1. PRAPTI WAHYUNINGSIH : MENGUBAH KEKURANGAN MENJADI KELIMPAHAN
https://www.youtube.com/watch?v=mSCP_ppyE54
Kita sering bertemu dengan bnayak orang yang mengeluh bahwa hidupnya paling menderita, hidupnya yang paling pahit. Segala macam bnayak hal yang dia rasakan. Dia merasa kecewa dan bahkan ada orang yang marah kepada Tuhan. Berikut ini, kita belajar dari 2 perempuan hebat, Prapti dan Taria. Kalau kita mendengar kisah mereka, seakan-akan penderitaan mereka tidak berakhir. Tapi apakah mereka kemudian patah semangat? Bahkan mereka kemudia tidak berbuat apa-apa? Kita kan mendengar bagaimana mereka bukan hanya mampu bangkit tetapi bagaimana mereka menginspirasi banyak orang, memberikan manfaat bagi diri sendiri dan banyak orang. Siapa mereka dan apa yang mereka lakukan, kita mulai dari sosok yang pertama, Prapti Wahyuningsih dan sosok kedua adalah Taria.
Prapti Wahyningsih adalah perempuan bermental emas. Saat itu tahun 1978. Ia diberikan "bonus" dari Tuhan. Saat kecil dia ditinggalkan atau dibuang ibu kandungnya di pinggiran suatu rumah sakit , yaitu RS Jebres. Sekarang berubah menjadi RS Muwardi. (Penelururan saya, SR Moewardi berada di daerah Surakarta / Solo, Jawa Tengah). Saat lahir berat madannya 1 kg 1 ons. Selain ditinggal orang tua kandung, Prapti mendapat modus lain yakni, menserita ketidaksempurnaan fisik, yakni pincang karena sakit saat berumur 4 bulan, saat itu ia panans tinggi, lalu dibawa ke Rumah Sakit. Pihak rumah sakit mennawarkan 2 opsi, disuntik dengan resiko sehat, hidup tapi cacat, tidak disuntik dengan resiko mati. Orang tua angkat Prapti memilih opsi pertama, disuntik tapi dengan resiko cacat (lumpuh). "Bonus" berikut yang diterima Prapti dari Tuhan adalah dia menderita kanker payuudara. Selain itu menderita glukoma pada mata kanaknya. Saraf mata kanannya mati. Bukan hanya itu, "bonus" lain yang dia dapatkan dalam pengalaman hidupnya adalah dia mendapat pelecehan seksual. Tetapi soal ini dia memilih untuk memaafkan dan berdamai serta melupakan masa lalu dan fokus menatap masa depan.
Prapti Wahyuningsih nama perempuan itu. Saat baru dilahirkan ia dibuang ibunya di pinggir jalan sebuah rumah sakit. Ada orang memungutnya lalu dibawa dan dirawat di RS. Dia dirawat selamat 2 minggu di sana lalu ditawar-tawarkan kepada orang untuk mengasuhnya tetapi tidak ada yang mau. Akhirnya petugas rumah sakit (Bidan Suyanti) menawarkannya kepada keluarga sederhana yang tidak memiliki anak. Keluargaa itu menerima. Orang tua angkat Prapti ini orang sederhana. Bapa angkatnya - Mulyo Sastrowardoyo meinggal tahun 2006 karena sakit ashma - seorang tukang kayu, mama angkatnya - Emak Sugem Sastro Mulyanto - seorang buruh cuci atau pekerja serabutan. Orang tua angkat Prapti mencintai Prapti dengan setulus hati. Sekarang usianya sudah 88 tahun ( pada tahun 2023) . Emak Sugem ini sehat dan bersama Prapti berjuang bareng. Prapti sekarang catat karena polio. Saat kecil , berusia 4 bulan, dia demam, panans tinggi. Prapti diantar ke Rumah Sakit. Petugas medis memberikan diagnosa, dalam rangka menyembuhkan Prapti maka harus disuntik tapi dengan resko lumpuh / pincang, bila tidak disuntik maka mati. Orang tua angkat Prapti memilih disuntik. Resikonya Prapti menderita polio sehingga lumpuh / cacat. Sampai saat ini Prapti berusaha mencari orang tuanya tetapi tidak dapat. Prapti tetap mencari dan membawanya dalam doa. Prapti tahu statusnya sebagai anak angkat ketika kelas 3 SD. Ketika itu dia bermain dengan teman. Temannya mengolok dia sebagai orang pincang. Prapti marah lalu menimpuk anak itu dengan batu sehingga luka. Orang tua anak itu marah kepada Prapti: "Dasar anak buangan, dasar anak pungutan, dasar anak haram," demkian kata orang tua teman yang kepalanya terluka. Orang tua angkat Prapti marah kepada tetangga. Mereka berantam saat itu. Tapi kemudian persoalannya selesai. Prapti tumbuh sebagai anak yang serba berkekurangan. Bersama keluarga Bapak dan Ibu Mulyo Sastrowardoyo mereka hanya memiliki 4 