Rabu, 14 Februari 2024

BELAJAR DARI ORANG CINA

 BELAJAR DARI ORANG CINA

"Belajarlah sampai ke Negri Cina"  demikian  bunyi suatu pepatah. 


 Kecamatan Zhiermo Kabupaten Liangshan Provinsi Sichuan Cina.  Desa ini benar-benar terissolasi dari dunia luar.  Akses ke sana hanya dapat dilalui  lewat  jalur tangga  2556 anak tangga.  Namun, yang membuatnya lebih luar biasa adalah  kenyataannya  adalah tangga ini  memiliki penurunan vertikal sekitar 800 meter.  yang setara dengan memanjat lebih dari  200 lantai  gedung   timggi.   Penduduk desa  harus melintasi  tangga ini setiap hari   untuk mengakses  dunia luar.   Sedangkan bagi anak usia sekolah, menaiki tangga berbahaya ini  neruokan suatu keharusan. Karena desa tersebut, maka tidak praktis untuk membuka sekolah di sana.  Karena perjalanan yang berbahaya dan menantang, anak-anak harus  tinggal di asrama sekolah  dan kembali  ke rumah mereka setiap akhir pekan. Beberapa dari mereka hanya  kembali setiap 2 minggu sekali.  Setiap kali mereka naik dan turun gunung, para orang tua mereka  bergiliran untuk menangkut anak-anak yang  membawa ransel  berisi buku-buku  dan pekerjaan rumah mereka.  Mereka dengan sangat hati - hati mendaki gunung  di bawah perlindungan orang tua.  Mere bergerak secara bersama - sama.    Jika terlihat ada yang tertinggal di  belakang, para orang tua  menyesuaikan kecepatan rombongan  dan mengatur tempat istirahat   di tempat yang relatif aman.   Anak-anak haris jalan di jalan pegunungan yang terjal  dan sempit untuk mencapai sekolah setiap harinya.  Di salah satu sisi jalan ada tebing  dan  di sisi lain terdapat jurang.  Beberapa bagian jalan lebarnya kurang dari setengah meter  (0,5 m) dan anak-anak harus berjalan satu barisan.   Mereka harus menaiki tangga kayu di tebing  dan berjalan selama lebih dari satu jam  di jalur pegunungan untuk mencapai sekolah.  Para penduduk desa yang telah terbiasa  hidup di sana  dari generasi ke generasi  terkadang  harus turun dan naik tangga ini juga  sambil membawa hasil pertanian   untuk dijual di pasar terdekat.  Hal yang sma  berlaku juga  ketika mereka kembali ke rumah.  Mereka menghabiskan anatar 2 hingga  4 jam   menaiki  tangga yang  curam  sebelum mereka mencapai  rumah mereka.   Perjalnan ini tidak hnaya menantang tetapi juga   sangat berbahaya.  Kondisi cuaca  bisa  berubah secara  drastis   dan hujan dapat membuat tangga menjadi sangat licin . Kita hanya  bisa membayangkan  pa yang kan terjadi jika seseorang   terpeleset saat  menaiki atau menuruni tangga.  Mereka adalah individu  yang berani dan tangguh   yang telah mengukir / mengukur  jalur  di atas tebing ini..   Penduduk  desa menceriterakan bahwa nenek moyang mereka  memilih lokasi terpencil ini   dalam upaya  untuk menghindari perang   dan konflik suku.     Bagi mereka, membangun desa terpencil sekarang   membutuhkan keberanian  besar  untuk menaklukkannya.  dan juga merupakan warisan berharga   dari nenek moyang mereka  yang harus dilestarikan.   Oleh karena itu pemikiran untuk tinggal di tempat lain   tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka.   Biasanya penduduk desa   menghidupi diri mereka sendiri  dengan beternak dan becocok tanam   seperti menanam jagung dan kentang.   Sayangnya mereka  tidak dapat menjual sebagaian  besar hasil  panen pertanian mereka   karena lokasi yang tidak dapat diakses  dengan  mudah sehingga  tidak  bisa menjual hasil bumi  mereka.  Mereka sangat sulit mendapatkan pendapatkan yang besar.  Penduduk desa  Aluleer  hidup dalam isolasi yang ekstrim, di mana meraka  bergantung pada persediaan makanan  yang sangat terbatas dan tidak memiliki akses yang memadai  terhadap layanan kesehatan  dan pendidikan.  Dalam keadaan seperti itu masa depan yang lebih baik tampaknya seperti   mimpi yang jauh dari kenyataan.  Namun semuanya berubah ketika pada tahun  2020   proyek jalan besi dimulai . Ini adalah proyek monumental   yang melibatkan pembangunan jalan besi  stinggi 800 meter yang menghubungkan desa dengan dunia luar.   Proyek ini tidak hanya mrupakan pencapaian tehnik yang   terbaik tetapi   juga meruapkan simbol harapan dan perubahan. Bagi warga desa ini tidak hanya membuka  akses    terhadap sumber daya dan  pelayanan yang lebih baik tetapi juga  membuka peluang pariwisata. Meskipun jalan besi  membuka pintu ke dunia luar   namun tidak semua warga desa  Atuleer  memilih untuk pindah  ke tempat lain.  Ada beberapa alasan mengapa  beberapa dari mereka  memilih tinggal di desa yang  menjadi rumah mereka  selama bertahun-tahun. Salah satu alasan utamanya adalah  sebagian besar penduduk   desa memiliki ikatan  yang mendalam dengan tanah mereka  dan merasa  sulit  untuk keluar   dari kampung halaman mereka.  

JPS, 15 Februari 2024. 


https://www.youtube.com/watch?v=KzlilAdDfNI


JPS, 15 Februari 2024. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar