https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat
Note:
Pendidikan Barat terlalu material?
Perguruan Taman Siswa belajar dari Montessori (Itali) dan Tagore (India)?
K
ritik Ki Hajar
Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat
Bondhan Kresna W.
Kompas.com - 09/04/2018, 08:00 WIB
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara(Kompas/Toto S)
Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup
media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah
Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK,
ataupun SD yang berlabel “Montessori”.
Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli
pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori
(1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya,
metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya
Montessori. Apakah benar demikian?
Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis
politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya
menjadi Ki Hajar Dewantara.
Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan
kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda
dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada
Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan
pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia.
Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah
Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP),
versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik
yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah.
Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi,
dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP
juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi,
atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa.
Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di
bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang
kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia
mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan.
Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan
pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah.
Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai
menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan
seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini.
Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun
1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa
pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori.
Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh
pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia
penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan
Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori
disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah
terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama.
Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua
pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk
jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan
lama serta pembangun aliran baru.”
Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus
melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan
fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus
mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional”
yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan
masih hidup dalam masyarakat.
Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada
tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak,
terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan
panca-inderanya.
Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh
perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah
mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar
“semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.”
Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata
sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam
arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang
menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis.
Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat
Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan
bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan
kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme
yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu
menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau
materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan
kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!”
Pendidikan Dikhianati
Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan
barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan
pendidikan spiritual.
Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya
menurut saya. Pendidikan "dikhianati" tujuannya bukan untuk membuka
batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun
kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada
materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah
negeri atau swasta.
Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar
(materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas
bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas
(materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau
perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya
(materi lagi).
Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan
sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus
ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang
(lagi-lagi materi).
Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar
orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada
titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau
terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah,
rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran
Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir
semua materi yang diajarkan di sekolah.
Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi
sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai
wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya
sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan.
Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang
naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge”
atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua
bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk
menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti
yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan
hutang seumur hidup.
Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang
damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin
perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya
(What?!, materi lagi)…
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Bondhan Kresna W.
Psikolog
Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan
dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public
Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi
di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang
berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang
berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di
bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di
goo.gl/bH3nx4
Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat
Bondhan Kresna W.
Kompas.com - 09/04/2018, 08:00 WIB
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara(Kompas/Toto S)
Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup
media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah
Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK,
ataupun SD yang berlabel “Montessori”.
Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli
pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori
(1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya,
metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya
Montessori. Apakah benar demikian?
Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis
politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya
menjadi Ki Hajar Dewantara.
Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan
kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda
dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada
Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan
pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia.
Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah
Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP),
versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik
yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah.
Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi,
dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP
juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi,
atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa.
Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di
bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang
kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia
mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan.
Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan
pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah.
Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai
menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan
seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini.
Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun
1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa
pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori.
Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh
pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia
penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan
Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori
disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah
terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama.
Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua
pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk
jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan
lama serta pembangun aliran baru.”
Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus
melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan
fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus
mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional”
yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan
masih hidup dalam masyarakat.
Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada
tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak,
terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan
panca-inderanya.
Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh
perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah
mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar
“semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.”
Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata
sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam
arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang
menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis.
Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat
Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan
bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan
kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme
yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu
menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau
materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan
kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!”
Pendidikan Dikhianati
Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan
barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan
pendidikan spiritual.
Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya
menurut saya. Pendidikan "dikhianati" tujuannya bukan untuk membuka
batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun
kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada
materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah
negeri atau swasta.
Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar
(materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas
bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas
(materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau
perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya
(materi lagi).
Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan
sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus
ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang
(lagi-lagi materi).
Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar
orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada
titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau
terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah,
rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran
Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir
semua materi yang diajarkan di sekolah.
Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi
sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai
wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya
sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan.
Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang
naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge”
atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua
bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk
menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti
yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan
hutang seumur hidup.
Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang
damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin
perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya
(What?!, materi lagi)…
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Bondhan Kresna W.
Psikolog
Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan
dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public
Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi
di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang
berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang
berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di
bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di
goo.gl/bH3nx4
Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat
Bondhan Kresna W.
Kompas.com - 09/04/2018, 08:00 WIB
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara(Kompas/Toto S)
Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup
media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah
Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK,
ataupun SD yang berlabel “Montessori”.
Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli
pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori
(1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya,
metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya
Montessori. Apakah benar demikian?
Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis
politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya
menjadi Ki Hajar Dewantara.
Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan
kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda
dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada
Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan
pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia.
Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah
Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP),
versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik
yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah.
Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi,
dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP
juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi,
atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa.
Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di
bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang
kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia
mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan.
Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan
pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah.
Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai
menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan
seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini.
Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun
1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa
pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori.
Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh
pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia
penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan
Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori
disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah
terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama.
Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua
pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk
jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan
lama serta pembangun aliran baru.”
Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus
melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan
fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus
mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional”
yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan
masih hidup dalam masyarakat.
Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada
tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak,
terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan
panca-inderanya.
Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh
perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah
mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar
“semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.”
Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata
sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam
arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang
menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis.
Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat
Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan
bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan
kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme
yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu
menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau
materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan
kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!”
Pendidikan Dikhianati
Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan
barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan
pendidikan spiritual.
Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya
menurut saya. Pendidikan "dikhianati" tujuannya bukan untuk membuka
batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun
kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada
materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah
negeri atau swasta.
Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar
(materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas
bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas
(materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau
perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya
(materi lagi).
Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan
sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus
ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang
(lagi-lagi materi).
Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar
orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada
titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau
terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah,
rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran
Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir
semua materi yang diajarkan di sekolah.
Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi
sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai
wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya
sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan.
Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang
naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge”
atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua
bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk
menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti
yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan
hutang seumur hidup.
Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang
damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin
perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya
(What?!, materi lagi)…
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar