Peringkat Pendidikan Indonesia di Dunia
05/21/2017
Indonesia menduduki peringkat 62 dari 72 negara di dunia.
Menurut laporan PISA
2015 - program yang mengurutkan kualitas
sistem pendidikan di 72 negara, - Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun
sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau
peringkat 71.
PISA membuat peringkat tersebut dengan cara
menguji pelajar usia 15 tahun untuk mengetahui apakah mereka memiliki kemampuan
dan pengetahuan - di bidang ilmu pengetahuan alam, membaca, dan matematika -
yang diperlukan agar bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat modern. PISA
berlandaskan asumsi bahwa seseorang bisa sukses di ekonomi modern bukan karena
apa yang mereka tahu, tetapi apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang
mereka tahu.
Negara apa yang
memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia?
5 negara di peringkat teratas PISA 2015:
- Singapura
- Jepang
- Estonia
- Taipei
- Finlandia
Selain itu, NJ MED merilis hasil Polling Pendidikan Nasional - disusun dari bermacam sumber data, di antaranya
PISA - yang mengurutkan sistem pendidikan 209 negara untuk memperlihatkan
bagaimana negara-negara menyiapkan generasi muda mereka untuk sistem ekonomi
abad ke-21 yang berbasis pengetahuan dan global.
5 negara dengan sistem pendidikan terbaik di
dunia versi NF MED 2017:
- Finlandia
- Jepang
- Korea Selatan
- Denmark
- Russia
Mengapa sistem
pendidikan mereka dianggap baik?
Berdasarkan penilaian PISA, sistem pendidikan
yang baik adalah ketika para murid mendapatkan nilai lebih tinggi di bidang
ilmu pengetahuan alam serta punya keyakinan lebih kuat pada pentingnya
pertanyaan saintifik dan lebih cenderung berekspektasi untuk bekerja di bidang
pekerjaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Hal ini bisa dicapai
jika guru sering menjelaskan dan mendemonstrasikan ide-ide saintifik serta
mendiskusikan pertanyaan murid.
Di Finlandia, anak-anak tidak dilatih dalam
bidang akademik secara formal sebelum berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, mereka
belajar melalui bermain, lagu, dan percakapan. Sebagian besar anak berjalan
kaki atau naik sepeda ke sekolah. Jam sekolah pendek dan pekerjaan rumah
biasanya ringan.
Sekolah Finlandia juga memberi istirahat selama
15 menit per jam untuk aktivitas bermain di luar ruangan. Menurut mereka, udara
segar, alam, dan aktivitas fisik yang dilakukan rutin adalah bagian dari
pembelajaran.
Finlandia tidak membuang-buang waktu atau uang
untuk ujian standardisasi berkualitas rendah. Sebaliknya, tiap hari anak-anak
dinilai melalui observasi langsung dan quiz oleh para guru. Ketika belajar di
kelas, anak-anak diperbolehkan sekali-sekali bersenang-senang, tertawa, dan
melamun.
Suasana emosional dalam kelas di Finlandia
hangat, aman, saling menghormati dan sangat suportif. Finlandia mempraktikkan wejangan budaya klasik:
Biarkan anak-anak menjadi anak-anak. Tugas anak-anak adalah bermain. Cara
terbaik bagi anak untuk belajar adalah dengan bermain.
Bagaimana sistem
pendidikan di Indonesia?
Sebenarnya, Indonesia menginvestasikan banyak
sumber daya di bidang pendidikan - peringkat keempat dari 69 negara yang
diurutkan oleh PISA. Pendidikan mendominasi pengeluaran sosial Indonesia dan 20
persen anggaran Indonesia dialokasikan di bidang pendidikan. Namun, ini bukan
berarti semua sekolah di Indonesia memiliki semua yang mereka butuhkan karena
sekolah di beberapa daerah masih belum difasilitasi dengan memadai.
Pendidikan dasar dan menengah di Indonesia,
berdasarkan riset PISA, belum mampu menyiapkan murid dengan kemampuan berpikir
kritis dan analitis sebagaimana seorang ilmuwan perlukan serta belum mampu
menginspirasi murid untuk bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang apapun.
Padahal, tanpa murid yang kemampuannya bagus, universitas di Indonesia tidak
akan bisa memperluas dan memperkuat program riset mereka dan meningkatkan
posisi mereka di dunia internasional.
Akibatnya, bidang swasta akan kesulitan berkompetisi
secara internasional dalam penciptaan pengetahuan sehingga akan lebih sulit
bagi Indonesia untuk bertransisi ke sistem ekonomi berbasis pengetahuan.
Sedikitnya peneliti dan ilmuwan juga berarti lebih sedikit pengetahuan dan
penelitian tersedia untuk membantu pengambil kebijakan membuat keputusan.
Pada Agustus 2015, di Konferensi Internasional
tentang Praktik Pengembangan dan Kebijakan Terbaik yang diselenggarakan
Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, ahli perkembangan
sosial World Bank Michael Woolcock menyatakan Indonesia telah membangun
sekolah, membuat kebijakan dan peraturan utama, merekrut banyak guru serta
mengumpulkan dan menganalisis data. Namun, Indonesia belum memiliki cetak biru
atau solusi kunci atas permasalahan-permasalahan ini.
Walau Indonesia mungkin lebih membutuhkan ribuan
jawaban sederhana yang berbasis penelitian berkualitas bagus tentang apa
permasalahannya, apa yang bisa menyelesaikannya dan apa yang tidak serta
mengapa.
Indonesia menduduki peringkat 62 dari 72 negara di dunia.
Menurut laporan PISA
2015 - program yang mengurutkan kualitas
sistem pendidikan di 72 negara, - Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun
sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau
peringkat 71.
PISA membuat peringkat tersebut dengan cara
menguji pelajar usia 15 tahun untuk mengetahui apakah mereka memiliki kemampuan
dan pengetahuan - di bidang ilmu pengetahuan alam, membaca, dan matematika -
yang diperlukan agar bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat modern. PISA
berlandaskan asumsi bahwa seseorang bisa sukses di ekonomi modern bukan karena
apa yang mereka tahu, tetapi apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang
mereka tahu.
Negara apa yang
memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia? 5 negara di peringkat teratas PISA 2015:
- Singapura
- Jepang
- Estonia
- Taipei
- Finlandia
Selain itu, NJ MED merilis hasil Polling Pendidikan Nasional - disusun dari bermacam sumber data, di antaranya
PISA - yang mengurutkan sistem pendidikan 209 negara untuk memperlihatkan
bagaimana negara-negara menyiapkan generasi muda mereka untuk sistem ekonomi
abad ke-21 yang berbasis pengetahuan dan global.
5 negara dengan sistem pendidikan terbaik di
dunia versi NF MED 2017:- Finlandia
- Jepang
- Korea Selatan
- Denmark
- Russia
Mengapa sistem
pendidikan mereka dianggap baik?
Berdasarkan penilaian PISA, sistem pendidikan
yang baik adalah ketika para murid mendapatkan nilai lebih tinggi di bidang
ilmu pengetahuan alam serta punya keyakinan lebih kuat pada pentingnya
pertanyaan saintifik dan lebih cenderung berekspektasi untuk bekerja di bidang
pekerjaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Hal ini bisa dicapai
jika guru sering menjelaskan dan mendemonstrasikan ide-ide saintifik serta
mendiskusikan pertanyaan murid.
Di Finlandia, anak-anak tidak dilatih dalam
bidang akademik secara formal sebelum berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, mereka
belajar melalui bermain, lagu, dan percakapan. Sebagian besar anak berjalan
kaki atau naik sepeda ke sekolah. Jam sekolah pendek dan pekerjaan rumah
biasanya ringan.
Sekolah Finlandia juga memberi istirahat selama
15 menit per jam untuk aktivitas bermain di luar ruangan. Menurut mereka, udara
segar, alam, dan aktivitas fisik yang dilakukan rutin adalah bagian dari
pembelajaran.
Finlandia tidak membuang-buang waktu atau uang
untuk ujian standardisasi berkualitas rendah. Sebaliknya, tiap hari anak-anak
dinilai melalui observasi langsung dan quiz oleh para guru. Ketika belajar di
kelas, anak-anak diperbolehkan sekali-sekali bersenang-senang, tertawa, dan
melamun.
Suasana emosional dalam kelas di Finlandia
hangat, aman, saling menghormati dan sangat suportif. Finlandia mempraktikkan wejangan budaya klasik:
Biarkan anak-anak menjadi anak-anak. Tugas anak-anak adalah bermain. Cara
terbaik bagi anak untuk belajar adalah dengan bermain.Bagaimana sistem pendidikan di Indonesia?
Sebenarnya, Indonesia menginvestasikan banyak
sumber daya di bidang pendidikan - peringkat keempat dari 69 negara yang
diurutkan oleh PISA. Pendidikan mendominasi pengeluaran sosial Indonesia dan 20
persen anggaran Indonesia dialokasikan di bidang pendidikan. Namun, ini bukan
berarti semua sekolah di Indonesia memiliki semua yang mereka butuhkan karena
sekolah di beberapa daerah masih belum difasilitasi dengan memadai.
Pendidikan dasar dan menengah di Indonesia,
berdasarkan riset PISA, belum mampu menyiapkan murid dengan kemampuan berpikir
kritis dan analitis sebagaimana seorang ilmuwan perlukan serta belum mampu
menginspirasi murid untuk bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang apapun.
Padahal, tanpa murid yang kemampuannya bagus, universitas di Indonesia tidak
akan bisa memperluas dan memperkuat program riset mereka dan meningkatkan
posisi mereka di dunia internasional.
Akibatnya, bidang swasta akan kesulitan berkompetisi
secara internasional dalam penciptaan pengetahuan sehingga akan lebih sulit
bagi Indonesia untuk bertransisi ke sistem ekonomi berbasis pengetahuan.
Sedikitnya peneliti dan ilmuwan juga berarti lebih sedikit pengetahuan dan
penelitian tersedia untuk membantu pengambil kebijakan membuat keputusan.
Pada Agustus 2015, di Konferensi Internasional
tentang Praktik Pengembangan dan Kebijakan Terbaik yang diselenggarakan
Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, ahli perkembangan
sosial World Bank Michael Woolcock menyatakan Indonesia telah membangun
sekolah, membuat kebijakan dan peraturan utama, merekrut banyak guru serta
mengumpulkan dan menganalisis data. Namun, Indonesia belum memiliki cetak biru
atau solusi kunci atas permasalahan-permasalahan ini.
Walau Indonesia mungkin lebih membutuhkan ribuan
jawaban sederhana yang berbasis penelitian berkualitas bagus tentang apa
permasalahannya, apa yang bisa menyelesaikannya dan apa yang tidak serta
mengapa.
JAKARTA, KOMPAS.com -
Dalam Program for International Students Asessment (PISA) yang digelar
Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) per tiga
tahun, Korea selalu di posisi teratas.
Sementara, Indonesia masih menempati urutan bawah pada kegiatan yang
diikuti anak usia 15 tahun di bidang matematika, IPA, dan literasi ini.
Saat pertama mengikuti PISA yakni 2003, Indonesia sendiri berada pada
posisi terbawah dari 40 negara peserta. Peringkat itu tak berubah jauh
pada 2006, 2009, 2012, dan terakhir 2015.
Sedangkan, Korea berada pada posisi kedua setelah Finlandia untuk
kemampuan bidang matematika.
Pada umumnya soal-soal yang digunakan untuk mengukur prestasi siswa
merupakan pertanyaan yang memerlukan daya berpikir dan analisa yang
lebih tinggi.
Soal-soal semacam itu menerapkan konsep Higher Order Thinking Skills
(HOTS) dan Critical Thinking Skills (CTS).
(Baca: Pemerintah Kebut Pelatihan Guru agar Bisa Terapkan Kurikulum
2013)
Pertanyaan yang menerapkan HOTS memerlukan informasi lain sebagai
jawabannya atau memerlukan daya analisa yang tinggi.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan yang
bersifat langsung.
Dalam proses pembelajaran di kelas sehari-hari, siswa Indonesia belum
terbiasa dengan jenis pertanyaan semacam itu.
Maka, wajarlah bila siswa Indonesia yang mengikuti dua gelaran
internasional itu terkendala menjawab pertanyaan secara tepat.
Penerapan HOTS yang belum optimal bisa dilihat dari pelaksanaan Ujian
Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Sekolah Menengah Atas (SMA) beberapa
waktu lalu.
(Baca: Ujian Nasional, Dua Persen Siswa SMK Masih Gunakan Kertas dan
Pensil)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan HOTS
diterapkan karena Indonesia belum berprestasi dalam Programme for
International Student Assessment (PISA) .
Oleh karenanya, standar soal ujian nasional ditingkatkan untuk mengejar
ketertinggalan.
Ujian nasional berstandar HOTS, imbuhnya, telah disampaikan ke
sekolah-sekolah.
Guru-guru pun diminta mempelajari kisi-kisi standar tersebut untuk
diajarkan kepada siswa.
Nyatanya, sebagian siswa masih kelabakan menyelesaikan soal berstandar
HOTS itu.
Mendidik guru
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak berpangku tangan dengan
ketertinggalan itu.
Melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, pemerintah
berupaya meningkatkan kompetensi guru agar mampu mendongrak mutu
pembelajaran di sekolah.
Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, E. Nurzaman, mengatakan
HOTS diajarkan melalui penerapan Kurikulum 2013 di sekolah.
Dalam penerapan Kurikulum 2013, guru berperan sebagai fasilitator proses
pembelajaran.
"Sebelum dilaksanakan sepenuhnya pada tahun ajaran 2018/2019, guru-guru
harus mengikuti pelatihan agar bisa menerapkan Kurikulum 2013,” katanya
kepada Kompas.com pada awal April 2018.
Akselerasi penguasaan High Order Thinking Skill
Berdasarkan studi TIMSS dan PISA diatas, jelaslah anak-anak Korea
memiliki kemampuan menjawab pertanyaan yang membutuhkan tingkat berpikir
dan analisa yang tinggi.
Merujuk pada prestasi Korea tersebut, maka pemerintah menyelenggarakan
program pertukaran guru Indonesia-Korea.
Pemerintah Indonesia dan Korea menandatangani kesepakatan bersama pada
Maret 2009 terkait program pertukaran guru tersebut.
Sejak 2016 hingga kini, program itu dilaksanakan Ditjen Guru dan Tenaga
Kependidikan. Pada 2017, program itu diikuti oleh sembilan guru Korea
dan sepuluh guru Indonesia.
Sepanjang tiga bulan, para guru membawa misi budaya masing-masing kepada
siswa-siswa di negara tempat mereka bertugas.
(Baca: Program Pertukaran Guru Perkuat Hubungan Bilateral
Indonesia-Korea)
Para guru asal Korea telah bertugas di lima sekolah yang berada di
Jakarta, Depok, Tangerang Selatan, dan Banyuwangi sejak 8 Mei hingga 4
Agustus 2017.
Sementara, guru Indonesia bertugas mengajar di Korea sejak 9 September
hingga 6 Desember 2017.
Para guru mempelajari keterampilan berbahasa agar dapat berkomunikasi
dengan warga Korea.
Selain itu, para guru dibekali informasi tentang kondisi sosial,
ekonomi, budaya dan sejarah Korea. “Utamanya, sistem pendidikan di
Korea,” ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Kirim Guru ke Korea untuk Pelajari HOTS", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/23/08050091/indonesia-kirim-guru-ke-korea-untuk-pelajari-hots.
Penulis : Kurniasih Budi
Editor : Kurniasih Budi
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Kirim Guru ke Korea untuk Pelajari HOTS", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/23/08050091/indonesia-kirim-guru-ke-korea-untuk-pelajari-hots.
Penulis : Kurniasih Budi
Editor : Kurniasih Budi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar