Minggu, 22 April 2018

PENDIDIKAN INDONESIA DALAM LENSA DUNIA

PENDIDIKAN INDONESIA DALAM LENSA DUNIA

Peringkat Pendidikan Indonesia di Dunia

05/21/2017
 
 

Indonesia menduduki peringkat 62 dari 72 negara di dunia.

Menurut laporan PISA 2015 - program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara, - Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau peringkat 71. 
PISA membuat peringkat tersebut dengan cara menguji pelajar usia 15 tahun untuk mengetahui apakah mereka memiliki kemampuan dan pengetahuan - di bidang ilmu pengetahuan alam, membaca, dan matematika - yang diperlukan agar bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat modern. PISA berlandaskan asumsi bahwa seseorang bisa sukses di ekonomi modern bukan karena apa yang mereka tahu, tetapi apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka tahu.
Negara apa yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia?
5 negara di peringkat teratas PISA 2015:
  • Singapura
  • Jepang
  • Estonia
  • Taipei
  • Finlandia
Selain itu, NJ MED merilis hasil Polling Pendidikan Nasional - disusun dari bermacam sumber data, di antaranya PISA - yang mengurutkan sistem pendidikan 209 negara untuk memperlihatkan bagaimana negara-negara menyiapkan generasi muda mereka untuk sistem ekonomi abad ke-21 yang berbasis pengetahuan dan global.
5 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia versi NF MED 2017:
  • Finlandia
  • Jepang
  • Korea Selatan
  • Denmark
  • Russia
Mengapa sistem pendidikan mereka dianggap baik?
Berdasarkan penilaian PISA, sistem pendidikan yang baik adalah ketika para murid mendapatkan nilai lebih tinggi di bidang ilmu pengetahuan alam serta punya keyakinan lebih kuat pada pentingnya pertanyaan saintifik dan lebih cenderung berekspektasi untuk bekerja di bidang pekerjaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Hal ini bisa dicapai jika guru sering menjelaskan dan mendemonstrasikan ide-ide saintifik serta mendiskusikan pertanyaan murid.
Di Finlandia, anak-anak tidak dilatih dalam bidang akademik secara formal sebelum berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, mereka belajar melalui bermain, lagu, dan percakapan. Sebagian besar anak berjalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Jam sekolah pendek dan pekerjaan rumah biasanya ringan.
Sekolah Finlandia juga memberi istirahat selama 15 menit per jam untuk aktivitas bermain di luar ruangan. Menurut mereka, udara segar, alam, dan aktivitas fisik yang dilakukan rutin adalah bagian dari pembelajaran.
Finlandia tidak membuang-buang waktu atau uang untuk ujian standardisasi berkualitas rendah. Sebaliknya, tiap hari anak-anak dinilai melalui observasi langsung dan quiz oleh para guru. Ketika belajar di kelas, anak-anak diperbolehkan sekali-sekali bersenang-senang, tertawa, dan melamun.
Suasana emosional dalam kelas di Finlandia hangat, aman, saling menghormati dan sangat suportif. Finlandia mempraktikkan wejangan budaya klasik: Biarkan anak-anak menjadi anak-anak. Tugas anak-anak adalah bermain. Cara terbaik bagi anak untuk belajar adalah dengan bermain.
Bagaimana sistem pendidikan di Indonesia?
Sebenarnya, Indonesia menginvestasikan banyak sumber daya di bidang pendidikan - peringkat keempat dari 69 negara yang diurutkan oleh PISA. Pendidikan mendominasi pengeluaran sosial Indonesia dan 20 persen anggaran Indonesia dialokasikan di bidang pendidikan. Namun, ini bukan berarti semua sekolah di Indonesia memiliki semua yang mereka butuhkan karena sekolah di beberapa daerah masih belum difasilitasi dengan memadai.
Pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, berdasarkan riset PISA, belum mampu menyiapkan murid dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis sebagaimana seorang ilmuwan perlukan serta belum mampu menginspirasi murid untuk bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang apapun. Padahal, tanpa murid yang kemampuannya bagus, universitas di Indonesia tidak akan bisa memperluas dan memperkuat program riset mereka dan meningkatkan posisi mereka di dunia internasional.
Akibatnya, bidang swasta akan kesulitan berkompetisi secara internasional dalam penciptaan pengetahuan sehingga akan lebih sulit bagi Indonesia untuk bertransisi ke sistem ekonomi berbasis pengetahuan. Sedikitnya peneliti dan ilmuwan juga berarti lebih sedikit pengetahuan dan penelitian tersedia untuk membantu pengambil kebijakan membuat keputusan.
Pada Agustus 2015, di Konferensi Internasional tentang Praktik Pengembangan dan Kebijakan Terbaik yang diselenggarakan Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, ahli perkembangan sosial World Bank Michael Woolcock menyatakan Indonesia telah membangun sekolah, membuat kebijakan dan peraturan utama, merekrut banyak guru serta mengumpulkan dan menganalisis data. Namun, Indonesia belum memiliki cetak biru atau solusi kunci atas permasalahan-permasalahan ini.
Walau Indonesia mungkin lebih membutuhkan ribuan jawaban sederhana yang berbasis penelitian berkualitas bagus tentang apa permasalahannya, apa yang bisa menyelesaikannya dan apa yang tidak serta mengapa. 


JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam Program for International Students Asessment (PISA) yang digelar Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) per tiga tahun, Korea selalu di posisi teratas. Sementara, Indonesia masih menempati urutan bawah pada kegiatan yang diikuti anak usia 15 tahun di bidang matematika, IPA, dan literasi ini. Saat pertama mengikuti PISA yakni 2003, Indonesia sendiri berada pada posisi terbawah dari 40 negara peserta. Peringkat itu tak berubah jauh pada 2006, 2009, 2012, dan terakhir 2015. Sedangkan, Korea berada pada posisi kedua setelah Finlandia untuk kemampuan bidang matematika. Pada umumnya soal-soal yang digunakan untuk mengukur prestasi siswa merupakan pertanyaan yang memerlukan daya berpikir dan analisa yang lebih tinggi. Soal-soal semacam itu menerapkan konsep Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Critical Thinking Skills (CTS). (Baca: Pemerintah Kebut Pelatihan Guru agar Bisa Terapkan Kurikulum 2013) Pertanyaan yang menerapkan HOTS memerlukan informasi lain sebagai jawabannya atau memerlukan daya analisa yang tinggi. Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan yang bersifat langsung. Dalam proses pembelajaran di kelas sehari-hari, siswa Indonesia belum terbiasa dengan jenis pertanyaan semacam itu. Maka, wajarlah bila siswa Indonesia yang mengikuti dua gelaran internasional itu terkendala menjawab pertanyaan secara tepat. Penerapan HOTS yang belum optimal bisa dilihat dari pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Sekolah Menengah Atas (SMA) beberapa waktu lalu. (Baca: Ujian Nasional, Dua Persen Siswa SMK Masih Gunakan Kertas dan Pensil) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan HOTS diterapkan karena Indonesia belum berprestasi dalam Programme for International Student Assessment (PISA) . Oleh karenanya, standar soal ujian nasional ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan. Ujian nasional berstandar HOTS, imbuhnya, telah disampaikan ke sekolah-sekolah. Guru-guru pun diminta mempelajari kisi-kisi standar tersebut untuk diajarkan kepada siswa. Nyatanya, sebagian siswa masih kelabakan menyelesaikan soal berstandar HOTS itu. Mendidik guru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak berpangku tangan dengan ketertinggalan itu. Melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, pemerintah berupaya meningkatkan kompetensi guru agar mampu mendongrak mutu pembelajaran di sekolah. Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, E. Nurzaman, mengatakan HOTS diajarkan melalui penerapan Kurikulum 2013 di sekolah. Dalam penerapan Kurikulum 2013, guru berperan sebagai fasilitator proses pembelajaran. "Sebelum dilaksanakan sepenuhnya pada tahun ajaran 2018/2019, guru-guru harus mengikuti pelatihan agar bisa menerapkan Kurikulum 2013,” katanya kepada Kompas.com pada awal April 2018. Akselerasi penguasaan High Order Thinking Skill Berdasarkan studi TIMSS dan PISA diatas, jelaslah anak-anak Korea memiliki kemampuan menjawab pertanyaan yang membutuhkan tingkat berpikir dan analisa yang tinggi. Merujuk pada prestasi Korea tersebut, maka pemerintah menyelenggarakan program pertukaran guru Indonesia-Korea. Pemerintah Indonesia dan Korea menandatangani kesepakatan bersama pada Maret 2009 terkait program pertukaran guru tersebut. Sejak 2016 hingga kini, program itu dilaksanakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan. Pada 2017, program itu diikuti oleh sembilan guru Korea dan sepuluh guru Indonesia. Sepanjang tiga bulan, para guru membawa misi budaya masing-masing kepada siswa-siswa di negara tempat mereka bertugas. (Baca: Program Pertukaran Guru Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia-Korea) Para guru asal Korea telah bertugas di lima sekolah yang berada di Jakarta, Depok, Tangerang Selatan, dan Banyuwangi sejak 8 Mei hingga 4 Agustus 2017. Sementara, guru Indonesia bertugas mengajar di Korea sejak 9 September hingga 6 Desember 2017. Para guru mempelajari keterampilan berbahasa agar dapat berkomunikasi dengan warga Korea. Selain itu, para guru dibekali informasi tentang kondisi sosial, ekonomi, budaya dan sejarah Korea. “Utamanya, sistem pendidikan di Korea,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Kirim Guru ke Korea untuk Pelajari HOTS", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/23/08050091/indonesia-kirim-guru-ke-korea-untuk-pelajari-hots.
Penulis : Kurniasih Budi
Editor : Kurniasih Budi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar