Meneladani Jakob Oetama
Selasa 02 Oktober 2018, 13:28 WIB
"Common Sense" Ishadi SK
https://news.detik.com/kolom/d-4238403/meneladani-jakob-oetama#main
Ishadi SK - detikNews
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -
Pada Kamis, 27 September ratusan karyawan telah berkerumun sejak pagi
di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Sementara itu, di lantai 6 tempat
Pak JO (demikian Jakob Oetama biasa disapa) berkantor tiap hari hingga
sekarang, sekelompok karyawan yang lain berlatih beberapa lagu, di
antaranya "
kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati" dan
Oh My Papa,
lagu lawas yang menjadi kesukaan Pak JO. Pukul 08.30, JO masuk ke ruang
kerja, serentak karyawan menyampaikan selamat seraya menyanyikan lagu
kesayangannya tersebut. Hari itu Pak JO berulang tahun ke-87.
Suasana
meriah sekaligus mengharukan, melihat betapa karyawan Kompas Gramedia
sangat menghormati, mencintai, dan menyayangi JO. Memang luar biasa,
menyelesaikan sekolah SMA Seminari pada 1951, JO melanjutkan sekolahnya
di Seminari Tinggi Kota Baru Yogyakarta, namun hanya 3 bulan ia
mengundurkan diri. Keputusan mundur dari pendidikan seminari itu
mengecewakan khususnya orangtuanya, maupun para pengasuh seminari. JO
kemudian sekolah Publisistik di UGM, sekolah yang mengubah sejarah
kehidupannya dari calon pastor menjadi calon jurnalis.
April 1961, begitu selesai kuliah Publisistik di UGM, dia diajak PK Ojong, pendiri majalah mingguan
Star Weekly, mendirikan majalah bulanan
Intisari. Terbit pertama kali Agustus 1963,
Intisari segera berkembang diminati khalayak. Masyarakat menginginkan sebuah bacaan yang syarat dengan ilmu pengetahuan seperti
Reader's Digest.
JO merekrut Swantoro, J. Adisubrata, Indra Gunawan, Kurnia Munaba, dan
Irawati SH --lulusan FH UNDIP Semarang yang menyatakan rela tidak
dibayar berbulan-bulan asal diperbolehkan bergabung di
Intisari. Kelompok ini kemudian menjadi cikal bakal kekuatan Harian
Kompas yang didirikan 28 Juni 1965, sebuah harian yang didukung oleh umat Katolik.
Zaman itu koran memang terbagi dalam berbagai kepentingan sosial, agama, maupun politik, mulai dengan
Abadi (Masyumi),
Duta Masyarakat (Partai NU),
Suluh Indonesia dan
Suluh Marhain (PNI);
Harian Rakyat, Harian Bintang Timur, Warta Bhakti (PKI);
Pedoman, Harian Nusantara (PSI), dan
Sinar Harapan (Protestan). Serta, berbagai koran partisan lainnya.
JO
mengakui belajar jurnalistik dari PK Ojong yang dianggap kuat di bidang
humaniora serta prinsip nilai-nilai kemajuan, juga dari Mochtar Lubis,
sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, dan Rosihan Anwar yang
pakar dalam menorehkan tulisan jurnalistik yang juga kuat dalam
persoalan humaniora.
Kompas perlahan namun pasti
berkembang menjadi koran independen yang disukai pembaca dari kelompok
agama maupun aliran politik mana pun. Meskipun amat sangat menjaga
independensi,
Kompas tidak luput dari turbulensi. Pada 21 Januari 1978,
Kompas
menjadi salah satu dari koran dan majalah yang dilarang terbit oleh
Presiden Soeharto. Tiga minggu kemudian pemerintah mengizinkan
Kompas
terbit kembali asal bersedia menandatangani pertanyaan tertulis yang
isinya permintaan maaf sekaligus berjanji tidak akan memuat tulisan yang
menyinggung penguasa. JO dan PK Ojong saling beda pendapat. PK Ojong
menolak keras, dan lebih baik menutup
Kompas selama-lamanya
sementara JO kemudian tampil ke depan dan menandatangani permintaan maaf
serta janji kesetiaan kepada pemerintah.
Hingga 20 tahun
kemudian JO memegang teguh janjinya untuk tidak melakukan kritik terbuka
dan vulgar. Sikapnya yang hati-hati sering menjadi bahan cemooh
pembaca. Rosihan Anwar, pemimpin harian
Pedoman, menyebut
Kompas
sebagai jurnalistik kepiting. Artinya, selalu menata kata dalam menulis
kritikan terhadap pemerintah. Kalau dirasa membahayakan, layaknya "kaki
kepiting" bisa mundur beberapa langkah.
JO sadar melihat
kelemahan ini dan mengimbanginya dengan jurnalisme berkualitas. Lewat
kemampuan profesional para jurnalisnya, secara terus-menerus
Kompas
juga dikenal memberi ruang bagi para pengambil keputusan, khususnya
para tim ekonomi pemerintah untuk menjelaskan secara jujur dan lengkap
apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan.
Akhirnya,
Kompas
tidak lagi menjadi koran biasa tapi menjadi forum diskusi intelektual
yang bernas. Ini yang membuatnya beda dan tidak bisa ditiru koran lain.
Selama berpuluh tahun JO kemudian menjadi tempat untuk menguji kebenaran
hakiki. Kualitas wartawan ditingkatkan, antara lain dengan peningkatan
gaji dan pendapatan bersaing dengan surat kabar lain yang ada. Ini yang
menyebabkan wartawan "betah" dan berdedikasi penuh menjaga kualitas
jurnalistiknya dengan cara lebih akurat, lebih lengkap, dan lebih cepat.
Sejak awal JO menyadari bahwa usaha media rawan terhadap guncangan politik. Pada Februari 1970, dirilis usaha Toko Buku
Gramedia.
JO juga menyetujui ketika diusulkan untuk memulai usaha baru di sektor
perhotelan. Diawali dengan mendirikan hotel kecil di Jalan Sumatera,
Bandung, Santika Group berkembang pesat hingga mencapai lebih dari 100
hotel di Indonesia. Grup ini juga berhasil membangun
Convention Center
terbesar di Indonesia, yakni di Nusa Dua Bali dan BSD Jakarta. Hotel
Santika di Nusa Dua menjadi lokasi utama Pertemuan Tingkat Tinggi Dunia,
dan akan menjadi lokasi IMF dan World Bank Annual Meeting bulan ini.
Di
usia yang ke-78, Jakob Oetama telah membangun sebuah kelompok usaha
media yang komprehensif dan menjadi Kompas Indonesia yang sesungguhnya.
Tidak hanya di media cetak, namun juga media
online, termasuk televisi; Trans 7 (berasal dari TV 7 yang pada 2006 diakuisisi 55% sahamnya oleh CT Corp) dan Kompas TV.
Jakob
Oetama tidak pernah memberhentikan karyawan. Mereka yang memasuki usia
pensiun ditawari kerja di berbagai usaha non media Kompas Gramedia yang
ada.
Melihat perkembangan yang demikian pesat usahanya, pada 2012
ketika Kompas Gramedia berusia 50 tahun, JO menulis: "Pohon yang kita
tanam berbuah mekar, berkembang sehingga jadi berkat yang bermanfaat
bagi sebanyak mungkin orang".
Ishadi SK Komisaris Transmedia
(mmu/mmu)