BELAJAR DARI ORANG CINA
"Belajarlah sampai ke Negri Cina" demikian bunyi suatu pepatah.
https://www.youtube.com/watch?v=FdBJxIApJJU
Di tebing dengan ketinggian 1400 meter di tas permukaan laut (dpl), terdapat sebuah desa yang telah dihuni selam lebih dari 200 tahun. Desa itu bernama Atuleer, terletak di atas Gunung Daliangshan. Atuleer berada di Kecamatan Zhiermo Kabupaten Liangshan Provinsi Sichuan, Cina. Desa ini benar-benar terissolasi dari dunia luar. Akses ke sana hanya dapat dilalui lewat jalur tangga 2556 anak tangga. Namun, yang membuatnya lebih luar biasa adalah kenyataannya adalah tangga ini memiliki penurunan vertikal sekitar 800 meter. yang setara dengan memanjat lebih dari 200 lantai gedung timggi. Penduduk desa harus melintasi tangga ini setiap hari untuk mengakses dunia luar. Sedangkan bagi anak usia sekolah, menaiki tangga berbahaya ini neruokan suatu keharusan. Karena desa tersebut, maka tidak praktis untuk membuka sekolah di sana. Karena perjalanan yang berbahaya dan menantang, anak-anak harus tinggal di asrama sekolah dan kembali ke rumah mereka setiap akhir pekan. Beberapa dari mereka hanya kembali setiap 2 minggu sekali. Setiap kali mereka naik dan turun gunung, para orang tua mereka bergiliran untuk menangkut anak-anak yang membawa ransel berisi buku-buku dan pekerjaan rumah mereka. Mereka dengan sangat hati - hati mendaki gunung di bawah perlindungan orang tua. Mere bergerak secara bersama - sama. Jika terlihat ada yang tertinggal di belakang, para orang tua menyesuaikan kecepatan rombongan dan mengatur tempat istirahat di tempat yang relatif aman. Anak-anak haris jalan di jalan pegunungan yang terjal dan sempit untuk mencapai sekolah setiap harinya. Di salah satu sisi jalan ada tebing dan di sisi lain terdapat jurang. Beberapa bagian jalan lebarnya kurang dari setengah meter (0,5 m) dan anak-anak harus berjalan satu barisan. Mereka harus menaiki tangga kayu di tebing dan berjalan selama lebih dari satu jam di jalur pegunungan untuk mencapai sekolah. Para penduduk desa yang telah terbiasa hidup di sana dari generasi ke generasi terkadang harus turun dan naik tangga ini juga sambil membawa hasil pertanian untuk dijual di pasar terdekat. Hal yang sma berlaku juga ketika mereka kembali ke rumah. Mereka menghabiskan anatar 2 hingga 4 jam menaiki tangga yang curam sebelum mereka mencapai rumah mereka. Perjalnan ini tidak hnaya menantang tetapi juga sangat berbahaya. Kondisi cuaca bisa berubah secara drastis dan hujan dapat membuat tangga menjadi sangat licin . Kita hanya bisa membayangkan pa yang kan terjadi jika seseorang terpeleset saat menaiki atau menuruni tangga. Mereka adalah individu yang berani dan tangguh yang telah mengukir / mengukur jalur di atas tebing ini.. Penduduk desa menceriterakan bahwa nenek moyang mereka memilih lokasi terpencil ini dalam upaya untuk menghindari perang dan konflik suku. Bagi mereka, membangun desa terpencil sekarang membutuhkan keberanian besar untuk menaklukkannya. dan juga merupakan warisan berharga dari nenek moyang mereka yang harus dilestarikan. Oleh karena itu pemikiran untuk tinggal di tempat lain tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Biasanya penduduk desa menghidupi diri mereka sendiri dengan beternak dan becocok tanam seperti menanam jagung dan kentang. Sayangnya mereka tidak dapat menjual sebagaian besar hasil panen pertanian mereka karena lokasi yang tidak dapat diakses dengan mudah sehingga tidak bisa menjual hasil bumi mereka. Mereka sangat sulit mendapatkan pendapatkan yang besar. Penduduk desa Aluleer hidup dalam isolasi yang ekstrim, di mana meraka bergantung pada persediaan makanan yang sangat terbatas dan tidak memiliki akses yang memadai terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Dalam keadaan seperti itu masa depan yang lebih baik tampaknya seperti mimpi yang jauh dari kenyataan. Namun semuanya berubah ketika pada tahun 2020 proyek jalan besi dimulai . Ini adalah proyek monumental yang melibatkan pembangunan jalan besi stinggi 800 meter yang menghubungkan desa dengan dunia luar. Proyek ini tidak hanya mrupakan pencapaian tehnik yang terbaik tetapi juga meruapkan simbol harapan dan perubahan. Bagi warga desa ini tidak hanya membuka akses terhadap sumber daya dan pelayanan yang lebih baik tetapi juga membuka peluang pariwisata. Meskipun jalan besi membuka pintu ke dunia luar namun tidak semua warga desa Atuleer memilih untuk pindah ke tempat lain. Ada beberapa alasan mengapa beberapa dari mereka memilih tinggal di desa yang menjadi rumah mereka selama bertahun-tahun. Salah satu alasan utamanya adalah sebagian besar penduduk desa memiliki ikatan yang mendalam dengan tanah mereka dan merasa sulit untuk keluar dari kampung halaman mereka.
JPS, 15 Februari 2024.
(Penduduk 'Desa Tebing' setinggi 800 meter
di Tiongkok bermukim kembali di kota)
https://www.youtube.com/watch?v=KzlilAdDfNI
JPS, 15 Februari 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=cv5tKiWO92Y
JPS, 15 Februari 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=C3PG57tcuWI
Di tengah kondisi yang hampir putus asa, seorang laki-laki bernama Huang Dafa, yang kala itu menjabat sebagai kepala desa Caowangba, bertekad untuk menggali kanal melewati jantung tiga gunung untuk membawa air ke desanya yang dilanda kekeringan yang sangat brutal. Sebuah ide yang mustahil, tetapi akhirnya bisa terwujud setelah puluhan tahun.
Huang Dafa membangun saliran (dam) air memulai proyek ini sendiri, Namun, kemudian warga kampung mendukungnya.
JPS, 15 Februari 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=b9QKkGc-mSI
JPS, 15 Februari 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=peOGYWoycS8
JPS, 15 Februari 2024.
https://www.youtube.com/watch?v=9bX6pc936CU
JPS, 15 Februari 2024.
Tangga Rotan, Tangga Baja Sampai Tangga Rumah Baru—Jalan Perkembangan Desa di atas Tebing
https://indonesian.cri.cn/20200529/9ce86248-1b58-3ea7-2460-9864d2fd20b6.html
JPS, 15 Februari 2024.