piring, 6 sendok dan 3 gelas. Secara fisik dia pincang karena polio . Secara ekonomi juga jauh dari sejahtera. Untuk membeli baju dan sepatu saja susah. Teman-teman sering mengoloknya; "Miskin itu dosa". Karena situasi ini dia tidak menamatkan SD. Lalu dia nekat merantau ke Jakarta. Dia naik KA. Ketika kondektur lewat, dia sembunyi di bawah kolong kursi KA. Dia ke Jakarta. Saat itu dia berusia 13 tahun. Sampai di Jakarta dia bingung dan menderita karena tidak ada uang untuk membeli makan. Lalu dia putuskan pulang ke kampung. Dia baru merantau lagi ketika berusia 18 tahun. Saat itu dia merantau ke Jakarta lalgi, lalu bekerja di Bekasi. Dia bekerja sebagai pembantu. Lalu dia kerja di Pabrik. Saat itu dia perpikir, repot menjadi karyawan (buruh). Ada gaji tapi harga SEMBAKO naik terus. Akhirnya , karyawan tetap miskin terus. Lalu dia berpikir, oh....saya harus meningkatkan ketrmapilan dan skil saya," katanya. Dia belajar. Dia maen sekolah-sekolahan. Lalu setelah itu dia mendirikan sekolah, yaitu Hijau Lestari. Lalu mendirikan Sekolah Rempah Nusantara. Dia bukan hanya menderita pilio (lumpuh) tapi juga kanker payu udara. Dia hampir bunuh diri. Tapi gagal karena ada orang yang memanggil namanya. Biaya pengobatan menurut dokter Rp 50 juta. Dalam situasi itu , dia rencana gantung diri. Tapi gagal karena ada orang telepon yang mengabarkan bahwa ada uang utuk operasi kanker payu udara. Operasi bejalan lancar. Bukan hanya itu Prapti juga menderita Glukoma. Mata kanaknya rusak berat. Syaraf-syarafnya mati. Saat seperti itu , Prapti tampak marah kepada Tuhan, karena semua penyakit dan penderitaan dilimpahkan kepadanya. Tapi kemudiaan , dia berubah pikiran bahwa dirinya berarti. Selain sakit -sakit di atas, Prapti juga pernah diperkosa, mendapat pelecehan seksual. Tapi dia lebih memilih untuk untuk memaafkan daripada mendendam. Prapti sekarang fokus mengolah pendidikan. Dia menggagas Visi sekolah yakni PANCA DASAR SEKOLAH LINGKUNGAN LESTARI , yaitu: 1). Menganal kebutuhan hidup, 2). Berpikir panjang, 3). Berbagi , 4). Tahu Diri, 5). Penerimaan. Kelima hal ini mencakup peradaban manusia. Sekolah Hikau Lestari didirikan tahun 2006. Sekolah Hijau Lestari merupakan sekolah informal. Di sekolah ini diajarkan kemapuan kepada anak-anak seperti membaca, menulis, menggambar, menari, mengaji dan Bahasa Inggris. Selain itu, juga mengajarkan ketrampilan kehidupan. Sekolah ini ini juga fokus mengolah sampah. Selain mendirikan sekolah Hijau Lestari, Prapti juga menggagas Sekolah Rempah Nusantara yang fokus menangani rempah-rempah di Nusantara.
Hal yang mendorong Prapti untuk berubah, pindah ke kota adalah : Bosan miskin.
Prapti miskin dalam banyak hal. Sudah jelek, tidak punya pakian, tidak punya sepatu, tidak punya tas, tidak punya lemari. Anak kecil pada jamannya bilang, miskin itu dosa.
Dalam menjalani kehidupan, terutama ketika merenungkan situasi penderitaan, Prapti sempat berpikir marah kepada Tuhan, Tuhan ini nyeselin banget deh. Semua ujian ditumplekin ke saya" katanya. Tetapi kemudian dalam perenungannya dia berubah pikiran: "Masya Allah, ternyata Allah itu pengagum saya dan saya dipilih jadi kerabat dekatnya," demikian tuturan Prapti.
2. . TARIA NINGSIH
Taria dilahirkan kurang sempurna. Kaki sebelahnya panjang. Taria berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi. Taria menjadikan pengalamannya sebagai titik star untuk menolong kaum diabilitas. Dia mendirikan Yayasan untuk Penyandang Disabilitas. Taria sendiri kuliah S1, S2 di bidang pendidikan di bidang disabilitas. Dia lagi kuliah S1 pendidikan Disabilitas di UNJ Yogyakarta. Bagaimana mungkin anak orang miskin bisa kuliah samapai S3? Taria pintar. Dia percaya pada keajaiban Allah. Dia mendapat beasiswa. Dia tidak mengerluarkan uang dari keluarga sejak kuliah S1 - S3. Untuk perasional sekolah Taria mengutang. Dia seperti Lilin, menerangi orang tapi membakar diri sendiri.
JPS, 15 Nov. 2023.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar