Minggu, 22 April 2018

PENDIDIKAN INDONESIA DALAM LENSA DUNIA

PENDIDIKAN INDONESIA DALAM LENSA DUNIA

Peringkat Pendidikan Indonesia di Dunia

05/21/2017
 
 

Indonesia menduduki peringkat 62 dari 72 negara di dunia.

Menurut laporan PISA 2015 - program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara, - Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau peringkat 71. 
PISA membuat peringkat tersebut dengan cara menguji pelajar usia 15 tahun untuk mengetahui apakah mereka memiliki kemampuan dan pengetahuan - di bidang ilmu pengetahuan alam, membaca, dan matematika - yang diperlukan agar bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat modern. PISA berlandaskan asumsi bahwa seseorang bisa sukses di ekonomi modern bukan karena apa yang mereka tahu, tetapi apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka tahu.
Negara apa yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia?
5 negara di peringkat teratas PISA 2015:
  • Singapura
  • Jepang
  • Estonia
  • Taipei
  • Finlandia
Selain itu, NJ MED merilis hasil Polling Pendidikan Nasional - disusun dari bermacam sumber data, di antaranya PISA - yang mengurutkan sistem pendidikan 209 negara untuk memperlihatkan bagaimana negara-negara menyiapkan generasi muda mereka untuk sistem ekonomi abad ke-21 yang berbasis pengetahuan dan global.
5 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia versi NF MED 2017:
  • Finlandia
  • Jepang
  • Korea Selatan
  • Denmark
  • Russia
Mengapa sistem pendidikan mereka dianggap baik?
Berdasarkan penilaian PISA, sistem pendidikan yang baik adalah ketika para murid mendapatkan nilai lebih tinggi di bidang ilmu pengetahuan alam serta punya keyakinan lebih kuat pada pentingnya pertanyaan saintifik dan lebih cenderung berekspektasi untuk bekerja di bidang pekerjaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Hal ini bisa dicapai jika guru sering menjelaskan dan mendemonstrasikan ide-ide saintifik serta mendiskusikan pertanyaan murid.
Di Finlandia, anak-anak tidak dilatih dalam bidang akademik secara formal sebelum berusia 7 tahun. Sebelum usia itu, mereka belajar melalui bermain, lagu, dan percakapan. Sebagian besar anak berjalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Jam sekolah pendek dan pekerjaan rumah biasanya ringan.
Sekolah Finlandia juga memberi istirahat selama 15 menit per jam untuk aktivitas bermain di luar ruangan. Menurut mereka, udara segar, alam, dan aktivitas fisik yang dilakukan rutin adalah bagian dari pembelajaran.
Finlandia tidak membuang-buang waktu atau uang untuk ujian standardisasi berkualitas rendah. Sebaliknya, tiap hari anak-anak dinilai melalui observasi langsung dan quiz oleh para guru. Ketika belajar di kelas, anak-anak diperbolehkan sekali-sekali bersenang-senang, tertawa, dan melamun.
Suasana emosional dalam kelas di Finlandia hangat, aman, saling menghormati dan sangat suportif. Finlandia mempraktikkan wejangan budaya klasik: Biarkan anak-anak menjadi anak-anak. Tugas anak-anak adalah bermain. Cara terbaik bagi anak untuk belajar adalah dengan bermain.
Bagaimana sistem pendidikan di Indonesia?
Sebenarnya, Indonesia menginvestasikan banyak sumber daya di bidang pendidikan - peringkat keempat dari 69 negara yang diurutkan oleh PISA. Pendidikan mendominasi pengeluaran sosial Indonesia dan 20 persen anggaran Indonesia dialokasikan di bidang pendidikan. Namun, ini bukan berarti semua sekolah di Indonesia memiliki semua yang mereka butuhkan karena sekolah di beberapa daerah masih belum difasilitasi dengan memadai.
Pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, berdasarkan riset PISA, belum mampu menyiapkan murid dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis sebagaimana seorang ilmuwan perlukan serta belum mampu menginspirasi murid untuk bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang apapun. Padahal, tanpa murid yang kemampuannya bagus, universitas di Indonesia tidak akan bisa memperluas dan memperkuat program riset mereka dan meningkatkan posisi mereka di dunia internasional.
Akibatnya, bidang swasta akan kesulitan berkompetisi secara internasional dalam penciptaan pengetahuan sehingga akan lebih sulit bagi Indonesia untuk bertransisi ke sistem ekonomi berbasis pengetahuan. Sedikitnya peneliti dan ilmuwan juga berarti lebih sedikit pengetahuan dan penelitian tersedia untuk membantu pengambil kebijakan membuat keputusan.
Pada Agustus 2015, di Konferensi Internasional tentang Praktik Pengembangan dan Kebijakan Terbaik yang diselenggarakan Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, ahli perkembangan sosial World Bank Michael Woolcock menyatakan Indonesia telah membangun sekolah, membuat kebijakan dan peraturan utama, merekrut banyak guru serta mengumpulkan dan menganalisis data. Namun, Indonesia belum memiliki cetak biru atau solusi kunci atas permasalahan-permasalahan ini.
Walau Indonesia mungkin lebih membutuhkan ribuan jawaban sederhana yang berbasis penelitian berkualitas bagus tentang apa permasalahannya, apa yang bisa menyelesaikannya dan apa yang tidak serta mengapa. 


JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam Program for International Students Asessment (PISA) yang digelar Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) per tiga tahun, Korea selalu di posisi teratas. Sementara, Indonesia masih menempati urutan bawah pada kegiatan yang diikuti anak usia 15 tahun di bidang matematika, IPA, dan literasi ini. Saat pertama mengikuti PISA yakni 2003, Indonesia sendiri berada pada posisi terbawah dari 40 negara peserta. Peringkat itu tak berubah jauh pada 2006, 2009, 2012, dan terakhir 2015. Sedangkan, Korea berada pada posisi kedua setelah Finlandia untuk kemampuan bidang matematika. Pada umumnya soal-soal yang digunakan untuk mengukur prestasi siswa merupakan pertanyaan yang memerlukan daya berpikir dan analisa yang lebih tinggi. Soal-soal semacam itu menerapkan konsep Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Critical Thinking Skills (CTS). (Baca: Pemerintah Kebut Pelatihan Guru agar Bisa Terapkan Kurikulum 2013) Pertanyaan yang menerapkan HOTS memerlukan informasi lain sebagai jawabannya atau memerlukan daya analisa yang tinggi. Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan yang bersifat langsung. Dalam proses pembelajaran di kelas sehari-hari, siswa Indonesia belum terbiasa dengan jenis pertanyaan semacam itu. Maka, wajarlah bila siswa Indonesia yang mengikuti dua gelaran internasional itu terkendala menjawab pertanyaan secara tepat. Penerapan HOTS yang belum optimal bisa dilihat dari pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Sekolah Menengah Atas (SMA) beberapa waktu lalu. (Baca: Ujian Nasional, Dua Persen Siswa SMK Masih Gunakan Kertas dan Pensil) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan HOTS diterapkan karena Indonesia belum berprestasi dalam Programme for International Student Assessment (PISA) . Oleh karenanya, standar soal ujian nasional ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan. Ujian nasional berstandar HOTS, imbuhnya, telah disampaikan ke sekolah-sekolah. Guru-guru pun diminta mempelajari kisi-kisi standar tersebut untuk diajarkan kepada siswa. Nyatanya, sebagian siswa masih kelabakan menyelesaikan soal berstandar HOTS itu. Mendidik guru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak berpangku tangan dengan ketertinggalan itu. Melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, pemerintah berupaya meningkatkan kompetensi guru agar mampu mendongrak mutu pembelajaran di sekolah. Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, E. Nurzaman, mengatakan HOTS diajarkan melalui penerapan Kurikulum 2013 di sekolah. Dalam penerapan Kurikulum 2013, guru berperan sebagai fasilitator proses pembelajaran. "Sebelum dilaksanakan sepenuhnya pada tahun ajaran 2018/2019, guru-guru harus mengikuti pelatihan agar bisa menerapkan Kurikulum 2013,” katanya kepada Kompas.com pada awal April 2018. Akselerasi penguasaan High Order Thinking Skill Berdasarkan studi TIMSS dan PISA diatas, jelaslah anak-anak Korea memiliki kemampuan menjawab pertanyaan yang membutuhkan tingkat berpikir dan analisa yang tinggi. Merujuk pada prestasi Korea tersebut, maka pemerintah menyelenggarakan program pertukaran guru Indonesia-Korea. Pemerintah Indonesia dan Korea menandatangani kesepakatan bersama pada Maret 2009 terkait program pertukaran guru tersebut. Sejak 2016 hingga kini, program itu dilaksanakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan. Pada 2017, program itu diikuti oleh sembilan guru Korea dan sepuluh guru Indonesia. Sepanjang tiga bulan, para guru membawa misi budaya masing-masing kepada siswa-siswa di negara tempat mereka bertugas. (Baca: Program Pertukaran Guru Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia-Korea) Para guru asal Korea telah bertugas di lima sekolah yang berada di Jakarta, Depok, Tangerang Selatan, dan Banyuwangi sejak 8 Mei hingga 4 Agustus 2017. Sementara, guru Indonesia bertugas mengajar di Korea sejak 9 September hingga 6 Desember 2017. Para guru mempelajari keterampilan berbahasa agar dapat berkomunikasi dengan warga Korea. Selain itu, para guru dibekali informasi tentang kondisi sosial, ekonomi, budaya dan sejarah Korea. “Utamanya, sistem pendidikan di Korea,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Kirim Guru ke Korea untuk Pelajari HOTS", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/23/08050091/indonesia-kirim-guru-ke-korea-untuk-pelajari-hots.
Penulis : Kurniasih Budi
Editor : Kurniasih Budi

Jumat, 20 April 2018

PILOT BERILMU DAN BERMENTAL BAJA

PILOT  BERILMU DAN BERMENTAL BAJA
 https://news.detik.com/internasional/d-3977543/berhasil-mendarat-usai-penumpang-tersedot-pilot-southwest-dipuji


Berhasil Mendarat Usai Penumpang Tersedot, Pilot Southwest Dipuji

Novi Christiastuti - detikNews
Berhasil Mendarat Usai Penumpang Tersedot, Pilot Southwest Dipuji Tammie Jo Shults bersama suaminya, Dean, yang juga seorang pilot (newsweek.com)
Philadelphia - Meski satu orang tewas, pilot maskapai Amerika Serikat (AS), Southwest Airlines, dipuji karena berhasil mendaratkan pesawat dengan baik di tengah situasi mengerikan. Pilot yang dipuji heroik itu bernama Tammie Jo Shults, yang masuk jajaran pilot jet tempur wanita pertama di AS.

Dilansir media lokal AS, The Kansas City Star dan Newsweek, Rabu (18/4/2018), pilot Shults menerbangkan pesawat Boeing 737-700, yang salah satu mesinnya meledak di udara pada Selasa (17/4) waktu setempat. Serpihan dari mesin memecahkan salah satu kaca jendela pesawat. Akibatnya, seorang penumpang tersedot keluar dan turbulensi hebat melanda kabin. Situasi mengerikan terjadi saat pesawat berada di ketinggian sekitar 30 ribu kaki.


Shults mampu mengendalikan pesawat dengan baik, saat hanya satu mesin yang berfungsi dan ada lubang di bagian lambung pesawat. Para penumpang memuji ketenangan Shults yang terlihat dalam suaranya saat memberitahu penumpang bahwa pendaratan darurat akan dilakukan. Dia mampu membawa pesawat yang berisi 143 penumpang dan lima awak mendarat darurat dengan baik di Bandara Internasional Philadelphia. Satu penumpang tewas usai tersedot keluar pesawat dan tujuan orang lainnya luka-luka.

"Pesawat kokoh seperti batu setelah insiden (mesin meledak). Saya tidak khawatir bahwa pesawat akan lepas kendali," ucap salah satu penumpang, Eric Zilbert. "Dia memiliki mental baja," puji penumpang lainnya bernama Alfred Tumlinson.

"Ketenangan dan pengetahuannya saat berada di bawah tekanan sungguh luar biasa," ucap penumpang bernama Diana McBride yang mengucapkan terima kasih kepada Shults usai pesawat mendarat darurat. "Dia secara personal mendatangi kami untuk memeriksa kami setelah mendaratkan pesawat kami yang timpang. Kami sungguh ada di tangan-tangan luar biasa," imbuhnya.


"Pilot Tammie Jo sungguh luar biasa! Dia mendaratkan kami dengan selamat di Philly," sebut salah satu penumpang bernama Abourman via Instagram.

"Pilotnya seorang wanita, Tammie Jo Shults dan dia seorang pahlawan," tulis pengguna Twitter bernama Nora.

Disebutkan oleh rekan dan kelompok alumni alamamater Shults, MidAmerica Nazarene University, Shults merupakan salah satu jajaran pilot jet tempur wanita pertama di Angkatan Laut AS. Shults juga menjadi wanita pertama yang menerbangkan jet tempur F/A-18 Hornet di korps Angkatan Laut AS. Shults lulus dari sebuah universitas di Kansas, Texas dengan gelar sarjana Biologi dan Agrobisnis, namun dia memilih menjadi pilot.


Cindy Foster, teman sekelas Shults di MidAmerica, menyebut Shults sempat mendaftar ke Angkatan Udara AS tapi ditolak karena dia wanita. Tidak hanya itu, saat Shults bergabung Angkatan Laut AS, dia menghadapi banyak hambatan karena dirinya seorang wanita.

"Jadi dia tahu dia harus bekerja lebih keras dari orang lain. Dia melakukan semuannya untuk dirinya sendiri dan untuk semua wanita yang berjuang mendapat kesempatan. Saya sungguh bangga padanya. Dia menyelamatkan banyak nyawa hari ini," ucap Foster.

Shults sempat menjadi pelatih pilot di militer AS, sebelum memilih menjadi pilot untuk pesawat komersial di maskapai Southwest Airlines. Foster menyebut karakter Shults sejak zaman sekolah memang tenang dan selalu disiplin.


Teman Shults lainnya, Kim Young, menyebut pelatihan militer membuat Shults mampu menghadapi situasi darurat dengan tenang. "Orang-orang seperti itu yang Anda inginkan sebagai pilot. Itulah yang dia lakukan dan dia sangat ahli," sebut Young.

Dona Lupita, Nenek yang Masuk SMA di Usia 96 Tahun

Foto: Dona Lupita, Nenek yang Masuk SMA di Usia 96 Tahun

 

 https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1840330487159234742#editor/target=post;postID=6679686046988777257

Mexico City detikNews - Nenek bernama Guadalupe Palacios yang dipanggil 'Dona Lupita' di Meksiko berhasil mewujudkan impiannya masuk SMA di usia 96 tahun. Seperti apa sosoknya?
Palacios ingin melanjutkan pendidikannya dan bertekad untuk menyelesaikan pendidikan SMA pada ulang tahunnya yang ke-100 nanti. Namun karena tidak ada program untuk dewasa, dia memutuskan belajar di sekolah reguler dengan teman sekelas yang 80 tahun lebih muda dari dirinya. Foto: laopinion.net
 
 
Mexico City detikNews - Nenek bernama Guadalupe Palacios yang dipanggil 'Dona Lupita' di Meksiko berhasil mewujudkan impiannya masuk SMA di usia 96 tahun. Seperti apa sosoknya?
Mengenyam pendidikan dengan anak-anak yang jauh lebih muda dari dirinya tidak membuat Palacios malu. Saat hari pertama masuk sekolah pada Senin (17/4) pekan ini, Palacios menjadi murid yang paling antusias di dalam kelas. Foto: Cortesia via eluniversal.com.mx
 

 

Mexico City detikNews - Nenek bernama Guadalupe Palacios yang dipanggil 'Dona Lupita' di Meksiko berhasil mewujudkan impiannya masuk SMA di usia 96 tahun. Seperti apa sosoknya?
"Saya merasa siap memberikan semuanya. Hari ini sungguh hari yang bagus sekali," ucap Palacios pada hari pertama dia bersekolah di sebuah sekolah menengah bernama 'Escuela Preparatoria Numero 2' atau 'Sekolah Menengah Nomor 2' di kota Tuxtla Gutierrez, wilayah Chiapas. Foto: laopinion.net
 
Mexico City detikNews - Nenek bernama Guadalupe Palacios yang dipanggil 'Dona Lupita' di Meksiko berhasil mewujudkan impiannya masuk SMA di usia 96 tahun. Seperti apa sosoknya?
Nenek yang biasa dipanggil 'Dona Lupita' ini disambut tepuk tangan meriah teman-teman satu sekolahnya. Palacios memakai seragam sekolahnya yang terdiri atas polo shirt warna putih dengan rok warna hitam, yang ditambahkannya dengan sweater merah muda. Foto: Cortesia via eluniversal.com.mx
 

Foto: Dona Lupita, Nenek yang Masuk SMA di Usia 96 Tahun

Pool - detikNews
Mexico City detikNews - Nenek bernama Guadalupe Palacios yang dipanggil 'Dona Lupita' di Meksiko berhasil mewujudkan impiannya masuk SMA di usia 96 tahun. Seperti apa sosoknya?
Selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung, terutama saat pelajaran kimia dan matematika, Palacios dengan tekun mencatat. Saat kelas menari, Palacios pun tak mau kalah dengan teman-temannya yang jauh lebih muda dan lebih gesit dari dirinya. Foto: Cortesia via eluniversal.com.mx
 
 

Kamis, 19 April 2018

Dosen Gaptek Sulit Eksis

Dosen Gaptek Sulit Eksis

 http://news.metrotvnews.com/peristiwa/DkqLDgVb-dosen-gaptek-sulit-eksis
 
   •    Kamis, 19 Apr 2018 19:40 WIB
Pendidikan Tinggi
Dosen Gaptek Sulit Eksis
Dirjen SDID Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti dan Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah dalam Diskusi Pendidikan.
Jakarta: Era Revolusi Industri 4.0 menuntut dosen untuk terus meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya. Terutama agar dosen adaptif terhadap perubahan dan tidak gagap teknologi (gaptek) dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi (SDID) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti, mengatakan tidak ada dosen yang mampu bertahan jika tidak responsif terhadap perubahan zaman.  Salah satunya adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi.

"Bukan dosen pintar yang akan bertahan, melainkan dosen yang adaptif terhadap perubahan," kata Ghufron dalam Diskusi 'Menyiapkan Dosen Masa Depan' di Jakarta, Kamis, 19 April 2018.

Ghufron bahkan menegaskan dosen yang tidak adaptif akan mudah tergerus oleh teknologi dan ilmu pengetahuan itu sendiri.  Untuk itu, pihaknya akan mengubah kualifikasi dan kompetensi dosen ke depan. 

"Bukan lagi hanya dosen yang menguasai materi, namun juga metode dan proses pembelajaran modern berbasis teknologi," tegas Ghufron.

Dengan optimalisasi teknologi dalam proses pembelajaran, Ghufron berharap perguruan tinggi di Indonesia dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya berintegritas, namun juga berdaya saing tinggi. "Sebab saat ini daya saing kita belum memuaskan," tandas mantan Wakil Menteri Kesehatan ini.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Paramadina Firmanzah mengatakan dosen di perguruan tinggi juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan karakter zaman anak didiknya.

"Jadi masalahnya ada di dosen, bagaimana beradaptasi dengan masuknya era digital dan menyesuaikan diri dengan generasi milenial," kata dekan termuda yang pernah dimiliki Universitas Indonesia (UI) ini.

Firmanzah menegaskan agar ada pergeseran cara mengajar di perguruan tinggi.  Konsep pendidikan saat ini harus mampu mendorong mahasiswa berpikir kreatif, inovatif, dan bukan hanya menghapal. 

"Namun, harus mampu membangun konsep dan mencari solusi," jelas mantan Staf Khusus Bidang Ekonomi di era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.
(CEU)

Minggu, 15 April 2018

CODING: KUNCI PENINGKATAN DAYA SAING INDONESIA

CODING: KUNCI PENINGKATAN DAYA SAING INDONESIA

KOMPAS.com - Hari ini, di era keterbukaan informasi yang semakin maju, upaya meningkatkan kualitas pengetahuan dan kemampuan semakin mudah dilakukan dengan berbagai cara. Lewat media internet, bermacam referensi dan video tutorial tersebar untuk memberikan panduan belajar dan latihan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini memang sudah digadang-gadang sebagai salah satu kunci keberhasilan bangsa. Jimmy Gani, Founder Indonesian Competitiveness and Economic Development (ICED) Institute, bahkan pernah mengatakan bahwa lndonesia membutuhkan strategi percepatan pembangunan berbasis TIK supaya dapat meningkatkan daya saing secara global. Artinya, kualitas ahli TIK di Indonesia semakin meningkat dan harus bisa bersaing dengan ahli dari negara lain. Muaranya, Indonesia akan mampu memanfaatkan potensi ekonomi digital yang diprediksi mencapai 130 miliar dollar AS pada beberapa tahun mendatang. Nyatanya, peringkat daya saing digital Indonesia dengan negara tetangga masih tertinggal. The Global Competitiveness Report 2016-2017 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan negeri ini di ranking ke-41 dalam daftar peringkat daya saing, kalah dari negara ASEAN seperti Filipina (41), Thailand (27), Malaysia (24), dan Singapura (3). Soal daya saing programer, platform evaluasi HackerRank melakukan pengujian dan menemukan Indonesia berada di posisi ke-40, sementara India ke-31, dengan catatan bahwa China berada di nomor satu. “Dewasa ini Indonesia menghadapi kemunduran baik itu di bidang pendidikan, kualitas sumber daya manusia, teknologi, dan sebagainya sehingga daya saing bangsa Indonesia baik di tingkat regional ASEAN, terlebih di tingkat dunia masih kalah bemain dengan negara lain,” ujar Jimmy daIam Peluncuran ICED Institute dan Forum Digital Startup di Kampus lPMI Kalibata, Jakarta, Jumat (15/9/2017). Maka dari itu, tak mengherankan kalau banyak perusahaan start-up, fintech, e-commerce yang terus bermunculan di Tanah Air kesulitan untuk merekrut tenaga kerja andal di bidang tersebut. Bahkan, Michael Page Indonesia, sebuah perusahaan konsultan perekrutan tenaga kerja profesional, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan itu harus bersaing ketat untuk mendapatkan karyawan yang tepat. Survey Michael Page dalam periode Maret 2016-April 2017 memaparkan terjadinya lonjakan 60 persen kebutuhan tenaga atau lowongan pekerjaan di industri teknologi dan digital. Lonjakan kebutuhan itu diperkirakan akan terus terjadi, karena hampir semua pengusaha, dari start-up sampai konglomerat yang mencoba melakukan diversifikasi usaha, melihat industri teknologi dan digital adalah masa depan. Ribuan ahli Siapkah anak-anak kita menyambut era ini? Booming era digital dianggap sebagai permasalahan atau malah menjadi peluang? Menko Perekonomian Darmin Nasution Menko Perekonomian Darmin Nasution(Kemenko Perekonomian) Pemerintah sendiri, yang menggadangkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi digital terbesar di dunia, rupanya masih membutuhkan banyak tenaga ahli di bidang komputer, teknologi informasi dan bidang-bidang digital lainnya. Setidaknya Indonesia butuh lebih dari 7.000 ahli teknologi informatika (IT). Tak pelak, pada 2015 lalu pemerintah berusaha menggalakkan sertifikasi profesi ahli IT. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus mendorong pendidikan dibidang ini. "Tidak perlu programer. Coding yang logic itu lho, itu saja kita kurang. Oleh karena itu, kita harus cari," jelas Darmin. Kebutuhan terhadap tenaga ahli bidang IT di Indonesia sejatinya cukup terbantu dengan komposisi populasi masyarakat Indonesia yang didominasi oleh generasi muda. Bahkan generasi muda tersebut merupakan generasi yang melek teknologi. Ini karena interaksinya yang dekat dengan dunia digital itulah kemudian, generasi muda Indonesia akan mudah dikenalkan dengan bidang IT. Namun, pada kenyataannya kenapa negeri ini kekurangan tenaga ahli pada bidang tersebut? Coding itu kunci Menengok sejenak ke tahun 2017, Anda masih ingat Yuma Soerianto, bocah keturunan Indonesia berusia 10 tahun yang sukses membuat lima aplikasi dan diundang ke acara Worldwide Developers Conference (WWDC) di San Jose, AS? Saat masih berusia 6 tahun, Yuma merasa bahwa pekerjaan rumah yang diberikan guru di sekolahnya kurang menantang. Yuma dan ayahnya Hendri Soerianto di depan WWDC 2017 di Amerika Serikat Yuma dan ayahnya Hendri Soerianto di depan WWDC 2017 di Amerika Serikat((Australia Plus Indonesia)) Sejak itu, selama empat tahun belajar otodidak lewat internet, Yuma berhasil menciptakan lima aplikasi Let's Stack, Hunger Button, Kid Calculator, Weather Duck, dan Pocket Poke. Dalam wawancara dengan program Radio National ABC, Yuma mengatakan bahwa dia ingin membuat aplikasi yang bisa mengubah dunia. Dia juga mengaku ingin membagi ilmunya mengenai coding kepada siapa saja yang ingin belajar. Pertanyaannya, apa pentingnya ilmu coding? Wicak Hidayat, mantan jurnalis yang kini menjabat Head of Lab Kinetic di Depok, mengatakan bahwa hidup di era digital saat ini dan beberapa tahun ke depan tidak akan lepas dari coding. Istilahnya, bicara digital, pasti ada coding-nya. “Kalau seorang anak sudah punya wawasan itu, dia pasti tahu di belakang digital itu ada coding, apakah itu apps atau yang lainnya, pasti itu coding. Kenapa dia tahu, karena kalau sudah belajar coding, maka cara berpikirnya terstruktur. Dia tahu sebab-akibat, tahu logika,” kata Wicak. Wicak bilang, mengenal atau mempelajari coding itu harus dianggap seperti orang harus belajar bahasa. Coding mutlak harus menjadi jadi skill dasar anak-anak, seperti halnya membaca, menulis, dan berhitung. Tak perlu persiapan khusus, kata Wicak, kecuali alat seperti komputer saja, serta mau menyiapkan waktu dan kemauan. Coding itu simpel, anak cuma akan belajar struktur cara berpikir. Wicak menyadari, bahwa coding belum dijadikan isu mendasar dalam pendidikan di negeri ini. Padahal, menurut dia, energi anak sangat besar. Kalau berlebih tanpa kegiatan, si anak bisa cenderung lari ke hal-hal negatif. “Anak tahu teknologi, curiosity-nya juga tinggi, tapi salurannya tidak ada, ini masalah. Kalau diarahkan, dia akan produktif. Setidaknya dengan coding dia jadi lebih terarah,” ucapnya. Tantangan lain untuk mempelajari coding datang dari kemampuan matematika pelajar Indonesia yang masih memprihatikan. Seperti diketahui bahwa untuk mempelajari coding dibutuhkan pengetahuan dasar matematika yang bagus. Hasil Survei PISA pada 2015 menempatkan kemampuan matematika siswa negeri ini ada di peringkat ke-63 dari 72 negara. Bisa jadi, salah satu hal yang menyebabkan permasalahan itu adalah anak-anak sudah merasa inferior sebelum belajar matematika. Anggapan mata pelajaran matematika susah untuk diajari akhirnya membuat mereka berada di bawah tekanan ketika mempelajarinya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat meninjau Samsung Smart Learning Class di SMA Pangudi Luhur Jakarta, Selasa (20/3/2018) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat meninjau Samsung Smart Learning Class di SMA Pangudi Luhur Jakarta, Selasa (20/3/2018)(Mikhael Gewati) (SSLC) kemudian hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Di kelas ini, anak didik menggunakan tablet Samsung Tab A with S Pen yang sudah dilengkapi e-learning mata pelajaran matematika sebagai media belajar. Kelas yang digunakan untuk kegiatan coding ini juga sudah dilengkapi koneksi internet, perpustakaan digital dan aplikasi bimbingan belajar online. Segala fasilitas itu ditujukan agar proses belajar menjadi menyenangkan dan interaktif. Anak-anak pun bisa belajar menghadapi berbagai persoalan, terutama matematika untuk melatih logika mereka dalam berpikir dan memahami coding. Dengan memahami coding, para pelajar Indonesia ini mempunyai bekal untuk meraih keahlian di bidang TI. Hal tersebut bisa menjadi pintu bagi mereka untuk belajar lebih jauh lagi, dan kelak menjawab kebutuhan perusahaan-perusahaan berbasis TIK dalam mencari tenaga ahli. Maka kemudian, dengan sendirinya, daya saing sumber daya muda Indonesia bidang IT di kawasan ASEAN dan bahkan global pun bisa meningkat, sesuai dengan paparan, sekaligus harapan, pada awal tulisan ini.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " "Coding", Kunci Peningkat Daya Saing Indonesia", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/16/08110061/-coding-kunci-peningkat-daya-saing-indonesia.
Penulis : Latief
Editor : Sri Noviyanti
 https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/16/08110061/-coding-kunci-peningkat-daya-saing-indonesia

Mengap coding ?
Coding merupakan  ilmu untuk melatih struktur berpikir dalam era digital. Ini sama pentingnya dengan  baca. tulis, hitung (calistung).

Coding  mengandaikan  pintar  Matematika.
Hasil Survey PISA 2015 menempatkan Indonesia  pada peringkat 63 dari 72 negara. Wow.....

Coding itu kunci Menengok sejenak ke tahun 2017, Anda masih ingat Yuma Soerianto, bocah keturunan Indonesia berusia 10 tahun yang sukses membuat lima aplikasi dan diundang ke acara Worldwide Developers Conference (WWDC) di San Jose, AS? Saat masih berusia 6 tahun, Yuma merasa bahwa pekerjaan rumah yang diberikan guru di sekolahnya kurang menantang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " "Coding", Kunci Peningkat Daya Saing Indonesia", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/16/08110061/-coding-kunci-peningkat-daya-saing-indonesia.
Penulis : Latief
Editor : Sri Noviyanti
"Coding", Kunci Peningkat Daya Saing Indonesia Latief

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " "Coding", Kunci Peningkat Daya Saing Indonesia", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/16/08110061/-coding-kunci-peningkat-daya-saing-indonesia.
Penulis : Latief
Editor : Sri Noviyanti
"Coding", Kunci Peningkat Daya Saing Indonesia Latief

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " "Coding", Kunci Peningkat Daya Saing Indonesia", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/16/08110061/-coding-kunci-peningkat-daya-saing-indonesia.
Penulis : Latief
Editor : Sri Noviyanti

Minggu, 08 April 2018

KRITIK KI HAJAR DEWANTARA TERHADAP SISTEM PENDIDIKAN BARAT

KRITIK KI HAJAR DEWANTARA TERHADAP SISTEM  PENDIDIKAN BARAT

https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat

Note:
Pendidikan Barat terlalu material?
Perguruan Taman Siswa  belajar dari Montessori   (Itali)  dan Tagore (India)?



K
 
ritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat Bondhan Kresna W. Kompas.com - 09/04/2018, 08:00 WIB Ilustrasi Ki Hajar Dewantara Ilustrasi Ki Hajar Dewantara(Kompas/Toto S) Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK, ataupun SD yang berlabel “Montessori”. Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori (1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya, metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya Montessori. Apakah benar demikian? Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia. Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP), versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah. Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi, dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi, atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa. Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan. Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah. Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini. Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun 1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori. Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama. Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru.” Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional” yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan masih hidup dalam masyarakat. Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak, terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan panca-inderanya. Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar “semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.” Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis. Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!” Pendidikan Dikhianati Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan pendidikan spiritual. Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya menurut saya. Pendidikan "dikhianati" tujuannya bukan untuk membuka batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah negeri atau swasta. Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar (materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas (materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya (materi lagi). Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang (lagi-lagi materi). Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah, rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir semua materi yang diajarkan di sekolah. Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan. Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge” atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan hutang seumur hidup. Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya (What?!, materi lagi)…

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Bondhan Kresna W. Psikolog Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat Bondhan Kresna W. Kompas.com - 09/04/2018, 08:00 WIB Ilustrasi Ki Hajar Dewantara Ilustrasi Ki Hajar Dewantara(Kompas/Toto S) Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK, ataupun SD yang berlabel “Montessori”. Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori (1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya, metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya Montessori. Apakah benar demikian? Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia. Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP), versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah. Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi, dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi, atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa. Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan. Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah. Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini. Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun 1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori. Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama. Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru.” Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional” yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan masih hidup dalam masyarakat. Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak, terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan panca-inderanya. Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar “semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.” Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis. Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!” Pendidikan Dikhianati Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan pendidikan spiritual. Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya menurut saya. Pendidikan "dikhianati" tujuannya bukan untuk membuka batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah negeri atau swasta. Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar (materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas (materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya (materi lagi). Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang (lagi-lagi materi). Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah, rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir semua materi yang diajarkan di sekolah. Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan. Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge” atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan hutang seumur hidup. Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya (What?!, materi lagi)…

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Bondhan Kresna W. Psikolog Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat Bondhan Kresna W. Kompas.com - 09/04/2018, 08:00 WIB Ilustrasi Ki Hajar Dewantara Ilustrasi Ki Hajar Dewantara(Kompas/Toto S) Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK, ataupun SD yang berlabel “Montessori”. Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori (1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya, metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya Montessori. Apakah benar demikian? Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia. Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP), versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah. Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi, dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi, atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa. Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan. Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah. Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini. Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun 1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori. Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama. Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru.” Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional” yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan masih hidup dalam masyarakat. Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak, terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan panca-inderanya. Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar “semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.” Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis. Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!” Pendidikan Dikhianati Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan pendidikan spiritual. Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya menurut saya. Pendidikan "dikhianati" tujuannya bukan untuk membuka batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah negeri atau swasta. Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar (materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas (materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya (materi lagi). Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang (lagi-lagi materi). Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah, rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir semua materi yang diajarkan di sekolah. Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan. Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge” atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan hutang seumur hidup. Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya (What?!, materi lagi)…

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat", https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/09/08000081/kritik-ki-hajar-dewantara-terhadap-sistem-pendidikan-barat.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko