal para noimaden karena tempatnya agak datar, ada bekas api dan kayu bakar. Ada lelaki dan perempyuan dewasa di sini. Mungkin mereka suami istri. . Rupanya ini tempat tinggal untuk keluarga nomaden lainnya. Tampak mereka bercakap-cakap. Keluarga ini melanjutkan perjalnan mereka. Di jalan yang agak baik, mereka membiarkan anak-anak jalan di depan mereka. Lalu di jalan yang agak terjal mereka dibantu kedua orang tua melewati jalan terjal itu. Di suatu jalan terjal suami dan istri bahu membahu membantu anak-anak menreka melewati jalan terjal itu. Mereka tiba di titian kayu dengan tali sebagai pegangan saat melintas. Mereka melintasi jalan bebatuan. Ketika anak-anak salah jalan, ayah mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Di suatu tempat mereka berhenti. Sang ayah menurunkan kernajang bayi , membuka tutupan kernajang lalu menyapa sang anak: "Shalom". Sang anak menantap dengan gembira. Kakak perempuan mengecupinya. Lalu mereka menyeberangi sungai.Bagian bawah pakaian mereka basah karena menyeberangi sungai. Sang Ibu menggendong bayi sambil melompat, dikira mencapai batu ternyata tidak, akhirnya sepatu dan bagian bawah pakaiannya basah. Mereka tertawa. Lalu mereka mulai dengan pendakian bukit batu. Sang ayah menggendong anak putri di pundaknya. Sungguh suatu perjuangan yang luar biasa. Mereka merangkak di bukit batu itu. Sang istri beruaha merangkak sambil menuntuk putra mereka yang merangkak juga. Sang ayah menurunkan putrinya di batu yang agak aman lalu menjemput putranya yang sedang berjuang di bukit batu itu. Ayah mengurukan tangannya menjemput uluran tangan putranya yang juga sedang dalam tuntunan ibunya. Suami istri bekerja sama membantu anak-anak mereka. Istrinya melontat dari tebing menuju batu yang sudah ditempati suami dan anak-anaknya. Dia melompak dengan aman. Dari batu yang agak bulat itu mereka turun ke sungai. Suami bersentuhan dengan air lain, istri melompat dari batu sehingga tidak bersentuhan banyak dengai air sungai. . Di tempat ini air kali agak bersih. Mereka melanjutkan perjalanan. Mereka jalan di pinggir kali. Ada deruan air yang jatuh dari temoat tinggi. Mereka menyeberangi sungai. Ayak-anak mereka gendong. Beberapa kali mereka melintasi air sungai. Kaki mereka , suami istri menyentuh air. Di suatu cadas, ayah menyeberangi sungai yang sala sambil menggendong anak puti dan putranya secara bergantian. Sang istri melompak dari batu sebelah ke batu sebelahnya lagi. Selanjutnya mereka memanjat titian kayu . Itu jalanan sempit karena berada di celah 2 batu besar. Ayah dan ibu bahu membahu membantu melewati putra putri mereka melewati tempat itu. Suami membantu istri melawati medan berat itu. Suami dan istri saling mengulirkan tangan. Suami menarik istri ke atas sehingga bisa melewati titian kayu di lubang celah batu itu. Ternyata di tempat itu sudah ada seolrang lelaki dewasa. Di suatu tempat tampak ada seorang lelaki dewasa. Mungkin keluarga yang datang untuk menjemput mereka. Mereka bersalaman. Lelaki itu membantu menggendong anak putri dan putra secara bergantian. Anak putri di tempat di seberang kali, lalu menjempour menggendong anak putra. . Mereka masih melewati bebatuan besar di kelokan uanga yang mereka sudah lewati berkali-kali. Di jalan batu besar jerjal mereka berjuang lagi. Ayah membantu menuntuk kedua anak mereka, istri membantu menguatkan suami dengan memegang keranjang bayi yang digendongnya. Mereka menaiki titian kayu smabil memegang tali untuk bisa mencapai batu besar. Suani pertama merangkak di titian kayu dan batu besar itu. Setelah sampai di batu besar, dia turun mengulurkan tangan menolong anak -anak. Pria dewasa membantu anak-anak melewati titian kayu dan batu besar itu. Sang ibu membantu. Jadi, ayah di batu besar, laki-laki dewasa di titian kayu dan sang ibu di batu bawah mengangkat nak-anak lau diserahkan ke lelaki dewasa lalu lelaki dewasa menyerahkan ke ayah anak-anak. Sungguh suatu kerja team yang luar biasa. Sang ibu merangkat terakhir di titian kayu dan batu itu. Di sebelah kanan mereka air sungai masih menderu mengalir ketinggian melewati kawasan bebatuan. Ini salah satu medan yang tersulit yang mereka lewati. Mereka lelah. Mereka beristirahat sejenak, memberikan ASI kepada anak bungsu yang mereka gendong. Sang ayah merebahkan diri sambil bersandar di batu besar itu. Mereka melanjutkan perjalanan. Di tempat yang agak rata, anak-anak berlari di pinggir kali. Istri membantu suami merapihkan keranjang bayi ketika hendak melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi mereka melintasi kali. Kali tampak agak bersih. Lelaki dewasi menggendong kedaua anak itu melwati sungai lalu menaiki tangga besi. Jalan tangga besi di batu panjang terjal ini salah satu medan yang berat juga. Mereka melewati kali lagi. Lelaki dewasa memberikan topinya kepada anak perempuan untuk dipakainya. Lalu ia menggendongnya.. Anak putri dan putra digendungnya di kiri dan kanaknya saat melintasi kali. Di suatu air terjun, ada tangga besi lagi. Mereka melwati kali itu lagi untuk mencapai tangga besi itu. Ayah lebih awal mendaki tangga besi itu. Di bagian atasnya ada celah sempit yang diapit batu lagi. Lelaki dewasa itu memberikan jaketnya kepada anak perempuan itu untuk dikenakannya lalu menggendongnya untuk menaiki tangga besi dan celah sempit it, Sang ibu menggendong anak putranya melewati tempat itu. Lagi-lagi, ini salah satu medan yang sulit yang mereka lewati. Air suangi terus bergemuruh mengalir di celah batu. Sang ayah sudah menunggu di atas untuk menarik anak-anak dan mereka yang lain. Mereka tetap melintasi jalan benaruan di daerah aliran sungai itu. Mereka melewati suangai lagi. Mereka tida di cadar batu dan tebing. Air terus menderu. Air jatuh di batu sehingga menimbukan suara menderu dan berisik. Di sini mereka tiga bekerja sebagai team untuk menyeberangkan anak-anak melewati sungai. Lelaki dewasa menyeberang duluan. Lalu ia menjemput 2 anak yang diangkat oleh ibu lalu serahkan kepada ayah lalu ke laki -laki dewasa. Setelah itu sang suamni dan laki-laki dewasa membantu menyeberangkan sang Ib dengan menarik tangannya. Sang suami membantuanya juga. Setalah itu lelaki dewasa menolong sang bapak yang setia menggendong anak putanya di dalam keranjang bayi. Mereka melewati lubang baru yang tampak seperti gua di pinggiran kali itu. Mereka menyentuh air di pinggir cadas batu lalu mulai mendaki cadasa batu lagi. Mereka saling membantu. Mereka tiba di puncak batu. Suatu pendakian yang tidak mudah. Mereka tiba di tempat yang agak landai. Mereka istirahat sebentar. Sang ayah menurunkan keranjang bayi lalu mengangkat putranya lalu digendongnya di depan sambil punggunggnya menggendong tas. Sang istri menikul keranjang bayi. . Lelaki dewasa menggendong anak perempuan yang tampaknya kelelahan. Mereka berjalan di jalan landai. Kedua anak -anak berjalan sendiri. Lelaki dewasa menggendong anak lelaki. Mereka lagi-lagi melintasi kali tapi debitnya sedang. Lagi-lagi mereka menyeberang kali. Ternyata dekat temapat itu ada jalan raya dan mobil pick up telah parkir di situ untuk membawa mereka ke rumah orang tua mereka. Selanjutnya mereka menggunakan pick up. Di kejauhan tampak perkampuangan karena ada terang listrik. Mereka tiba malam di rumah bapa dan mama mereka.
Installing a ladder on the path of Iranian nomads
( Memasang tangga di jalur pengembara Iran)
https://www.youtube.com/watch?v=WjTkzOKlBQg
Sekelompok nomaden Iran , mereka sepakat untuk menancapkan suatu tangga di tebing sungai. Mereka menyiapkan material dan fasilitas yang dibutuhkan seperti tangga, sekop, semen, ember, tali. Mereka berjalan membawa materail kerja seperti semen, tangga, sekop, tali. Seorang perempuan dewasa mengikuti mereka, mungkin untuk mentiapkan maknan dan minuman, semacam seksi konsumsi. Mereka melintasi kawasan sungai dan pegunungan bebatuan yang terjal, curam, sulit dan menantang. Masing-masing berusaha mengambil bagian dan bertanggung jawab dalam perjuangan ini. Mereka sepakat memasang tangga besi di daerah yang sangat sulit di ngarai sungai. Dengan semagat kebersamaan mereka berjuang mengatasi tantangan. Mereka bekerja sebagai team. Di tempat terjal mereka menurunkan tangga dengan sambil mengontrolnya menggunakan ikatan tali di ujung tangga. Nereka tampil sebagai sesama manuisa yang saling menolong. Mereka bahu membahu menanamkan besi itu pada cadas batu. Ada yang mencari pasir di kali, ada yang mengambil air, semen yang mereka pikul dengan tas dicampurkan dengan pasir dan air. Lalu mereka ikat tangga itu sehingga tidak bergerak. Sungguh suatu kerja sama yang sangat kompak. Mereka sehati sejiwa mengatasi tantangan itu. Mereka mengaduk campuran dengan tanah. Mereka mengecet tangga besi itu biar awer. Campuran yang mereka aduk dengan tangan mereka taruh di batu untuk dijadikan tumpuan untuk melangkah dan pegangan saat merangkat menaiki dan menuruni curaman batu yang panjang. Dalam situasi yang demikain, ada seorang yang sholat di alam. Wow..... tidak lupa berpasrah kepada Allah. Seorang Ibu dibantu para lelaki membantu mencari kayu lalu menyalakan api untuk memasak makanan. Mereka membantu orang lain yang sedang dalam perjalanan menurunkan tangga yang sedang dibuat. Ada suatu keluargsa yang terdiri dari seorang ayah dan ibu dan 2 orang anak perempuan yng melewati tangga yang sedang mereka buat. Ketika itu sudah selesai dikerjakan mereka membersihkan diri di sungai. Lalu mereka berkumpul di tempat yang agak rata. Perempuan dewasa membakar makanan. Mereka minum teh ala Iran dan minum susu ala Iran . Mereka memanggang daging . Mereka adalah kelompok orang pemberani, tidak menyerah pada keadaan, selalu berusaha mencari solusi atas masalah. Mereka membentangkan tikar di alam lalu makan dan makan bersama di alam terbuka.
JPS, 26 Oktober 2023.
_______
In the hot season, Iranian nomads take shelter at the foot of the mountains
Suami memukuli istrinya. Istri dan ke 3 anaknya pergi meninggalkan rumah. Istinya, meminta Darius suaminya untuk membantu menjaga anaknya karena ian mengurus dapur.
_________
Twists of Fate: The Tale of the Second Wife in Nomadic Culture | Part 2 | DENA Nomads 🏕️❤️
165.261 penayangan 1 Sep 2023 #nomadlifestyle #nomadic #nomadiclifestyle
Mulailah perjalanan yang sangat menyentuh ke jantung permadani sosial
kompleks DENA Nomads dengan kisah memukau tentang istri kedua. Seiring dengan
berkembang dan berkembangnya budaya di seluruh dunia, Pengembara DENA
melestarikan beberapa tradisi kuno, salah satunya melibatkan ikatan poligami.
Di Bagian 2 dari kisah menawan ini, selidiki dinamika rumit, emosi, dan cobaan
yang dihadapi oleh istri kedua saat dia menavigasi posisinya dalam keluarga dan
komunitas yang lebih luas.
Melangkah ke dalam keluarga yang sudah mapan, protagonis kita bergulat
dengan penerimaan, pemahaman perannya, dan perebutan kekuasaan diam-diam yang
sering terjadi di balik bayang-bayang tenda nomaden. Saat hubungan diuji, dan
ikatan semakin kuat atau retak, pemirsa diajak untuk merenungkan cinta,
kesetiaan, norma-norma sosial, dan pengorbanan yang dilakukan atas nama
tradisi.
Nomadic Chronicles: A Mother's Escape - The Quest for Safety (Part 3)
Nomadic Chronicles: Pelarian Seorang Ibu - Pencarian Keamanan (Bagian 3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar